KOTA BLITAR - Wilayah Bumi Bung Karno mulai memasuki musim kemarau. Kondisi ini rawan penyebaran sejumlah penyakit. Seperti di antaranya, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) serta diare.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar Dharma Setiawan menyatakan, beberapa waktu terakhir sejumlah daerah di Jawa Timur (Jatim) mengalami transisi dari musim penghujan ke kemarau. Imunitas tubuh pun bisa dengan mudah menyusut jika tak cermat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). “Kami imbau masyarakat pertahankan pola hidup sehat untuk meminimalisasi penyakit,” ungkapnya.
ISPA disebabkan oleh paparan asap dan debu saat musim kemarau. Kondisi ini bisa terjadi karena minimnya penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker saat keluar rumah. Sepanjang periode Januari-Mei lalu, tak kurang 6.758 kasus penyakit ISPA terdeteksi di Kota Blitar. Dari jumlah tersebut, sekira 2.364 kasus menyerang masyarakat rentang usia 9 hingga 60 tahun.
Penyakit diare, lanjut Dharma, tak mengenal musim. Bakteri penyebab diare bisa menjangkiti saat musim penghujan ataupun kemarau. Salah satunya melalui makanan yang terkontaminasi bakteri dan kurang higienis. Selain itu, infeksi rotavirus juga menjadi penyebab umum diare pada bayi dan anak-anak. “Pancaroba paling kami lihat berupa kondisi perubahan drastis antara hawa dingin ke panas yang membawa dampak pada status kesehatan,” jelasnya.
Dinkes meminta masyarakat segera mengakses layanan kesehatan di puskesmas, klinik, ataupun rumah sakit apabila mengalami sejumlah gejala diare. Misalnya, saat buang air besar (BAB) feses lebih encer, mual dan muntah, serta perut terasa nyeri.
Penggunaan masker bisa menjadi proteksi diri dari sebaran ISPA. Masyarakat dianjurkan mengenakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. “Kalau flu pakai masker supaya tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain,” tandasnya. (luk/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan