RADAR TULUNGAGUNG - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau Food and Mouth Disease (FMD) masih ditemukan di Tulungagung.
Bahkan diperkirakan ada puluhan hewan ternak terutama sapi di Tulungagung yang terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2024.
Baca Juga: Jujukan Pedagang Ikan dari Berbagai Daerah, Inilah Potret Pasar Ikan Bandung Tulungagung
Bagaimana cara pencegahan berikut penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)?
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof drh R Wasito, MSc, PhD mengatakan, selain potensi kerugian ekonomi yang diakibatkan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), tentu saja ada kerugian lain yang mengancam pada hewan ternak itu sendiri dalam waktu yang panjang.
Seperti sapi yang sembuh pun dapat mengalami infeksi persisten.
Baca Juga: Lowongan Pekerjaan di Tulungagung, Gaji di Atas UMR!
“Sapi yang sudah sembuh bisa mengalami infeksi persisten, akibatnya sapi yang tampak sehat bisa menjadi carrier virus PMK sampai dengan 3-6 bulan bahkan lebih” terangnya sepeerti dikutip dari faperta.ugm.ac.id.
Prof Wasito menjelaskan bahwa Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit akut yang cepat menular dan sangat infeksius yang dapat menyerang ruminansia.
Baca Juga: Ngeri, Segini Jumlah Kasus Laka Lantas di Trenggalek
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dapat menyebar melalui berbagai cara, yaitu kontak langsung antara hewan yang sehat dengan hewan yang terjangkit (melalui droplet, leleran hidung, serpihan kulit), penyebaran melalui angin, penyebaran melalui pakan yang terkontaminasi virus, dan penyebaran melalui manusia.
"Masa inkubasi virus tersebut berkisar antara 2-14 hari sejak tertular hingga muncul gejala klinis," jelas Prof Wasito.
Baca Juga: Jangan Ngaku Cah Tulungagung Kalau Belum Ngopi di 3 Tempat Legendaris Ini
Beberapa gejala yang umum terjadi pada hewan yang terjangkit PMK adalah demam hingga 41°C, air liur berlebihan, nafsu makan berkurang, hewan lebih sering berbaring, dan luka pada kuku hingga kuku lepas.
Virus yang menyebabkan penyakit PMK ini, memiliki sifat mudah rusak pada suhu 50 ° C. Jadi jika daging dipanaskan pada suhu minimum 70° C selama setidaknya 30 menit akan dapat menonaktifkan virus.
Virus ini juga mudah rusak pada pH <6.0 atau >9.0 dan inaktif dengan natrium hidroksida (2 persen), natrium karbonat (4 persen), asam sitrat (0,2 persen), asam asetat (2 persen), natrium hipoklorit (3 persen), kalium peroksimonosulfat/natrium klorida (1 persen), dan klorin dioksida.
Sementara itu peneliti pusat riset veteriner drh Harimurti Nuradji, PhD mengungkapkan, ada tiga prinsip dasar yang dapat dilakukan.
Baca Juga: Meski Letaknya Tersembunyi, Pasar di Kabupaten Tulungagung Ini Bisa Jadi Surga Bagi Pecinta Otomotif
Yaitu mencegah kontak antara hewan ternak dan virus PMK, menghentikan produksi virus PMK oleh hewan tertular, dan meningkatkan resistensi/kekebalan hewan ternak.
Selain tiga prinsip dasar tersebut tentu dalam pengendalian penyakit ini dibutuhkan upaya dari segala pihak untuk saling bekerja sama.
“Upaya pengendalian PMK tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, semua harus terlibat baik akademisi, masyarakat, peternak, petani, dll. untuk bekerja sama dalam mengendalikan PMK. Paling tidak kita bisa meminimalisir jumlah penyebaran penyakit PMK dan mengembalikan status Indonesia sebagai free-FMD Countries,” ungkapnya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana