RADAR TULUNGAGUNG - Angka stunting di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi stunting pada remaja usia 13–15 tahun mencapai 18,3 persen, sedangkan pada usia 16–18 tahun sebesar 17,1 persen.
Kondisi ini mengkhawatirkan, sebab gizi buruk pada remaja berpotensi meningkatkan kasus stunting secara nasional.
Berangkat dari persoalan itu, tim dosen Program Studi Pendidikan Ners STIKes Patria Husada Blitar bersama AKN Putra Sang Fajar Blitar menggelar kampanye pencegahan stunting khusus untuk remaja putri.
Kegiatan tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Madrosatul Qur’an Hidayatul Mubtadi’in, Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung.
Pondok pesantren yang diasuh Kiai Ahmad Hasan dan Nyai Siti Muyasaroh itu memang fokus pada santri tahfiz perempuan.
Karena itu, dinilai tepat menjadi lokasi program pengabdian masyarakat yang didanai Kemendikti Saintek tahun anggaran 2025.
Baca Juga: Kasus Stunting Tulungagung Diklaim di Bawah Jawa Timur, Benarkah Demikian?
“Kami ingin para santri putri ini memahami sejak dini pentingnya gizi seimbang. Sebab, remaja putri adalah calon ibu yang harus siap melahirkan generasi sehat dan berkualitas,” ungkap Ning Arti Wulandari, M.Kep., Ns., salah satu dosen pengabdi dari STIKes Patria Husada Blitar.
Kegiatan dimulai dengan pendidikan kesehatan mengenai stunting, pelatihan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), hingga praktik membuat camilan sehat berbasis pangan lokal.
Tidak hanya santri dan pengasuh pesantren, para pedagang jajanan di sekitar pondok juga diajak terlibat.
Para pedagang yang biasanya menjual makanan dengan penyedap dan pemanis buatan, kini mulai beralih menyediakan jajanan sehat. Misalnya, asinan buah, jamu kunyit asem, salad buah, hingga rujak segar.
“Respons santri luar biasa antusias. Bahkan, 91 persen pengetahuan mereka tentang stunting meningkat. Sementara 88 persen santriwati menunjukkan perilaku ngemil sehat yang sangat baik, dan 12 persen lainnya cukup baik,” jelas Ning Arti.
Dua mahasiswa Prodi Keperawatan STIKes Patria Husada Blitar, yakni Aljezza Vegan Milabu dan Salsa Karimatun Nisa’, juga ikut mendampingi kegiatan.
Baca Juga: IIDI Tulungagung 2025-2028 Gaungkan Pengentasan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
Ning Arti menambahkan, program ini tidak sekadar meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kader kesehatan remaja. Harapannya, para santri bisa menjadi agen perubahan di pesantren dan lingkungan sekitarnya.
“Semoga kegiatan ini bisa menjadi inspirasi kampus-kampus lain, terutama yang punya jurusan kesehatan, untuk menyasar pesantren putri. Karena dari sinilah kita bisa memutus rantai stunting,” tandasnya.
Editor : Dharaka R. Perdana