RADAR TULUNGAGUNG - Antusiasme tinggi ditunjukkan masyarakat Desa Kasreman, Kecamatan Pakel, Tulungagung saat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM).
Apalagi mereka mendapat edukasi kesehatan bertajuk “Edukasi Hipertensi: Meningkatkan Kesadaran Masyarakat di Desa Kasreman terhadap Pencegahan dan Pengelolaan Tekanan Darah Tinggi” dari PMM UMM.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada 7–8 Agustus 2025 dan menjadi salah satu program kerja unggulan yang disambut antusias oleh masyarakat setempat. Apalagi PMM ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian UMM.
Baca Juga: Sate Kelinci Aman Dikonsumsi Penderita Hipertensi dan Kolesterol Tinggi, Benarkah Demikian?
Program ini dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada warga dalam mengenali faktor risiko hipertensi, memahami gejalanya, serta mengelola kondisi tersebut secara mandiri.
Hipertensi sendiri merupakan penyakit tidak menular yang sering disebut sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, namun berpotensi memicu komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal.
Kegiatan edukasi dilaksanakan di salah satu rumah warga yang cukup luas, sehingga mampu menampung lebih dari 50 peserta dari berbagai usia.
Warga yang hadir disambut hangat oleh tim mahasiswa PMM UMM dan ibu-ibu kader desa, lalu diarahkan untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah gratis sebelum acara dimulai.
Hasil pemeriksaan ini menjadi data awal bagi peserta untuk memahami kondisi kesehatan mereka.
Materi penyuluhan mengenai penyebab hipertensi disampaikan secara interaktif oleh anggota tim PMM.
Baca Juga: Mitos Konsumsi MSG Bikin Hipertensi, Ketahui Faktanya!
Seperti konsumsi garam berlebihan, pola makan tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik, stres berkepanjangan, obesitas, dan faktor keturunan.
Untuk memudahkan pemahaman, mahasiswa memanfaatkan media gambar dan leaflet berwarna yang memvisualisasikan proses terjadinya hipertensi dan dampaknya terhadap organ tubuh.
Peserta juga diajak untuk mengenali tanda-tanda umum hipertensi, termasuk sakit kepala berulang, nyeri dada, pusing, mudah lelah, hingga gangguan penglihatan.
“Banyak orang yang tidak sadar dirinya hipertensi sampai penyakitnya menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting,” jelas salah satu pemateri, Tiara Gareta Rifti.
Selain memberikan edukasi, tim PMM juga membagikan minuman herbal alami yang diracik sendiri sebagai bagian dari upaya promotif.
Minuman ini terbuat dari campuran serai, kayu manis, jahe, madu, dan perasan lemon—bahan-bahan yang dikenal memiliki manfaat dalam melancarkan sirkulasi darah, menenangkan tubuh, serta membantu menurunkan tekanan darah. Warga yang mencicipinya mengaku rasanya segar dan hangat di tubuh.
Bidan Desa Kasreman, Ninik Indrawati mengaku jika kegiatan edukasi seperti ini sangat penting, apalagi masih banyak warga yang belum menyadari bahwa hipertensi bisa diam-diam membahayakan.
"Dengan penjelasan yang mudah dipahami serta minuman herbal alami yang dibagikan, masyarakat jadi lebih termotivasi untuk menjaga tekanan darah mereka,” ujarnya.
Kepala Desa Kasreman Sugito juga mengapresiasi langkah mahasiswa UMM. Menurut dia, informasi kesehatan masih menjadi hal yang jarang diakses warga pedesaan.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa dari UMM. Edukasi seperti ini sangat bermanfaat karena bisa meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya menjaga kesehatan, khususnya dari penyakit yang sering tidak disadari seperti hipertensi,” tutur beliau.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan pada sesi tanya jawab. Beberapa peserta menanyakan alternatif menu makanan rendah garam, teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi stres, hingga cara memantau tekanan darah di rumah.
Tim mahasiswa dengan sabar memberikan penjelasan dan bahkan mempraktikkan teknik pernapasan dalam yang bisa membantu menurunkan tekanan darah.
Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan ini tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga memberikan contoh nyata penerapan gaya hidup sehat.
Hari pertama lebih difokuskan pada pemahaman konsep hipertensi dan pencegahannya, sedangkan hari kedua diisi dengan sesi diskusi kelompok kecil di mana warga berbagi pengalaman pribadi mereka dalam mengelola tekanan darah.
Program edukasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan PMM di Desa Kasreman yang berlangsung selama satu bulan.
Sebelumnya, mahasiswa UMM telah melaksanakan berbagai program, mulai dari posyandu balita dan lansia, persiapan Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN), hingga kegiatan pemberdayaan seperti pembuatan minuman herbal dan ecoprint.
Semua kegiatan dirancang untuk menyasar aspek kesehatan, keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi warga.
Tim PMM mengakui, pelaksanaan program tidak selalu berjalan tanpa kendala. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas pendukung seperti proyektor, sehingga materi harus disampaikan melalui leaflet.
Selain itu, biaya bahan herbal yang cukup tinggi membuat mereka harus mengatur anggaran secara cermat.
Namun, semua kendala tersebut dapat diatasi berkat kerjasama tim dan dukungan warga. Di akhir kegiatan, peserta mendapatkan leaflet edukatif yang merangkum poin-poin penting terkait hipertensi dan langkah pencegahannya.
Leaflet tersebut diharapkan dapat dibaca ulang di rumah dan dibagikan kepada anggota keluarga lainnya.
Sementara itu Mustika Putri Anggraeni Novitasari berharap pendekatan edukatif dan preventif yang mereka lakukan bisa memberi manfaat.
Sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui tentang hipertensi, tapi juga mampu mengelola dan mencegahnya melalui perubahan gaya hidup sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.
"Semoga program ini menjadi awal dari kebiasaan baik yang terus berlanjut di Desa Kasreman,” tuturnya.
Dengan selesainya program ini, mahasiswa PMM UMM berharap masyarakat Desa Kasreman dapat menerapkan gaya hidup sehat, memanfaatkan posyandu untuk pemeriksaan rutin, serta mengajak keluarga dan tetangga untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Edukasi ini diharapkan menjadi bekal jangka panjang bagi warga dalam mencegah hipertensi dan penyakit tidak menular lainnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dapat menghasilkan dampak nyata.
Dengan modal ilmu, kepedulian, dan kemauan untuk berbagi, mahasiswa mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, membawa pesan penting bahwa mencegah penyakit lebih baik dan lebih murah daripada mengobatinya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana