JAKARTA - Sakit kepala berkepanjangan kerap dianggap keluhan ringan yang bisa diatasi dengan obat pereda nyeri.
Padahal, menurut dokter spesialis bedah saraf, kondisi tersebut bisa menjadi alarm serius dari tubuh yang menandakan adanya gangguan berbahaya di dalam otak.
Baca Juga: BPOM Temukan Ratusan Ribu Kosmetik Ilegal Online, 309 Ribu Tautan Diturunkan Demi Keamanan Konsumen
Dalam sebuah tayangan edukasi kesehatan di YouTube, dokter menjelaskan bahwa sakit kepala adalah salah satu keluhan paling sering dialami pasien.
Karena begitu umum, banyak orang merasa aman mengonsumsi obat sakit kepala yang dijual bebas tanpa mencari penyebab pastinya.
Inilah yang justru berisiko.
“Sakit kepala itu seperti alarm tubuh. Kalau terus berbunyi dan semakin sering, berarti ada sesuatu yang tidak beres,” ujarnya.
Ketika Obat Tak Lagi Ampuh
Pada awalnya, sakit kepala mungkin hanya muncul seminggu sekali dan bisa hilang tanpa obat.
Namun, kondisi perlu diwaspadai ketika frekuensinya meningkat dan pasien mulai bergantung pada obat pereda nyeri.
Bahkan, dosis obat yang dikonsumsi bisa bertambah dari satu butir menjadi dua hingga tiga butir per hari, tetapi nyeri kepala tetap tidak hilang.
Jika sudah berada di tahap ini, sakit kepala berkepanjangan tidak bisa lagi dianggap sebagai nyeri kepala biasa.
Dokter menegaskan, kondisi tersebut menandakan adanya proses penyakit yang terus berkembang secara perlahan namun pasti.
Jenis Sakit Kepala yang Perlu Diwaspadai
Secara umum, sakit kepala memiliki berbagai penyebab.
Salah satunya adalah tension headache, yakni nyeri akibat otot kepala dan leher yang tegang, sering digambarkan seperti kepala diikat.
Jenis ini biasanya akan membaik saat pemicu stres hilang.
Ada pula migrain, yang ditandai nyeri kepala sebelah dan sering disertai mual atau sensitif terhadap cahaya.
Namun, yang paling berbahaya adalah sakit kepala yang terus menetap, semakin berat, dan tidak mereda dengan obat.
Dokter juga menyoroti kondisi langka namun fatal yang disebut thunderclap headache, yaitu nyeri kepala hebat yang muncul tiba-tiba seperti disambar petir.
Kondisi ini bisa menjadi tanda pecahnya pembuluh darah di otak dan membutuhkan penanganan medis darurat.
“Penyebab sakit kepala bisa sangat beragam, mulai dari sinusitis, gangguan mata, stroke, perdarahan otak, hingga tumor otak,” jelasnya.
MRI Jadi Pemeriksaan Paling Sensitif
Apabila pasien sudah memeriksakan diri ke dokter mata dan dokter THT namun hasilnya normal, maka penyebab sakit kepala kemungkinan berasal dari dalam otak.
Dalam kondisi seperti ini, pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) menjadi langkah paling tepat.
MRI dinilai sebagai pemeriksaan paling sensitif untuk menilai struktur otak.
Dengan teknologi gelombang magnet, dokter dapat mendeteksi adanya sumbatan, perdarahan, hingga tumor otak berukuran kecil yang tidak terlihat dengan pemeriksaan biasa.
“Untuk sakit kepala berkepanjangan, MRI sangat penting sebagai skrining agar kita yakin tidak ada kelainan serius di otak,” kata dokter.
Prinsip Operasi Tumor Otak: Kualitas Hidup
Jika dari hasil pemeriksaan ditemukan tumor otak, dokter menegaskan bahwa tujuan utama terapi bukan hanya mengangkat tumor, melainkan menjaga kualitas hidup pasien.
Baik melalui operasi, kemoterapi, maupun radioterapi, semuanya berorientasi pada pemulihan fungsi pasien.
Dalam operasi modern, pengangkatan tumor dilakukan semaksimal mungkin tanpa merusak jaringan otak normal.
Untuk itu, digunakan mikroskop bedah canggih dan teknologi intraoperative monitoring yang dapat memantau aktivitas listrik otak secara real time.
Teknologi ini memungkinkan tim medis mendeteksi gangguan fungsi saraf sejak dini, sehingga risiko kerusakan permanen dapat ditekan.
Minimal Invasif, Pemulihan Lebih Cepat
Perkembangan teknologi bedah saraf juga memungkinkan penerapan minimal invasive neurosurgery.
Teknik ini dilakukan dengan sayatan kecil, manipulasi jaringan seminimal mungkin, dan bahkan tanpa mencukur seluruh rambut kepala pasien.
Keuntungannya, masa rawat inap menjadi jauh lebih singkat.
Pasien bahkan bisa pulang dalam waktu kurang dari satu minggu pascaoperasi dan kembali beraktivitas normal.
“Sekarang bukan lagi soal sayatan besar, tapi bagaimana mengganggu jaringan sesedikit mungkin dengan hasil optimal,” pungkas dokter.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina