Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Hewan pembawa virus ini, seperti kelelawar buah, dapat menularkan virus melalui cairan tubuhnya, mulai dari air liur, urine, darah, hingga sekresi saluran pernapasan.
Kontak tanpa pelindung dengan cairan tersebut membuka peluang besar bagi virus masuk ke tubuh manusia.
Tak hanya dari hewan, virus Nipah juga bisa menular melalui konsumsi daging mentah atau produk makanan mentah yang telah terkontaminasi cairan tubuh hewan terinfeksi.
Risiko semakin tinggi bila makanan tersebut tidak diolah dengan benar atau dikonsumsi tanpa proses pemanasan yang cukup.
Penularan dari Manusia ke Manusia
Selain dari hewan, virus Nipah juga dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dengan penderita.
Penularan umumnya terjadi lewat droplet pernapasan saat pasien batuk atau bersin, serta melalui paparan cairan tubuh seperti darah, urine, air liur, dan sekresi saluran napas yang mengandung virus.
Kasus penularan paling sering ditemukan di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.
Anggota keluarga yang merawat pasien tanpa perlindungan memadai, serta tenaga kesehatan yang kontak langsung dengan pasien, memiliki risiko tinggi tertular virus Nipah.
Penularan antarmanusia ini menjadikan virus Nipah sangat berbahaya.
Tanpa penerapan protokol pencegahan infeksi yang ketat, seperti penggunaan alat pelindung diri dan isolasi pasien, penyebaran virus dapat berlangsung cepat dan memicu klaster baru.
Seseorang yang terinfeksi virus Nipah bisa menunjukkan gejala yang sangat bervariasi.
Ada yang tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik), namun tidak sedikit yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat.
Gejala awal yang paling sering muncul adalah demam dan sakit kepala.
Karena tergolong umum, banyak orang menganggapnya sebagai flu biasa.
Padahal, demam yang disertai nyeri otot (mialgia), nyeri tenggorokan, muntah, serta rasa tidak enak badan perlu diwaspadai sebagai tanda awal infeksi virus Nipah.
Pada beberapa kasus, gejala ini disertai pusing, mudah mengantuk, dan penurunan tingkat kesadaran.
Kondisi tersebut menandakan adanya gangguan pada sistem saraf pusat yang dapat berkembang menjadi ensefalitis akut.
Jika mengalami demam disertai sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan kesadaran meski ringan, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.
Dokter akan melakukan penilaian klinis dan memberikan penanganan yang sesuai, mulai dari anjuran istirahat, pemberian obat, hingga pemeriksaan lanjutan bila diperlukan.
Deteksi dini menjadi kunci penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih fatal.
Kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri saat muncul gejala awal sangat berperan dalam menekan risiko kematian akibat virus Nipah.
Jangan menunggu hingga gejala memberat, karena penanganan cepat dapat menyelamatkan nyawa.***