TULUNGAGUNG - Jumlah kasus remaja yang positif HIV/Aids atau orang dengan HIV/Aids (Odha) di Kabupaten Tulungagung mencapai ratusan kasus. Rata-rata mereka memiliki usia rentang 16 hingga 25 tahun.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tulungagung, Ifada Nur Rohmania menjelaskan jumlah kasus HIV/Aids remaja pada 2023 ada 398 kasus.
Namun berkembangnya waktu, pihaknya kembali menemukan puluhan kasus HIV remaja baru selama enam bulan terakhir. Hingga secara akumulatif, jumlah kasus HIV/Aids yang dialami remaja di Tulungagung sejumlah 424 kasus.
Ifada tak menepis bahwa temuan kasus HIV/Aids di Tulungagung merupakan hal yang ironis.
Di satu sisi, mayoritas pemicu kasus HIV/Aids pada remaja akibat pergaulan bebas, selain itu temuan ini lantaran petugas yang gencar melakukan penjaringan HIV/Aids di Kota Marmer.
"Kami memang gencar melakukan penjaringan kasus HIV/AIDS di Tulungagung. Hasilnya, selama 6 bulan terakhir ada tambahan 26 kasus, atau secara akumulasi totalnya menjadi 424 kasus di tahun 2024," jelasnya Sabtu (7/7/2024).
Di sisi lain, mayoritas kasus HIV/Aids ditemukan pada remaja yang masih pelajar, dari jenjang SMP hingga Perguruan Tinggi. Status tersebut memungkinkan penderita belum menikah.
Sebab itu, potensi terserang HIV/Aids lebih tinggi, karena mereka sering bergonta-ganti pasangan.
"Sebenarnya dengan temuan kasus ini, bisa dibilang sangat memprihatinkan, tetapi dengan temuan ini harus ditangani secara tepat," ucapnya.
Kemudian untuk menghentikan peningkatan kasus HIV/Aid pada remaja, pihaknya secara aktif berkolaborasi dengan lintas instansi maupun lembaga pendidikan di Tulungagung.
Kolaborasi itu sebagai upaya untuk mengedukasi remaja tentang dampak negatif dari berhubungan badan sebelum menikah.
Di sisi lain, pihaknya akan melakukan penjaringan terhadap remaja yang terindikasi memiliki seksual aktif. Penjaringan itu adalah cara untuk memeriksa apakah mereka sudah terjangkit HIV/Aids atau belum.
Apabila remaja dengan kategori itu ternyata positif HIV/Aids, pihaknya akan melakukan pendekatan secara intim agar penderita bersedia menjalani pengobatan.
"Bagi remaja yang belum seksual aktif, kita masih bisa mencegahnya dengan memberikan edukasi. Sedangkan bagi remaja yang sudah aktif secara seksual dan positif HIV, kita tinggal melakukan pendekatan agar mereka mau berobat," pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra