RADAR TULUNGAGUNG - Merebaknya super flu di Amerika Serikat pada akhir 2025 menjelang pergantian tahun 2026 menjadi perhatian serius dunia kesehatan.
Varian baru influenza A H3N2 subclade K ini dilaporkan menyebabkan lonjakan kasus flu di hampir seluruh wilayah Amerika Serikat.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan potensi penyebaran super flu ke berbagai negara lain, termasuk Indonesia.
Super flu sendiri merupakan hasil mutasi dari virus influenza A H3N2. Ahli imunologi dari University College Rousefold, Gary Risker, menjelaskan bahwa virus ini memiliki karakteristik yang lebih agresif dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Gejala super flu biasanya muncul dalam waktu tiga hingga empat hari setelah terinfeksi, dimulai dari demam, sakit kepala, mual, serta rasa tidak enak badan secara umum.
Kelompok paling rentan terhadap super flu adalah lanjut usia, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, serta orang dengan tingkat kebugaran rendah.
Pada kelompok ini, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang membutuhkan perawatan medis intensif.
Data terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa flu musiman, termasuk yang dipicu varian super flu, telah menyebabkan sekitar 4,6 juta kasus di Amerika Serikat.
Dari jumlah tersebut, tercatat sekitar 49.000 pasien harus menjalani rawat inap, sementara angka kematian mencapai 1.900 jiwa.
CDC memperkirakan angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena tidak semua kasus terlaporkan.
Aktivitas flu dilaporkan meningkat hampir di seluruh wilayah Amerika Serikat. Beberapa negara bagian dengan lonjakan tertinggi antara lain New York, New Jersey, Colorado, dan Louisiana.
Situasi ini membuat otoritas kesehatan setempat meningkatkan kewaspadaan serta mendorong masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala flu berat.
Menanggapi merebaknya superflu di Amerika Serikat, anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Dr. Nastiti Kaswandani, menyebut kemungkinan virus tersebut masuk ke Indonesia sangat besar.
Menurutnya, Indonesia bukan negara yang terisolasi dari lalu lintas internasional.
"Dari pengalaman berbagai penyakit pernapasan sebelumnya, penyebaran lintas negara hampir selalu terjadi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan virus ini sebenarnya sudah masuk ke tanah air," ujar Dr. Nastiti.
Tingginya jumlah penumpang internasional yang datang setiap hari ke Indonesia menjadi salah satu faktor utama risiko penyebaran.
Ia menambahkan, pemeriksaan kesehatan di pintu masuk negara saat ini masih terbatas pada skrining gejala seperti demam atau gangguan pernapasan.
Menurut Dr. Nastiti, tidak semua bandara di Indonesia menerapkan pemindaian suhu tubuh.
Akibatnya, penumpang yang tidak menunjukkan gejala mencurigakan tetap berpotensi lolos dari pemantauan.
Kondisi ini membuka celah bagi penyebaran super flu tanpa terdeteksi sejak awal.
Selain itu, meskipun Indonesia telah memiliki pemeriksaan influenza A dan B, kemampuan deteksi tersebut belum sampai pada identifikasi subvarian, termasuk subclade K yang dikenal sebagai superflu.
Hal ini membuat pemantauan penyebaran varian baru menjadi lebih menantang.
Terkait penanganan superflu, CDC merekomendasikan empat jenis obat antivirus, yaitu Tamiflu, Xofluza (Sofluz), Relenza, dan Rapif (Rapivab).
Xofluza dianjurkan untuk pengobatan dini flu tanpa komplikasi pada pasien usia lima tahun ke atas.
Sementara Relenza direkomendasikan untuk usia tujuh tahun ke atas, dan Rapivab dapat digunakan pada pasien usia enam bulan ke atas.
Para ahli mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga kesehatan, menerapkan pola hidup sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala flu berat.
Langkah antisipasi sejak dini dinilai penting untuk mencegah dan membatasi luasnya jika superflu benar-benar menyebar di Indonesia.***
Editor : Vidya Sajar Fitri