TULUNGAGUNG - Maraknya kasus judi online (judol) di tengah masyarakat menurut kacamata psikologi, orang yang ketagihan judol terindikasi penyakit mental.
Psikolog Tulungagung, Ifada Nur Rohmania mengatakan, berapa waktu lalu dia menangani dua klien yang ketagihan judi online. Sebab, kliennya tersebut telah menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk memainkan judi online melalui gawainya.
Ludesnya puluhan juta rupiah membuat kliennya tersebut berkeinginan untuk berhenti memainkan judi online. Bahkan rasa candu terhadap judi online juga berimbas ke rumah tangga yang tidak harmonis.
Menurutnya kliennya ini kerap terlibat cekcok dengan istrinya akibat ketagihan bermain judi online.
"Tahun ini ada dua klien saya yang ingin lepas dari jeratan judol. Satu klien saya itu bahkan kerap cekcok dengan istrinya, sedangkan satunya lagi masih usia pelajar dan kerap meminta uang ibunya untuk bermain judol di ponselnya," jelasnya Rabu (10/7/2024).
Berdasarkan kacamata psikologi, kondisi berkeinginan untuk bermain judi online justru mengarah ke dugaan adanya penyakit mental. Sebab, permain judi online kerap menimbulkan efek adiksi bagi pemainnya.
Tentu kondisi ini membuat pemain judi online akan terus memainkan permainan tersebut demi mendapatkan untung.
Permain judi online sendiri tidak hanya mengadu kemenangan maupun kekalahan. Pasalnya pemain judi online ada yang nekat menghabiskan seluruh tabungannya hingga terlilit utang demi mendapatkan keuntungan.
Apabila hal ini terus berulang, maka dikhawatirkan dapat menimbulkan efek depresi hingga berujung nekat bunuh diri.
"Pelaku judol ini jika terus dibiarkan, bisa mengakibatkan mereka mudah marah, berantem dengan keluarga atau istrinya, terlilit hutang hingga bunuh diri. Bahkan judol sendiri juga tidak pandang bulu, dimana semua orang dari berbagai golongan bisa terjerat," ucapnya.
Kemudian untuk penanganannya, pemain judi online yang sudah tidak bisa mengendalikan hasratnya untuk bermain harus segera konsultasi ke psikolog maupun psikiater. Pasalnya pemain judi online tidak akan berhenti jika hanya diberitahu.
Lantaran di alam bawah sadarnya, pemain judi online sadar apa yang dilakukannya itu salah.
Mendapati hal tersebut, peran keluarga sangatlah penting untuk membantu korban judi online untuk dapat berhenti. Sebab, kondisi otak dari korban judi online menjadi impulsif karena beranggapan bisa saja menang setelah bermain lagi.
"Jalan satu-satunya cuma melalui perawatan dengan psikolog dan psikiater. Maka dari itu, peran keluarga untuk mengawasi anggota keluarganya juga penting, agar mereka bisa segera ditangani saat bermain judol dan tidak berakibat fatal," pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra