KABUPATEN BLITAR - Dua warga Bumi Penataran yang sebelumnya berstatus suspek rabies dipastikan telah sembuh. Itu setelah mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR). Dinas kesehatan (dinkes) kini mengintensifkan pemantauan kasus yang sejak awal tahun lalu mengalami peningkatan di Indonesia.
Kasus tersebut terdeteksi pada dua orang perempuan berusia 45 dan 65. Mereka awalnya digigit kucing. Setelah sepekan, kucing tersebut mati. Warga Kecamatan Wonotirto dan Kecamatan Srengat itu pun akhirnya melakukan pemeriksaan ke rumah sakit dan disuntik VAR.
“Khawatir karena hewan (kucing) yang semula mengigit itu mati. Awalnya tidak merasakan gejala, seminggu setelahnya baru ke rumah sakit,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Blitar dr Christine Indrawati, kemarin (29/6).
Efek penyakit rabies memang tak langsung terasa. Beberapa gejala seperti demam, sakit kepala, kelebihan air liur, kejang otot, kelumpuhan, dan kebingungan mental, umumnya muncul setelah masa inkubasi. Yakni, seusai 4-12 pekan pascagigitan.
“Sayangnya, tidak sedikit kasus yang terbaikan, karena dianggap biasa. Padahal harus segera ditangani medis,” imbuhnya.
Secara umun, terdapat beberapa hewan penyebar rabies. Yakni, anjing, kucing, monyet, dan kelelawar. Di Kabupaten Blitar tidak banyak masyarakat yang memelihara hewan potensial rabies, sehingga kasus masih sangat minim, berbeda dengan masyarakat Bali yang mayoritas banyak memelihara anjing.
Sebagai antisipasi, masyarakat yang memelihara hewan-hewan tersebut bisa mengakses layanan vaksin rabies. Yakni, di klinik veteriner dinas peternakan dan perikanan (disnakkan), atau praktik dokter hewan. “Di Blitar banyak pemelihara kucing. Prevalensi kasus tersebut juga rendah,” tutur perempuan berkacamata itu.
Christine mengimbau, masyarakat yang mendapat gigitan anjing atau kucing agar segera membersihkan luka dengan air mengalir. Kemudian, diolesi disinfektan dan berkonsultasi ke rumah sakit untuk mendapatkan VAR.
“VAR sifat bukan untuk menambah imun. Vaksin ini diberikan pada orang yang kena gigitan, bukan orang sehat lalu divaksin,” tandasnya. (luk/hai)
Editor : Doni Setiawan