RADAR TULUNGAGUNG - Kanker ternyata bisa dicegah dengan hal sederhana dari meja makan. Berikut penuturan Kepala Instalasi Gizi RSUD dr Iskak, Ratih Puspitaningtyas.
Kanker kerap hadir tanpa tanda. Tak selalu diwariskan lewat garis keturunan, tetapi perlahan tumbuh dari kebiasaan yang kita anggap sepele.
Salah satunya dari apa yang setiap hari tersaji di piring makan.
Di balik kesibukan rumah sakit rujukan terbesar di Tulungagung, Kepala Instalasi Gizi RSUD dr Iskak, Ratih Puspitaningtyas, menaruh perhatian besar pada satu hal mendasar: pola makan masyarakat.
Menurutnya, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan juga bisa menjadi benteng perlindungan atau sebaliknya, pintu masuk berbagai penyakit, termasuk kanker.
“Pola makan yang buruk akan berdampak langsung pada status gizi seseorang. Ketika tubuh kekurangan atau kelebihan asupan tertentu, sistem pertahanan tubuh pun melemah," terangnya.
Dia menjelaskan, status gizi yang tidak baik membuat daya tahan tubuh menurun.
Dalam kondisi itu, tubuh lebih mudah diserang bakteri, virus, hingga radikal bebas yang dapat merusak sel-sel sehat.
Tak hanya soal seberapa banyak makan, Ratih menekankan bahwa apa yang dimakan dan bagaimana cara mengolahnya sama pentingnya.
Beberapa jenis makanan mengandung zat karsinogenik atau zat yang berpotensi memicu kanker, terutama jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang.
Karena itu, prinsip gizi seimbang menjadi fondasi utama pencegahan. Langkahnya sederhana, dimulai dari memilih sumber karbohidrat.
Ratih menyarankan masyarakat beralih ke karbohidrat kompleks seperti gandum utuh, beras merah, oat, ubi jalar, kentang, dan sayuran.
“Karbohidrat sederhana seperti gula pasir, sirup, minuman ringan, permen, dan makanan manis sebaiknya dibatasi,” ujarnya.
Asupan protein pun perlu diperhatikan. Ikan, daging ayam, kacang-kacangan, dan produk olahannya menjadi pilihan yang lebih sehat.
Sementara daging merah, menurut Ratih, tetap boleh dikonsumsi, namun tidak berlebihan karena berpotensi meningkatkan risiko kesehatan bila terlalu sering dikonsumsi.
Soal lemak, Ratih mengajak masyarakat lebih cermat. Lemak sehat justru dibutuhkan tubuh, seperti minyak zaitun, minyak kanola, dan asam lemak omega-3 dari ikan.
"Sebaliknya, lemak tidak sehat mulai dari minyak goreng yang dipakai berkali-kali, santan yang dipanaskan berulang, kulit ayam, jeroan, hingga makanan olahan kemasan perlu dihindari," paparnya.
Tak kalah penting, piring makan seharusnya penuh warna. Sayur dan buah menjadi sumber antioksidan dan serat yang berperan melawan radikal bebas.
“Konsumsi sayuran 3–4 porsi per hari dan buah 2–3 porsi per hari sangat dianjurkan untuk membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan,” jelasnya.
Namun, makanan sehat bisa kehilangan manfaatnya jika diolah dengan cara keliru.
Ratih mengingatkan, metode memasak bersuhu tinggi seperti menggoreng atau membakar hingga gosong dapat menghasilkan senyawa berbahaya yang meningkatkan risiko kanker.
Bagi Ratih, pencegahan kanker tak selalu harus dimulai dari tindakan besar atau mahal. Justru, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari —memilih bahan makanan yang tepat dan mengolahnya dengan bijak— menjadi investasi kesehatan jangka panjang.
“Pola makan sehat bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk melindungi tubuh di masa depan,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri