TULUNGAGUNG – Nyeri sendi tak lagi identik dengan usia lanjut.
Dalam beberapa tahun terakhir, ada peningkatan signifikan kasus gangguan sendi pada usia muda, terutama di rentang usia 25–45 tahun.
Gangguan sendi disebabkan berbagai faktor gaya hidup, mulai dari duduk terlalu lama hingga olahraga berlebihan tanpa teknik yang tepat.
Tanda-tanda gangguan sendi kerap muncul secara halus dan kerap diabaikan oleh masyarakat.
Beberapa gejala umum yang patut diwaspadai meliputi:
1. Rasa nyeri saat menggerakkan lutut, bahu, atau siku.Kekakuan di pagi hari.
2. Bunyi “krek” atau gesekan saat sendi digerakkan.
3. Bengkak atau kemerahan di sekitar persendian.
Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi osteoartritis atau peradangan kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang, ttegasnya
Data dari komunitas Ortopedi Indonesia menunjukkan bahwa beberapa pemicu utama gangguan sendi di usia produktif adalah:
- Kurang aktivitas fisik (sedentary lifestyle).
- Cedera olahraga atau latihan tanpa pemanasan.
- Postur tubuh yang buruk saat bekerja.
- Berat badan berlebih.
- Faktor genetis dan nutrisi yang buruk.
Rekomendasikan langkah pencegahan berikut:
1. Berolahraga secara teratur
Prioritaskan olahraga low impact seperti berenang, jalan cepat, atau yoga.
2. Perhatikan ergonomi kerja
Posisi duduk yang salah dapat memberi tekanan berlebih pada lutut, punggung, dan leher.
3. Jaga berat badan ideal
Setiap kelebihan 1 kg berat badan menambah tekanan hingga 4 kg pada sendi lutut.
4. Konsumsi nutrisi pendukung sendi
Sertakan kalsium, vitamin D, omega-3, dan kolagen dalam pola makan harian.
5. Lakukan pemeriksaan ortopedi secara berkala
Terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga atau pernah mengalami cedera sendi. (rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah