RADAR TULUNGAGUNG - RSUD dr Iskak Tulungagung memperingati Hari Kanker Sedunia pada Rabu (4/2) dengan penuh empati dan sarat makna.
Jajaran direksi menyapa langsung para pasien kanker, memberikan doa, semangat, serta bunga sebagai simbol harapan dan kekuatan dalam menghadapi proses pengobatan.
Rabu, suasana bangsal onkologi RSUD dr Iskak Tulungagung, tepatnya di gedung Graha Mandiri lantai 5, terasa berbeda.
Senyum perlahan merekah dari bibir para pasien kanker yang tengah menjalani perawatan.
Di tangan mereka, seikat bunga segar sederhana namun sarat makna. Bukan sekadar bunga, melainkan simbol harapan, kekuatan, dan keyakinan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Momentum tersebut hadir dalam rangka peringatan Hari Kanker Sedunia, 4 Februari 2026.
Jajaran direksi RSUD dr Iskak memilih turun langsung ke ruang perawatan, menyapa pasien satu per satu, menyampaikan doa, motivasi, dan semangat agar para pejuang kanker tetap kuat menghadapi proses pengobatan.
“Kami ingin hadir secara langsung, bukan hanya sebagai pemberi layanan kesehatan, tetapi juga sebagai keluarga yang memberi dukungan,” ujar Direktur RSUD dr Iskak Tulungagung, dr Zuhrotul Aini SpA MKes, dengan suara lembut.
Bagi RSUD dr Iskak, Hari Kanker Sedunia bukan sekadar seremonial. Rumah sakit ini telah lama menjadi tempat memanjatkan harapan bagi ribuan pasien kanker.
Dari Tulungagung hingga daerah sekitar seperti Blitar, Trenggalek, bahkan wilayah Jawa Timur bagian barat dan selatan, pasien datang membawa satu tujuan, sembuh, atau setidaknya mendapatkan harapan hidup yang lebih baik.
RSUD dr Iskak saat ini menjadi satu-satunya rumah sakit umum daerah yang secara konsisten menjalankan layanan kemoterapi dengan tenaga dokter tetap.
Di sinilah perjuangan melawan kanker berlangsung setiap hari, di balik pintu ruang perawatan dan antrean panjang poli onkologi.
“Kami terus berbenah. Untuk bedah onkologi, kami sudah memiliki dua dokter. Ada bedah digestif, dokter paru onkologi, dan saat ini kami juga mengirim dokter spesialis untuk menempuh pendidikan subspesialis onkologi,” terang perempuan yang akrab disapa dr Aini tersebut.
Langkah itu menjadi bagian dari mimpi besar RSUD dr Iskak untuk menghadirkan Pusat Pelayanan Onkologi Terpadu.
Sebuah layanan yang tak hanya mengobati, tetapi juga mendampingi pasien secara menyeluruh baik fisik maupun mental.
Data pelayanan menunjukkan betapa besar tantangan kanker di Tulungagung dan sekitarnya.
Kanker payudara menjadi jenis kanker terbanyak yang ditangani. Jumlahnya lebih dari 900 pasien, dengan kunjungan poli bedah onkologi mencapai 150 hingga 200 pasien setiap hari.
Sementara itu, kasus kanker serviks di Tulungagung tercatat lebih dari 200 hingga mendekati 300 kasus.
Namun, dr Aini mengakui masih ada keterbatasan.
“Untuk kanker serviks, layanan kemoterapi belum bisa dilakukan secara optimal karena tenaga dokter subspesialis masih dalam proses pendidikan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar angka, kanker menyisakan cerita tentang keterlambatan penanganan.
Sekitar 80 persen pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut. Antara stadium 3 dan 4.
Sebagian karena tidak tahu, sebagian karena takut, sebagian lagi karena terlanjur percaya pada pengobatan alternatif.
“Padahal, jika datang lebih awal, harapan hidup bisa jauh lebih panjang,” kata dr Zuhrotul.
Untuk kanker payudara, misalnya, dengan kemoterapi dan teknologi medis modern, pasien pada stadium awal masih memiliki harapan hidup lebih dari 5 tahun.
Sayangnya, kesempatan itu kerap hilang karena rendahnya kesadaran deteksi dini.
Di sela-sela kunjungan ke bangsal, pesan itu kembali disampaikan kepada para pasien dan keluarga.
Bahwa kanker bukan akhir segalanya. Bahwa dukungan keluarga, semangat hidup, dan kepercayaan pada layanan medis memegang peranan besar dalam proses penyembuhan.
“Kanker itu multifaktorial. Ada faktor genetik, ada faktor lingkungan. Pola hidup sehat, makanan bergizi, menjaga kebersihan, mengelola stres, semuanya berperan,” jelas dr Aini.
Dia juga menekankan pentingnya skrining dini. SADARI untuk kanker payudara dan pemeriksaan IVA untuk kanker serviks tersedia dan dapat dilakukan sejak dini, bahkan secara gratis di puskesmas.
“Semua penyakit ada obatnya. Kesembuhan milik Tuhan, tapi manusia wajib berusaha,” tuturnya.
Di bangsal onkologi pagi itu, bunga-bunga sederhana menjadi saksi. Di antara infus dan obat kemoterapi, ada doa yang menguatkan.
Ada harapan yang disemai. Dan ada pesan yang ingin disampaikan RSUD dr Iskak kepada masyarakat.
"Jangan takut berobat. Jangan menunda. Karena harapan hidup sering kali dimulai dari langkah kecil, seperti berani memeriksakan diri lebih awal," pungkasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri