Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Anemia Pada Remaja Juga jadi Pemicu Stunting

M. Luki Azhari • Sabtu, 5 Agustus 2023 | 05:00 WIB
JAGA KONDISI: Sejumlah remaja putri SMK pulang bersama-sama saat jam pembelajaran rampung, kemarin (3/8).
JAGA KONDISI: Sejumlah remaja putri SMK pulang bersama-sama saat jam pembelajaran rampung, kemarin (3/8).

KOTA BLITAR - Kasus stunting menjadi salah satu fokus penanganan serius Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar untuk mewujudkan Kota Sehat dengan predikat Swasti Saba Wistara tahun ini. Lahirnya bayi stunting atau gizi buruk rupanya terbentuk sejak orang tua berusia remaja mengidap anemia.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar Agus Sabtoni menegaskan telah melakukan pemantauan secara masif terhadap remaja putri yang masih duduk di bangku kelas VII dan X secara rutin setiap tahun. Hasilnya, 40 persen dari total remaja putri yang diperiksa menderita anemia.

“Agak mencengangkan di Kota Blitar, 40 persen remaja anemia dari keseluruhan yang diperiksa lebih dari 10 ribu pelajar. Jumlahnya kurang lebih sekitar 5 ribu remaja,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (3/8).

Untuk diketahui, anemia merupakan kondisi saat jumlah sel darah merah dalam tubuh lebih rendah dari jumlah normal. Ketika sel darah merah dalam tubuh sedikit, maka tubuh tidak dapat menerima oksigen dengan cukup.

Kasus stunting juga tidak serta-merta terjadi. Stunting berawal dari remaja putri yang anemia. Ketika sudah menikah dan hamil dalam kondisi tersebut, bukan tidak mungkin akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.

“Ibu dengan kondisi kesehatan yang kurang baik seperti itu, maka akan jadi ibu KEK (kekurangan energi kronis),” jelasnya.

Ibu hamil (bumil) dengan status energi yang minus secara umum akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Meski begitu, upaya pencegahan stunting bisa dilakukan hingga anak berusia 2 tahun.

“Yang kami tangani tentu mulai pemantauan dari remaja, calon pengantin, sampai menikah, hamil, melahirkan, dan bayinya, kami monitor,” tuturnya.

Dia mengaku telah berkoordinasi dengan dinas pendidikan (dispendik) dan Kementerian Agama (Kemenag) sebagai langkah awal penanganan stunting. Yakni dengan mendistribusikan obat tablet tambah darah kepada remaja putri. Itu untuk meminimalisasi kasus anemia sekaligus potensi bayi kerdil pada beberapa tahun mendatang.

“Pemantauannya melalui petugas UKS (unit kesehatan sekolah), akan diketahui perkembangan kondisi anemia apakah menurun,” tandasnya.

Untuk diketahui, kasus stunting di Bumi Bung Karno tahun ini tercatat 5,7 persen. Jumlah itu naik 0,4 persen dari tahun lalu yang hanya di angka 5,3 persen. Penanganan penyakit tersebut bukan hanya oleh dinkes, melainkan juga melalui lintas sektor. Pemerintah pusat menargetkan kasus stunting pada 2024 mendatang maksimal 14 persen. (luk/c1/ady)

Editor : Doni Setiawan
#anemia #pemicu stunting #kasus stunting #pemkot #gizi buruk