Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lima Pelajar di Tulungagung Positif Diabetes Melitus, Dinas Kesehatan Ungkap Latar Belakang Mereka

Sandy Sri Yuwana • Senin, 29 Desember 2025 | 05:48 WIB

Ilustrasi pengecekan gula darah untuk mendeteksi diabetes melitus.
Ilustrasi pengecekan gula darah untuk mendeteksi diabetes melitus.

RADAR TULUNGAGUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung menemukan lima anak usia sekolah yang masih di bawah umur dinyatakan positif menderita diabetes melitus (DM).

Hal ini diketahui setelah menjalani pemeriksaan lanjutan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan harus diperhatikan warga Tulungagung.

Temuan ini bermula dari hasil skrining CKG yang menunjukkan 26 anak mengalami hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi.

Baca Juga: IAI Tulungagung Gelar Seminar Nasional dan Rakercab Bertema Manajemen Diabetes Tipe 2: Strategi Terapi dan Peran Apoteker

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan ulang dengan tes darah puasa untuk memastikan kondisi kesehatan mereka.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani. Dia menjelaskan, dari 26 anak yang terpantau mengalami hiperglikemia, lima di antaranya positif diabetes melitus.

“Setelah pemeriksaan lanjutan menggunakan darah puasa, hasilnya lima anak dinyatakan diabetes melitus. Bagi saya, satu saja kejadian diabetes pada anak sudah menjadi masalah serius,” ujar Desi.

Baca Juga: Pengidap Diabetes Wajib Tahu, Ini Cara Mudah Menurunkan Kadar Gula dalam Nasi!

Dia menjelaskan, seluruh anak yang terdiagnosis diabetes tersebut masih di bawah umur atau berusia di bawah 17 tahun dan masih berstatus pelajar, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

Dari lima kasus tersebut, satu anak diketahui menderita diabetes melitus tipe satu yang berkaitan dengan faktor genetik.

Sementara empat anak lainnya mengalami diabetes melitus tipe dua yang dipicu oleh faktor perilaku dan pola hidup.

Baca Juga: Inovasi Produk Olahan Coklat “CHOTY” untuk Penderita Diabetes dan Alzheimer dari Mahasiswa UNITA Masuk Tingkat Nasional

“Yang paling banyak itu DM tipe dua, yang berasal dari perilaku. Mulai dari pola makan, jajanan, hingga pola hidup yang kurang sehat,” jelasnya.

Desi menegaskan, anak-anak yang telah didiagnosis diabetes kini masuk kategori pasien dan wajib mendapatkan pemantauan rutin.

Pemantauan tersebut dilakukan oleh puskesmas terdekat sesuai domisili masing-masing anak melalui perawat dan tenaga kesehatan di desa.

“Pemantauan dilakukan oleh puskesmas. Mereka dipantau sebagai pasien, dengan pengobatan dan terapi sesuai diagnosis dokter,” katanya.

Terkait pembiayaan pengobatan, Desi menyebut layanan kesehatan tetap mengikuti skema jaminan yang dimiliki pasien.

Baca Juga: Lilis Memanfatkan Program Prolanis sebagai Upaya Pemeriksaan Rutin Diabetes yang Dideritanya

Jika menggunakan BPJS Kesehatan, maka ditanggung BPJS, sedangkan pasien umum mengikuti mekanisme pembayaran umum.

“Pemantauan itu dari pemerintah melalui puskesmas, tapi pengobatan mengikuti jaminan kesehatan yang dimiliki. Pemantauan dan pengobatan itu dua hal yang berbeda,” pungkasnya.

Desi menambahkan, temuan ini menjadi peringatan penting bagi orang tua dan masyarakat untuk lebih memperhatikan pola hidup sehat pada anak sejak dini, terutama terkait konsumsi makanan dan aktivitas fisik. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #diabetes melitus #anak usia sekolah