RADAR TULUNGAGUNG - Dalam era digital yang serba cepat dan penuh tekanan, isu kesehatan mental menjadi semakin relevan, khususnya di kalangan generasi Z.
Namun, sering kali istilah seperti anxiety (kecemasan), depresi, dan NPD (Narcissistic Personality Disorder) masih disalahpahami.
Terutama oleh generasi orang tua yang tidak tumbuh dengan akses luas terhadap literasi psikologi.
Baca Juga: Ngobrol dengan Hewan Peliharaan, Ada Manfaat Nyatanya untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Hal inilah yang diangkat dalam podcast Helmy Yahya Bicara bersama narasumber ahli dr Zulvia Oktanida Syarif, Sp. KJ, seorang psikiater.
Dalam diskusi tersebut, dibahas bagaimana gejala-gejala gangguan mental sering tidak dikenali, bahkan cenderung dianggap sepele atau dikaitkan dengan kurang iman dan kurang bersyukur.
“Anxiety dan depresi itu bukan hal yang dibuat-buat. Ada faktor biologis, genetik, hingga lingkungan yang mempengaruhi. Bukan sekadar karena kurang ibadah atau lemah iman,” ujar dr Zulvia.
Baca Juga: 7 Manfaat Lari Jogging di Pagi Hari Bagi Warga Tulungagung untuk Kesehatan Fisik dan Mental
Menurut dr Zulvia, anxiety bukan sekadar gugup biasa. Ini adalah kondisi di mana seseorang mengalami kecemasan berlebih yang sulit dikendalikan, bahkan bisa memicu gejala fisik seperti jantung berdebar, susah tidur, dan sulit berkonsentrasi.
Sementara depresi ditandai dengan perasaan sedih mendalam yang berlangsung lama, kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai, kelelahan, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.
Baca Juga: 8 Rekomendasi Anime yang Paling Relatable untuk Gen Z, Wajib Tonton
Sayangnya, banyak orang tua yang masih menganggap ini hanya sebagai bentuk “drama” atau kurang bersyukur. Padahal, jika tidak ditangani serius, gangguan mental ini bisa berdampak jangka panjang.
“Kalau anak bilang cemas atau depresi, jangan langsung dimarahi atau dibilang lebay. Coba didengarkan dulu. Ini bukan sekadar masalah sepele,” tambah Helmy Yahya, yang juga mengaku pernah mengalami panic attack.
Salah satu istilah yang kini juga populer adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD). Banyak Gen Z yang dengan mudah menyebut dirinya atau orang lain sebagai “narsis,” tapi NPD lebih dari sekadar suka selfie atau percaya diri tinggi.
Menurut Dr. Zulvia, NPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan perasaan superior berlebihan, kurangnya empati, dan kebutuhan besar akan pujian.
Podcast ini juga menyoroti kesenjangan komunikasi antara Gen Z dan orang tua, terutama dalam memahami isu kesehatan mental.
Ketika anak mengeluh mengalami cemas, stres, atau depresi, sebagian besar orang tua cenderung memberikan respons seperti: “Kurang ngaji,” “Kurang berdoa,” atau “Kurang sibuk.”
Padahal, penanganan kesehatan mental membutuhkan pendekatan ilmiah dan empatik, bukan sekadar nasihat normatif.
Tak bisa dimungkiri, media sosial menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menyediakan akses ke informasi psikologi yang luas dan cepat.
Di sisi lain, bisa juga menjadi pemicu kecemasan karena tekanan sosial, perbandingan hidup, hingga overeksposur konten yang tidak sehat.
Editor : Dharaka R. Perdana