Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gen Z di Ambang Kelelahan: Apa yang Membuat Mereka Rentan Burnout di Dunia Kerja dan Bagaimana Menyelamatkannya?

Dhiyah Ayu Nur Rahmawati • Selasa, 8 April 2025 | 01:32 WIB
ilustrasi burn out saat di dunia kerja
ilustrasi burn out saat di dunia kerja

Radar Tulungagung - Burnout atau kelelahan akibat stres berkepanjangan menjadi masalah yang semakin mencolok di dunia kerja, terutama di kalangan Gen Z.

Generasi yang baru memasuki dunia kerja ini menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan tuntutan pekerjaan, ekspektasi pribadi, dan tekanan lingkungan yang semakin meningkat.

Faktor-faktor seperti beban kerja yang berlebihan, ketidakjelasan tugas, dan lingkungan kerja yang tidak sehat berkontribusi terhadap fenomena burnout yang semakin meluas.

Dampaknya tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga kesehatan mental jangka panjang para pekerja muda ini.

Menurut Kamus American Psychological Association yang dikutip dari Cleveland Clinic, burnout adalah kelelahan fisik, emosional, atau mental yang disertai dengan penurunan motivasi, kinerja, dan munculnya sikap negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Gejalanya bisa berupa perasaan tidak bahagia, terisolasi, kebingungan, dan hilangnya keyakinan untuk menyelesaikan tugas atau menjadi diri yang diinginkan. Dalam kasus yang lebih ekstrem, burnout bisa mengarah pada depresi dan perasaan tidak berharga.

Wati, seorang pekerja kantoran, mengungkapkan frustrasinya terkait beban kerja yang dirasakannya. Menurutnya, "Gaji kecil mungkin bukan masalah besar, tetapi jika pekerjaan datang dengan jobdesk yang tidak jelas, instruksi yang membingungkan, ditambah dengan lingkungan kerja yang tidak sehat, itu benar-benar membuat saya merasa lelah, tidak hanya fisik tapi juga mental."

Kutipan ini menggambarkan betapa kompleksnya masalah burnout, di mana kondisi mental yang tertekan akibat beban yang tidak terkelola dengan baik, serta kurangnya dukungan sosial di tempat kerja, bisa memperburuk keadaan.

Burnout di kalangan Gen Z dapat dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah beban kerja yang berlebihan dengan waktu kerja yang fleksibel namun tanpa batasan yang jelas.

Di era digital, karyawan sering merasa terhubung 24 jam, sehingga tidak ada pemisahan yang jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Gen Z, yang dikenal dengan kemampuannya beradaptasi dengan teknologi, sering kali merasa tekanan untuk selalu produktif, yang membuat mereka rentan terhadap stres yang berkepanjangan.

Tekanan global yang disebut sebagian orang sebagai permakrisis juga turut berdampak pada pekerja dari segala usia.

Namun, banyak peneliti dan pakar berpendapat bahwa Gen Z adalah kelompok yang paling stres di tempat kerja secara keseluruhan.

Melompat ke karier mereka dalam beberapa tahun terakhir dengan beberapa yang baru saja memasuki dunia kerja selama pandemi telah menempatkan mereka dalam situasi yang sangat sulit.

Menurut survei Cigna International Health tahun 2023 terhadap hampir 12.000 pekerja di seluruh dunia, 91% pekerja berusia 18 hingga 24 tahun melaporkan mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global 84%.

Ini menunjukkan bahwa Gen Z adalah kelompok yang paling stres di tempat kerja.

Data yang sama menunjukkan bahwa hampir seperempat responden Gen Z (23%) mengalami kesulitan dalam mengelola stres, dan hampir semuanya (98%) menghadapi gejala kelelahan.

Burnout bukan hanya masalah individu, tetapi juga tantangan yang perlu ditangani oleh perusahaan. Data survei Deloitte terhadap 1.000 karyawan tetap di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 77% karyawan pernah mengalami burnout, dan lebih dari setengahnya mengalami hal ini lebih dari sekali.

Ini menunjukkan bahwa masalah burnout sangat memengaruhi lingkungan kerja dan produktivitas, dan perlu ada perhatian lebih dari pihak perusahaan untuk menghadapinya.

Perusahaan dapat melakukan berbagai langkah untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah memberikan akhir pekan dan hari libur yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh karyawan untuk beristirahat.

Selain itu, perusahaan juga bisa memperluas program dan manfaat kesehatan, khususnya yang fokus pada kesehatan mental.

Memberikan tujuan dan jalur karier yang jelas kepada karyawan juga penting agar mereka merasa dihargai dan tahu arah pengembangan karier mereka.

Menciptakan budaya pengakuan dan apresiasi di tempat kerja juga sangat berpengaruh dalam mengurangi perasaan burnout, karena karyawan akan merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk bekerja.

Selain itu, perusahaan harus menerapkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, sehingga karyawan bisa memiliki waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan aktivitas lain di luar pekerjaan.

Untuk mengatasi burnout, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan secara pribadi.

Salah satunya adalah evaluasi situasi dan berdiskusi dengan atasan atau orang yang dapat dipercaya untuk menemukan solusi dan mengurangi ekspektasi.

Mengatur prioritas pekerjaan dengan lebih bijak juga sangat penting, karena terkadang kita terlalu ambisius ingin melakukan semuanya sekaligus.

Cari dukungan dari teman atau keluarga untuk meringankan beban dan mencari jalan keluar. Aktivitas menenangkan seperti yoga, meditasi, atau olahraga rutin juga bisa membantu meredakan stres yang menumpuk.

Jangan lupa untuk memberikan waktu istirahat yang cukup bagi tubuh dan pikiran, serta mengurangi konsumsi media sosial yang sering kali memperburuk perasaan.

Burnout adalah fenomena yang semakin sering terjadi, terutama di kalangan Gen Z yang hidup di era digital ini.

Namun, perlu diingat bahwa burnout bisa dialami oleh siapa saja, tidak peduli generasi atau usia. Yang penting adalah kesadaran akan kondisi fisik dan mental, serta memberi waktu untuk beristirahat.

Jika burnout berlarut-larut, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan dari seorang psikolog untuk mendapatkan dukungan yang lebih profesional.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#Gen Z #dunia kerja #burn out #kelelahan