TULUNGAGUNG - Patah hati akibat berakhirnya hubungan, menjadi salah satu pemicu terlantarnya pengerjaan tugas akhir atau skripsi. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi lantaran terdapat gejolak psikologis pada seseorang yang mengalami patah hati.
Pengamat psikologi, Nuzulunni’mah mengatakan, usia dewasa yakni awal sekitar 20 hingga 25 tahun merupakan fase ketertarikan dengan lawan jenis. Tak ayal pada usia tersebut banyak yang telah menjalani hubungan kekasih ke jenjang lebih serius. “Hubungan dengan lawan jenis itu membuat mereka bahagia seperti sudah mencapai pada tataran tertentu. Momennya itu ketika bisa saling mengungkapkan rasa cinta satu sama lain,” jelasnya, kemarin (17/5).
Indahnya jatuh cinta bisa saja sekejap hilang akibat pengalaman pahitnya patah hati. Faktor kehilangan tersebut memberikan dampak signifikan pada kondisi psikologis sesorang. Hal tersebut yang melatarbelakangi seorang mahasiswa cenderung terlambat mengerjakan tugas akhir atau skripsi. “Ya seperti menarik diri, tidak ada nafsu makan, menangis, dan malas untuk mengerjakan suatu hal yang sudah menjadi tugasnya,” ucapnya
Dalam hal ini, terdapat perbedaan dalam pelampiasan emosi berdasarkan jenis kelamin seseorang. Jika perempuan yang mengalami patah hati, maka dapat menceritakan hal yang dialaminya tersebut ke teman sebayanya. Namun, laki-laki justru lebih tertutup untuk urusan asmaranya. “Laki-laki itu kalau berkumpul dengan temannya, kebanyakan membahas mengenai hobi daripada membicarakan pandangan. Karena merasa kehilangan itu yang menjadi penghalang, karena tidak bisa melihat ke depan,” paparnya.
Kendati demikian, pengalaman patah hati tersebut banyak sekali pembelajaran pendewasaan di dalamnya. Adanya proses mengikhlaskan merupakan fase pendewasaan bagi seseorang. “Sebenarnya banyak sekali pendewasaan pada pengalaman sakit hati itu. Salah satunya ya mengikhlaskan,” ungkapnya.
Kemudian, waktu pemulihan ketika mengalami patah hati dalam psikologis dapat ditanggulangi dengan strategi coping stress. Strategi coping stress merupakan suatu usaha untuk melakukan adaptasi diri terhadap problema psikologis sehingga dapat mengurangi atau meminimalisasi kejadian atau keadaan yang penuh tekanan tersebut. “Mungkin waktu 1 bulan itu sudah rentang waktu yang optimal untuk proses mengikhlaskan. Kalau lebih dari 6 bulan itu bisa menjadi sesuatu yang berbahaya,” tutupnya.
Sementara itu, mahasiswa semester akhir, Mohammad Ikram, mengaku telah 2 tahun ini pengerjaan tugas akhir atau skripsinya mangkrak. Pengalaman patah hati akibat ditinggal kekasihnya menikah, menjadi faktor penghambatnya dalam mengerjakan tugas akhir tersebut. “Sebenarnya banyak faktor, mungkin salah satu faktor terbesarnya karena itu,” tandasnya. (ziz/c1/din/rka)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana