RADAR TULUNGAGUNG - Malaria masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Terutama di wilayah Papua yang menanggung hampir 90 persen kasus malaria nasional.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Indi Dharmayanti, menegaskan riset dan inovasi adalah kunci utama dalam strategi eliminasi kasus malaria.
Investasi berkelanjutan diperlukan pada berbagai lini, mulai dari pengembangan vaksin, tes diagnostik cepat, pengendalian vektor dengan spatial repellent hingga larval source management, serta inovasi obat baru.
“Surveilans berbasis data digital, GIS, dan machine learning harus diperkuat agar intervensi lebih tepat sasaran,” ujarnya
Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBM) BRIN Elisabeth Farah Novita Coutrier menegaskan pentingnya kolaborasi multisektor.
“Percepatan eliminasi malaria tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Kita perlu kerja bersama peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakat, dan target 2030 hanya akan tercapai jika ada sinergi nyata lintas sektor,” tegasnya.
Baca Juga: Sedang Musim Demam Berdarah Dengue, Stok Darah di PMI Tulungagung Aman
Ketua Kelompok Riset Patobiologi Penyakit Emerging dan Tular Vektor R. Tedjo Sasmono, menyebut Papua sebagai episentrum malaria di Indonesia, khususnya di Mimika, Sarmi, dan Keerom.
“Faktor lingkungan, sosial-ekonomi, dan akses layanan kesehatan yang terbatas memperberat situasi. Papua adalah kunci eliminasi malaria. Jika gagal di Papua, maka sulit bagi Indonesia mencapai target 2030,” ujarnya.
Dalam paparannya, Rintis Noviyanti peneliti ahli madya PRBM Eijkman BRIN, menyoroti tantangan biologis unik Plasmodium vivax.
Baca Juga: 326 Kasus DBD Merajalela di Kabupaten Tulungagung, Begini Upaya Dinas Kesehatan
“Parasit ini mampu bersembunyi dalam hati berbentuk dorman atau hypnozoite yang tidak terdeteksi alat diagnostik biasa, namun dapat aktif kembali dan menyebabkan relapse. Sekitar 80 persen kasus vivax di dunia adalah relapse, bukan infeksi baru, dan ini beban ganda bagi pasien dan sistem kesehatan,” jelasnya.
Strategi pengobatan radikal menjadi fokus utama, termasuk penelitian terhadap Primaquine dan Tafenoquine.
Kedua obat ini menjanjikan eliminasi hypnozoite, namun membawa tantangan dari sisi keamanan, terutama pada pasien dengan defisiensi enzim G6PD.
Guru Besar FK Universitas Sumatra Utara, Ayodhia Pitaloka Pasaribu, menegaskan pentingnya memperhatikan faktor genetik pasien agar terapi aman dan efektif. Di sisi lain, inovasi vaksin malaria juga terus berkembang.
Baca Juga: Warga Tulungagung Catat! Peralihan Musim Diprediksi Terjadi Mei, BMKG: Potensi DBD Masih Mengintai
“Kandidat vaksin RTS,S/AS01 (Mosquirix), R21/Matrix-M, dan PfSPZ menunjukkan hasil uji klinis yang menjanjikan, meski efektivitas dan durasi perlindungan masih menjadi tantangan. Pembuatan vaksin malaria sangat kompleks, tetapi hasil uji klinis memberi harapan baru,” ujar Rintis.
Dia memaparkan, genotyping mampu memetakan variasi genetik parasit di berbagai wilayah, sementara high-throughput tools seperti multiplex serological assay membantu identifikasi individu berisiko relapse. Ini langkah maju untuk deteksi dini dan pemetaan penyebaran parasit secara lebih presisi.
Selanjutnya, Indra Rudiansyah dari Biofarma menambahkan, vaksin berbasis mRNA juga mulai dikaji untuk meningkatkan respons imun jangka panjang. “Selain vaksin, teknologi molekuler memberi terobosan penting bagi surveilans,” jelasnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) luring di KST Soekarno. Peneliti dari berbagai kelompok riset PRBM BRIN memaparkan hasil studi dan berdiskusi intensif untuk merumuskan langkah kolaboratif ke depan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana