TULUNGAGUNG - Adanya pergerakan gelombang atmosfer menyebabkan berbagai fenomena alam. Salah satu dampaknya, terjadi cuaca terik yang berpotensi menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat.
Belakangan, hujan dengan intensitas sedang mulai terjadi di Tulungagung. Tapi, berdasarkan pengamatan BMKG, musim penghujan di wilayah Jatim baru akan terjadi di pertengahan bulan ini.
Forecaster Stasiun Klimatologi BMKG Karangkates, Andang Kurniawan mengaku, pergerakan gelombang atmosfer berpotensi menimbulkan hujan secara merata di wilayah Jatim.
"Tapi, ini belum mulai hujan. Masih proses peralihan," sebutnya.
Salah satu dampaknya, kata Andang, potensi munculnya cuaca terik justru akan meningkat. Sebab, pergerakan atmosfer yang bertemu dengan kelembapan tinggi di permukaan daratan akan meningkatkan suhu udara. Akibatnya, cuaca di siang hari terasa lebih menyengat dan terik.
"Itu karena panas akan terasa lebih menyengat kalau disertai dengan kondisi lembab. Kalau panas saja tapi tidak lembab ya tidak akan terasa (panas, Red)," katanya.
Poin penting yang patut dijadikan perhatian adalah, peningkatan suhu dan munculnya cuaca terik bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Kali Jenes Tulungagung Bakal Dipersolek, Ini yang Direncanakan Pemkab Tulungagung
Salah satunya adalah heat stroke alias serangan panas. Kondisi ini bisa terjadi bila tubuh tak bis beradaptasi dengan paparan hawa panas luar ruangan.
Diprediksi, kondisi ini masih akan terjadi hingga pertengahan bulan ini. Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat mewaspadai berbagai dampak perubahan musim bagi kesehatan.
Beberapa di antaranya dengan mengurangi aktivitas luar rumah disiang hari, memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik, dan menggunakan pelindung tubuh jika harus beraktivitas di luar ruangan di siang hari.
“Ini belum memang belum bisa dikatakan masuk penghujan. Sesuai prediksi BMKG, peralihan musim baru akan terjadi di pertengahan bulan ini. Itu ditandai dengan adanya konsistensi turunnya hujan selama sebulan," ujarnya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana