Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Virus Nipah Belum Masuk Indonesia, Pemeriksaan Bandara Diperketat dengan Thermal Scanner dan Skrining Kesehatan

Vidya Sajar Fitri • Jumat, 30 Januari 2026 | 14:01 WIB
pemeriksaan kesehatan penumpang internasional di berbagai bandara diperketat, terutama di pintu masuk utama seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai.(Gemini AI)
pemeriksaan kesehatan penumpang internasional di berbagai bandara diperketat, terutama di pintu masuk utama seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai.(Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG – Pemerintah menegaskan virus Nipah belum masuk Indonesia, namun kewaspadaan terus ditingkatkan menyusul merebaknya kasus di sejumlah negara, khususnya India.

Untuk mencegah penyebaran penyakit berbahaya tersebut, pemeriksaan kesehatan penumpang internasional di berbagai bandara diperketat, terutama di pintu masuk utama seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Penegasan bahwa virus Nipah belum masuk Indonesia disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Meski demikian, ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah mengingat virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi dan penularan yang perlu diwaspadai.

Oleh karena itu, langkah antisipasi dilakukan secara menyeluruh di sektor transportasi udara.

Upaya pencegahan difokuskan pada deteksi dini terhadap penumpang yang datang dari luar negeri, khususnya dari negara-negara yang telah melaporkan kasus virus Nipah.

Pemerintah menilai langkah ini penting untuk menjaga Indonesia tetap bebas dari virus zoonosis tersebut.

Pengawasan Ketat di Bandara Soekarno-Hatta

Kantor Karantina Kesehatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta meningkatkan pengawasan terhadap seluruh penumpang internasional yang tiba di Tanah Air.

Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah menyiagakan alat pendeteksi suhu tubuh atau thermal scanner di area kedatangan.

Petugas karantina melakukan pemantauan suhu tubuh secara otomatis melalui thermal scanner.

Selain itu, observasi visual juga dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda gangguan kesehatan pada penumpang.

“Penumpang yang turun dan terdeteksi memiliki tanda dan gejala melalui thermal scanner maupun observasi visual akan langsung diarahkan ke posko kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan,” ujar petugas Karantina Kesehatan Bandara Soekarno-Hatta.

Apabila ditemukan penumpang dengan demam tinggi atau kesulitan bernapas, pemeriksaan medis akan dilakukan secara lebih mendalam guna memastikan kondisi kesehatannya.

Wajib Isi Data Kesehatan Digital

Selain pemeriksaan fisik, penumpang yang tiba maupun berangkat melalui Bandara Soekarno-Hatta juga diwajibkan mengisi data kesehatan melalui aplikasi SatuSehat atau All Indonesian Health Application.

Data ini digunakan untuk memudahkan pelacakan dan pemantauan jika di kemudian hari ditemukan gejala yang mengarah pada infeksi virus menular.

Langkah ini dinilai efektif untuk memperkuat sistem surveilans kesehatan di pintu masuk negara.

Bali Juga Tingkatkan Kewaspadaan

Pengawasan serupa dilakukan oleh Balai Besar Karantina Kesehatan Denpasar di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Thermal scanner dipasang di terminal kedatangan internasional untuk memantau seluruh penumpang dari luar negeri.

Kepala Balai Besar Karantina Kesehatan Denpasar menyebutkan bahwa perhatian khusus diberikan pada penerbangan dari India, mengingat negara tersebut menjadi salah satu wilayah dengan kasus virus Nipah terbanyak.

“Kedatangan dari India menjadi perhatian kami, namun semua penumpang dari berbagai negara tetap melalui pemeriksaan thermal scanner tanpa pengecualian,” ujarnya.

Selain India, negara-negara lain seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura juga masuk dalam pengawasan ketat karena telah meningkatkan status kewaspadaan terhadap virus Nipah.

Penegasan Menkes: Tetap Waspada, Jangan Panik

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menegaskan bahwa hingga saat ini virus Nipah belum masuk Indonesia.

Namun, ia meminta masyarakat tetap waspada dan mematuhi imbauan kesehatan, terutama bagi warga yang bepergian ke luar negeri.

“Penyakit ini penularannya bisa melalui buah yang sudah dimakan kelelawar karena air liurnya. Jadi sebaiknya jangan mengonsumsi buah yang dicurigai,” ujar Menkes.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk selalu mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi sebagai langkah pencegahan sederhana namun penting.

Mengenal Virus Nipah dan Gejalanya

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni infeksi yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Kelelawar dan babi diketahui menjadi reservoir alami virus ini, seperti yang ditemukan pada kasus di Benggala Barat, India.

Gejala awal infeksi virus Nipah umumnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, mual, dan muntah.

Jika infeksi berlanjut, penderita dapat mengalami gejala berat seperti mengantuk berlebihan, sesak napas akibat pneumonia, hingga gangguan sistem saraf.

Karena belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk virus Nipah, deteksi dini dan pencegahan menjadi kunci utama dalam menekan risiko penularan.

Dengan pengawasan ketat di bandara dan kesadaran masyarakat, pemerintah berharap Indonesia tetap aman dan terbebas dari ancaman virus Nipah.***

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Bandara Soekarna-Hatta #virus nipah #THERMAL SCANNER #kementerian kesehatan