Radar Tulungagung - Pernahkah kamu merasa ingin melarikan diri ke tempat yang jauh, hanya untuk mendapatkan sedikit ketenangan?
Mungkin kamu pernah merasa lelah dengan tekanan hidup yang datang bertubi-tubi, mulai dari konflik pribadi hingga tuntutan pekerjaan yang menggunung.
Banyak dari kita yang merasa bahwa pergi sejenak dari semua itu adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan diri.
Tapi, apakah healing sebenarnya tentang lari dari kenyataan? Atau justru healing adalah tentang berani menghadapi masalah yang selama ini kita hindari?
Self healing seharusnya adalah perjalanan untuk menyembuhkan luka batin bukan dengan menghindari masalah, tetapi dengan meresapi perasaan yang ada dan menerima kenyataan.
Namun, sering kali, kita salah kaprah dan menganggap healing sebagai pelarian dari masalah. Misalnya, berlibur ke tempat jauh dengan alasan healing, padahal sebenarnya kita sedang berusaha melupakan kenyataan sementara waktu. Inilah yang disebut dengan self escaping.
Sering kali, kita mencoba mencari solusi dengan menghindar seolah-olah liburan bisa memberi jawaban untuk masalah yang ada.
Padahal, seperti yang dijelaskan oleh psikolog klinis A. Kasandravati Putranto, self healing lebih dari sekadar jalan-jalan. Itu adalah proses yang mendalam, yang melibatkan pemahaman diri, penerimaan, dan menghadapi ketakutan yang mungkin selama ini kita hindari.
Salah satu pelaku healing, Setiawan, 25, mengaku sering melakukan self healing ketika sedang menghadapi tekanan atau konflik pribadi.
“Aku suka healing ke tempat sepi, atau sekadar ke warung kopi buat duduk dan tenang. Rasanya kayak bisa napas lagi. Tapi kadang cuma tenang sebentar, pas pulang masalahnya masih ada,” ungkap Setiawan.
Pernyataan Setiawan menggambarkan bahwa self healing bisa memberikan rasa lega sementara, tapi belum tentu menyelesaikan akar masalah.
Banyak orang, termasuk kita, sering menggunakan kegiatan healing untuk menunda konfrontasi dengan realita entah itu masalah keluarga, tekanan kerja, atau perasaan terjebak dalam hidup yang tidak sesuai dengan harapan.
Ketika kita memilih untuk menghindar, masalah sebenarnya tidak hilang begitu saja. Menghindari masalah tanpa menyelesaikannya justru bisa memperburuk kondisi mental kita dalam jangka panjang.
Mekanisme pertahanan diri, seperti denial, akan muncul saat kita menolak kenyataan dan berusaha melarikan diri dari konflik atau perasaan tidak nyaman. Pada akhirnya, pelarian ini hanya menambah beban batin yang belum selesai.
Untuk melakukan self healing yang benar-benar efektif, kita perlu cara yang lebih bijaksana. Ini bisa berupa memaafkan diri sendiri, melakukan meditasi untuk menenangkan pikiran, atau membangun rasa kasih sayang terhadap diri sendiri.
Selain itu, menjaga pola hidup yang sehat, seperti makan dengan seimbang, meluangkan waktu untuk diri sendiri, dan menjaga hubungan yang positif dengan orang lain, juga sangat mendukung proses penyembuhan.
Self healing bukan sekadar sebuah perjalanan menuju ketenangan, tetapi juga proses menerima dan berani menghadapi diri kita, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Jadi, ingatlah bahwa healing bukan tentang melarikan diri dari kenyataan, melainkan tentang menghadapinya dengan cara yang lebih sehat dan lebih bijaksana.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz