RADAR TULUNGAGUNG - Kesemutan seringkali dianggap gejala sepele oleh sebagian besar orang.
Padahal, di dunia medis, kesemutan bisa jadi tanda penyakit serius jika muncul tanpa sebab yang jelas dan berlangsung berulang.
Sensasi yang dalam istilah medis disebut parestesia ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi gejala gangguan saraf hingga penyakit otak.
Dihimpun dari berbagai sumber, kesemutan merupakan sensasi sensorik yang dirasakan tidak nyaman pada anggota gerak, baik tangan maupun kaki.
Dalam kondisi tertentu, kesemutan masih tergolong normal. Misalnya saat seseorang duduk bersila, bersimpuh, atau berada dalam posisi yang menyebabkan saraf tertekan dalam waktu lama.
Ketika tekanan dilepas, aliran saraf kembali normal dan muncul kesemutan. Ini adalah kesemutan fisiologis dan tidak berbahaya.
Namun, persoalan menjadi berbeda ketika kesemutan bisa jadi tanda penyakit serius yang berkaitan dengan gangguan saraf.
Kesemutan jenis ini biasanya muncul tanpa pencetus, terjadi berulang, dan semakin lama semakin berat.
Kesemutan dan Gangguan Saraf
Salah satu penyebab kesemutan yang perlu diwaspadai adalah neuropati. Kondisi ini terjadi ketika saraf mengalami kerusakan atau gangguan, yang diibaratkan seperti kabel listrik yang terkelupas. Kerusakan saraf tersebut bisa dipicu oleh berbagai faktor.
Selain itu kekurangan vitamin, terutama vitamin B, bisa menyebabkan saraf menjadi rusak. Selain itu, efek samping obat, penyakit autoimun, hingga kanker juga bisa menjadi penyebab.
Kesemutan akibat neuropati biasanya tidak dipicu oleh posisi tubuh tertentu. Sensasi ini dapat muncul spontan dan berlangsung cukup lama, bahkan menetap.
Baca Juga: Ikan Gabus: Khasiat Alami untuk Membantu Penyembuhan Luka
Waspadai Kesemutan Sebelah Tubuh
Kesemutan yang hanya terjadi di satu sisi tubuh, seperti tangan dan kaki kiri saja atau kanan saja, patut diwaspadai. Kondisi ini sering berkaitan dengan gangguan di otak.
Sementara itu, kesemutan yang muncul perlahan, semakin berat, dan bersifat menetap juga dapat mengindikasikan adanya pembesaran tumor di dalam otak. Selain tumor, infeksi otak juga bisa menjadi penyebab keluhan tersebut.
Baca Juga: Langkah Kecil Berdampak Besar, PNM Dorong Warga Ikut Cek Kesehatan Gratis
Pola Munculnya Kesemutan Jadi Kunci
Membedakan kesemutan normal dan berbahaya bisa dilihat dari pola kemunculannya. Kesemutan normal umumnya memiliki pencetus yang jelas, seperti tekanan akibat posisi tubuh tertentu, dan akan menghilang setelah posisi diubah.
Sebaliknya, kesemutan bisa jadi tanda penyakit serius jika muncul tanpa pencetus, terjadi berulang, dan intensitasnya semakin meningkat.
Pada kondisi ini, kesemutan bukan lagi sekadar gangguan ringan, melainkan sinyal tubuh akan adanya masalah kesehatan yang mendasar.
Langkah yang Harus Dilakukan
Jika seseorang sering mengalami kesemutan, langkah pertama adalah mengenali apakah keluhan tersebut muncul setelah aktivitas tertentu atau tanpa sebab yang jelas.
Bila kesemutan muncul tanpa pencetus dan tidak kunjung membaik, dokter menyarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis saraf.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih dini.
Deteksi cepat sangat penting, terutama bila kesemutan berkaitan dengan stroke atau gangguan saraf berat lainnya.
Kesemutan memang sering dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mengabaikan kesemutan yang tidak wajar dapat berakibat fatal.
Edukasi mengenai perbedaan kesemutan normal dan patologis menjadi penting agar masyarakat lebih waspada terhadap sinyal yang diberikan tubuh.
Dengan memahami gejala dan pola kemunculannya, masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap enteng kondisi ini.
Sebab, kesemutan bisa jadi tanda penyakit serius yang membutuhkan penanganan medis segera. ****
Editor : Dharaka R. Perdana