TULUNGAGUNG - Beberapa tahun terakhir belakangan ini ramai seputar Kesehatan mental atau biasa disebut dengan mental health. Sikap sombong juga ternyata adalah sikap dan karakter yang baik menurut hal psikologi.
Sikap sombong yang biasa orang anggap sebagai sikap yang tidak baik dan kurang baik diterapkan dalam melakukan aktivitas sosial.
Padahal dalam hal medis, sikap tersebut baik dan bahkan perlu untuk setiap orang memiliki sikap tersebut.
Manusia yang memiliki beberapa emosi untuk setiap orangnya itu juga hal yang wajar serta bisa dianggap sehat dalam hal kesehatan mentalnya.
“Emosi itu ada dari beberapa macam jenis. Jadi rupanya waktu diperiksa otak kita ini setiap jenis emosi ada frekuensinya. Paling rendah itu emosi jenis apati. Apati itu Cuma 50Hz, diatas apati sedih” Jelas dr. ‘aisah Dahlan dalam beberapa podcast dan seminarnya.
Apati sendiri adalah sikap atau rasa putus asa. Seseorang yang merasa hidup mereka tidak ada gunanya dan merasa hidup mereka tidak berharga. Sikap seperti itu wajar dan pasti dimiliki oleh setiap orang.
“Sebenarnya sikap atau sifat yang lebih rendah dari apati itu ada, tetapi sudah bukan level normatif ya. Yaitu namanya depresi. Depresi itu cirinya sudah au menyakiti diri,” lanjutan dari penjelasan dr. ‘aisah Dahlan.
Penjelasan mengenai sikap emosi sombong sendiri memiliki kedudukan yang paling tinggi kedua setelah sikap atau emosi positif.
Untuk emosi yang paling bahaya berada pada tahapan paling bawah dan menjadi emosi yang bisa mendekati depresi.
Untuk tangga tingkatan emosi sendiri dikelompokan dalam dua aspek. Ada emosi negatif dan emosi positif. Emosi negatif memiliki aspek apati (50Hz), sedih (75Hz), Takut (100Hz), Rakus (125Hz), marah (150Hz), sombong (175Hz).
Pada tahap emosi sombong manusia mulai dalam tahap pemulihan dari emosi negatif menuju emosi positif.
Untuk emosi positif yang ada dalam diri manusia sendiri terdiri dari aspek semangat (200Hz), Menerima (350Hz), damai (600Hz), Pencerahan (700-1000Hz). Keadaan emosi positif, juga bisa disebut dengan sikap ikhlas.
Orang yang memiliki emosi negatif atau dalam tahap depresi bisa sembuh dengan melalui terapi meluapkan emosi tersebut.
Proses peluapan emosi tentu melalui hal baik pula, bisa dengan bercerita dan di dengar.
Sedangkan untuk orang introvert bisa meluapkan emosi melalui menulis, melukis, menggambar atau menyendiri dan bercerita dengan diri sendiri.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra