RADAR TULUNGAGUNG – Stunting di Tulungagung kini bukan lagi sekadar masalah gizi buruk akibat kemiskinan atau penyakit bawaan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mengungkap bahwa sebagian besar kasus justru dipicu pola asuh orang tua yang keliru dalam memberi makan anak.
Baca Juga: Kasus Stunting Tulungagung Diklaim di Bawah Jawa Timur, Benarkah Demikian?
Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes Tulungagung hingga Rabu (13/8), angka stunting di Kota Marmer ini terlihat menenangkan. Yaitu hanya 5 persen berdasarkan data bulan timbang terbaru.
Prevalensi tersebut jauh di bawah target nasional dan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang mencatat 13,6 persen.
Tapi, di balik grafik yang menurun, ada kenyataan pahit sekaligus menjadi ancaman bahwa stunting belum benar-benar pergi.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan menjelaskan, banyak orang tua memberi asupan berdasarkan keinginan anak, bukan kebutuhan gizinya.
Baca Juga: IIDI Tulungagung 2025-2028 Gaungkan Pengentasan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
“Kadang orang tua merasa anak gemuk berarti sehat, padahal asupannya tinggi gula dan karbohidrat, rendah protein. Ini berbahaya untuk tumbuh kembangnya,” tegas dr Aris.
Pola makan yang salah bisa membuat berat badan anak terlihat normal, tetapi pertumbuhan otak, tinggi badan, dan kesehatan jangka panjangnya terganggu.
Anak dengan gizi tidak seimbang berisiko lebih tinggi mengalami penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas ketika dewasa.
Fenomena ini dikenal sebagai malnutrisi terselubung. Artinya, kondisi ketika anak tampak sehat dari luar, tetapi sesungguhnya kekurangan nutrisi penting untuk pertumbuhan.
Menurut dr Aris, makanan instan, camilan tinggi gula, dan minuman manis menjadi favorit anak-anak, terutama karena praktis dan mudah didapat.
Sehingga banyak orang tua berlindung di balik kata “asal anak mau makan” sudah cukup, tanpa memperhatikan kandungan gizi di dalamnya.
Baca Juga: Begini Potret Stunting di Tulungagung, Stunting Jadi Masalah Serius
Padahal, masa emas pertumbuhan anak (0–5 tahun) adalah periode yang menentukan perkembangan otak dan fisik. Kesalahan pola makan di fase ini sulit diperbaiki di kemudian hari.
Maka, peran orang tua menjadi yang paling dominan. Untuk itu, edukasi kepada orang tua menjadi hal yang sangat penting.
Baca Juga: Puding Anti-Stunting: Kreasi Kuliner untuk Masa Depan Anak Sehat
Karena untuk mencegah stunting, orang tua harus memahami kebutuhan gizi anak sesuai usia dan tahap tumbuh kembang.
Protein hewani, sayur, buah, serta asupan vitamin dan mineral adalah komponen penting yang tidak boleh diabaikan.
“Menu anak harus disesuaikan dengan kebutuhannya, bukan selera lidahnya. Edukasi ini terus kami sampaikan lewat posyandu dan kader-kader kesehatan,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana