RADAR TULUNGAGUNG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa sekolah di sebagian wilayah Kecamatan Tulungagung dan Kecamatan Kedungwaru tiba-tiba berhenti. Salah satunya terpantau di SMAN 1 Kedungwaru.
Program tersebut mendadak terhenti setelah hanya berjalan selama dua minggu. Padahal, ribuan siswa baru mulai merasakan manfaat program tersebut sejak 1 September 2025 lalu.
Baca Juga: SPPG Panen Resto di Tulungagung Berhenti Beroperasi Tanpa Pemberitahuan, Mitra Mengaku Rugi Besar
Waka Kesiswaan SMAN 1 Kedungwaru, Fendy Hermanto mengungkapkan, sebanyak 1.300 siswa di sekolahnya semula menerima kiriman menu MBG setiap Senin hingga Jumat.
Namun, pada Minggu (14/9) malam, dia mengaku bahwa pihak sekolah mendapat pemberitahuan lewat grup WhatsApp dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bahwa pasokan MBG dihentikan.
Baca Juga: Bupati Tulungagung Cek SPPG, Pastikan Program MBG Sesuai Standar
“Penyebabnya kami kurang tahu. Itu pemberitahuan juga melalui grup WhatsApp jam 11 malam,” kata Fendy, ketika dikonfirmasi, Sabtu (27/9).
Dalam dua minggu MBG berjalan, lanjut Fendy, distribusinya tidak menemui kendala berarti. Makanan yang diterima dalam kondisi baik dan tidak mengganggu aktivitas lain di sekolah.
Dia memaparkan, pihak sekolah dan siswa hanya sebagai penerima manfaat sehingga tidak mengerti kendala dari SPPG yang menyalurkan makanan.
“Paling hanya kendala teknis pembagiannya saja. Dan ini baru awal, masih dua pekan berjalan. Kami menerima sekitar 1.300-an makanan untuk seluruh siswa,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, kantor SPPG yang berlokasi di eks Resto Panen, Jalan Panglima Sudirman Tulungagung, terlihat tutup.
Tidak ada aktivitas di lokasi tersebut, hanya tampak dua mobil boks berlogo BGN terparkir di halaman. Belum diketahui secara pasti penyebab terhentinya operasional SPPG ini.
Menurut Fendy, selain SMAN 1 Kedungwaru, SPPG tersebut juga menyalurkan MBG ke sejumlah sekolah lain seperti SDN Kepatihan, SDK, hingga SMA PGRI. Namun, semua sekolah mengalami hal yang sama. Pengiriman tiba-tiba berhenti.
“Padahal siswa sangat antusias menunggu MBG itu. Tapi baru dua minggu berjalan, tiba-tiba berhenti. Kami tidak tahu apa-apa, karena sekolah hanya sebagai penerima manfaat,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana