Radar Tulungagung - Dalam salah satu episode podcast Deddy Corbuzier di Podhub, Ade Rai berbagi pandangan menarik tentang hubungan antara pola makan, kesehatan, dan perilaku manusia.
Ia menyoroti pergeseran masalah kesehatan dari masa ke masa. "Kalau dulu orang sakit karena kekurangan makan, sekarang orang sakit karena kebanyakan makan," ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan gaya hidup modern yang sering kali menyebabkan konsumsi makanan berlebih, terutama makanan yang kurang sehat.
Ade Rai menawarkan solusi sederhana namun efektif: kurangi jumlah makan dan atur waktu makan melalui praktik seperti intermittent fasting.
Ia menjelaskan bahwa dengan mengurangi jendela makan menjadi 12-13 jam sehari, tubuh dapat mengalami manfaat kesehatan yang signifikan. "Kalau kita kurangi 12 sampai 13 jam itu disebut intermittent fasting," tambahnya.
Intermitten Fasting ini juga termasuk model puasa yang sering digunakan para pemula diet dengan dibarengi defisit kalori dan olahraga.
Selain menjelaskan tentang konsep intermitten fasting, Ade Rai juga menjelaskan tentang autophagy fasting, yang melibatkan puasa selama 18 jam.
Dalam fase ini, tubuh mulai "memakan dirinya sendiri" dengan cara mendaur ulang sel-sel yang rusak.
Proses ini diyakini dapat membantu memperbaiki tubuh secara alami dan mendukung regenerasi sel yang sehat.
Namun, yang paling menarik adalah konsep happiness fasting atau dopamine reset, yaitu puasa selama 48 jam.
Ade Rai menyebutkan bahwa puasa jenis ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tetapi juga emosional dan mental. "Ketika kita bilang, saya orangnya baperan, sensitive, sumbu pendek, atau cepat marah, setelah tidak makan 2 hari, tiba-tiba personalita kita berubah," ungkapnya.
Menurut Ade, perubahan ini terjadi bukan karena kepribadian seseorang benar-benar berubah, melainkan karena tubuh berhenti terpapar racun dari makanan yang biasanya dikonsumsi.
Dalam dua hari tanpa makanan, tubuh mulai membersihkan diri, dan hasilnya adalah perasaan yang lebih baik secara keseluruhan.
Ade Rai mengingatkan bahwa puasa tidak hanya sekadar mengurangi makanan, tetapi juga merupakan cara untuk memahami hubungan antara apa yang kita konsumsi dan bagaimana hal tersebut memengaruhi tubuh dan pikiran.
Dengan mengatur pola makan, kita tidak hanya menjaga kesehatan fisik tetapi juga meningkatkan kesejahteraan emosional.
Melalui penjelasannya, Ade Rai mengajak kita untuk mulai memperhatikan pola makan sehari-hari.
Puasa bukan hanya alat untuk menurunkan berat badan, tetapi juga cara untuk merawat tubuh, membersihkan pikiran, dan bahkan memperbaiki perilaku.
Jadi, yuk Sobat RaTu coba praktikkan puasa yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh kita! (Afi)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz