RADAR TULUNGAGUNG - Musim flu terparah di Amerika Serikat menjadi sorotan dunia kesehatan global.
Hingga pertengahan Desember, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat lonjakan signifikan kasus influenza yang jauh melampaui tren tahun-tahun sebelumnya.
Dalam laporan terbarunya, CDC menyebut sedikitnya 4,6 juta kasus flu telah terdeteksi sepanjang musim ini.
Dari jumlah tersebut, sekitar 49.000 pasien harus menjalani rawat inap akibat kondisi yang memburuk.
Angka ini diperkirakan masih akan terus bertambah karena puncak musim flu terparah di Amerika Serikat diprediksi berlangsung hingga setidaknya Februari mendatang.
Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan, penyebaran varian flu terbaru yang dijuluki Super Flu atau Subclade K belum menunjukkan tanda-tanda melambat.
Varian ini disebut-sebut menjadi biang keladi lonjakan kasus yang terjadi saat ini.
Subclade K, Varian Baru Influenza A H3N2
Super Flu Subclade K merupakan varian terbaru dari influenza A H3N2, jenis virus flu yang dikenal kerap mendominasi musim flu dan memicu gejala lebih berat dibandingkan varian lainnya.
Hingga pertengahan November, Subclade K dilaporkan bertanggung jawab atas lebih dari separuh kasus flu di Amerika Serikat.
Dokter anak dari Well Cornell Medicine, Dr. Amanda Cravit, menyebut kondisi musim flu tahun ini sangat serius.
“Kasus yang kami lihat jauh lebih banyak dari biasanya untuk periode ini,” ujarnya kepada CBS Mornings.
Menurut para ahli, dominasi varian ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya angka rawat inap dan kematian akibat flu.
Gejala Super Flu Lebih Berat dan Muncul Cepat
Virus H3N2, termasuk Subclade K, dikenal memicu gejala flu yang lebih intens.
Gejala umum yang dilaporkan antara lain demam tinggi, kelelahan ekstrem, nyeri otot hebat, sakit tenggorokan, menggigil, pilek atau hidung tersumbat, hingga muntah dan diare.
Meski sekilas menyerupai flu biasa, para pakar menekankan satu perbedaan penting. Gejala Super Flu muncul sangat cepat dan terasa jauh lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Selain itu, virus ini juga sangat menular, sehingga penyebarannya di komunitas berlangsung cepat, terutama di area dengan mobilitas tinggi dan kepadatan penduduk besar.
Risiko Rawat Inap dan Kematian Meningkat
Selain gejala yang lebih parah, risiko rawat inap akibat Super Flu juga meningkat tajam.
Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti infeksi telinga dan sinus, bronkitis, pneumonia, hingga berujung pada kematian.
CDC mencatat, hingga 13 Desember, sedikitnya 1.900 kematian akibat flu telah dilaporkan di Amerika Serikat sepanjang musim ini. Angka tersebut menambah kekhawatiran otoritas kesehatan mengingat musim flu masih belum mencapai puncaknya.
Efektivitas Vaksin Jadi Sorotan
Salah satu faktor yang memperparah situasi adalah ketidaksesuaian varian dominan dengan vaksin flu tahun ini.
Menurut Neil Maniar, Direktur Program Magister Kesehatan Masyarakat di Northeastern University, varian yang beredar tidak sepenuhnya selaras dengan formulasi vaksin.
Akibatnya, lebih banyak orang tetap rentan terinfeksi meski telah menjalani vaksinasi flu.
Kondisi ini mendorong para ahli untuk terus memantau evolusi virus dan memperbarui strategi pencegahan.
Penyebaran Global Mulai Terlihat
Penyebaran Subclade K tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Lonjakan kasus flu juga dilaporkan di Inggris dan Kanada, menandakan penyebaran internasional varian ini.
Di Asia, Jepang bahkan lebih dulu menetapkan wabah influenza nasional, dengan laporan lebih dari 6.000 kasus flu dalam waktu singkat.
Situasi tersebut memicu kewaspadaan global terhadap potensi peningkatan kasus flu berat di berbagai negara.
Para ahli kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan, mengenali gejala sejak dini, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami tanda-tanda flu berat.***
Editor : Vidya Sajar Fitri