RADAR TULUNGAGUNG – Kasus campak Indonesia kembali menjadi sorotan. Hingga minggu ketujuh tahun 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 8.224 kasus suspek campak, termasuk kasus konfirmasi laboratorium, dengan empat kematian.
Data ini muncul di tengah peningkatan tren kasus pada Januari 2026 dibanding dua tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa kasus campak Indonesia perlu diwaspadai, meski angka fatalitasnya masih relatif rendah.
“Case fatality rate (CFR) tahun 2026 sebesar 0,05 persen. Ini lebih rendah dibanding rata-rata negara maju yang sekitar 0,1 persen, dan jauh di bawah negara berkembang yang bisa mencapai 4–6 persen,” jelasnya.
Sebaran KLB Campak 2025–2026
Pada 2025, tercatat 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terkonfirmasi laboratorium di 89 kabupaten/kota pada 16 provinsi. Total kasus suspek mencapai 63.769 dengan 69 kematian.
Memasuki 2026, terdapat 21 KLB suspek campak di 17 kabupaten/kota serta 13 KLB terkonfirmasi laboratorium di sembilan kabupaten/kota.
Lima provinsi dengan KLB terbanyak antara lain Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Tren kenaikan pada Januari 2026 disebut berkaitan dengan kantong-kantong wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.
Secara nasional, capaian imunisasi MR memang melampaui target. Namun, di tingkat desa atau kabupaten tertentu masih ditemukan kesenjangan.
Campak Sangat Menular
Campak disebabkan oleh virus morbili dan menular melalui droplet maupun airborne. Penularan dapat terjadi saat penderita batuk, bersin, atau melalui benda yang terkontaminasi.
Konsultan penyakit tropik anak RSCM, dr. Mulya Rahma Karyanti, menjelaskan bahwa satu kasus campak bisa menularkan hingga 18 orang di sekitarnya.
“Penularan terjadi sejak tiga hingga empat hari sebelum ruam muncul sampai empat hari setelah ruam keluar. Ini yang membuat campak sangat infeksius,” ujarnya.
Gejala awal meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan diare. Pada hari ketiga atau keempat biasanya muncul ruam merah makulopapular yang menyebar dari tubuh bagian tengah ke seluruh badan.
Komplikasi berat dapat berupa pneumonia, diare berat hingga dehidrasi, bahkan ensefalitis atau radang otak yang berpotensi fatal.
Notifikasi Kasus dari Australia
Kemenkes juga menerima dua notifikasi kasus campak melalui mekanisme International Health Regulation (IHR) dari Australia pada Februari 2026.
Kasus pertama adalah perempuan 18 tahun yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Perth. Pasien tersebut memiliki riwayat imunisasi lengkap dan hanya mengalami gejala ringan berupa ruam.
Kasus kedua, anak perempuan 6 tahun, tidak memiliki riwayat vaksinasi. Pasien mengalami gejala lebih lengkap seperti demam dan ruam.
Kemenkes bersama dinas kesehatan daerah telah melakukan penyelidikan epidemiologi dan pelacakan kontak di Indonesia.
Imunisasi MR Jadi Strategi Utama
Dalam menghadapi kasus campak Indonesia, pemerintah menegaskan empat langkah utama.
Pertama, penguatan surveilans dan respons cepat dalam 24 jam jika ditemukan kasus. Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) memungkinkan pelaporan real time dari puskesmas hingga rumah sakit.
Kedua, penguatan imunisasi rutin dan imunisasi kejar MR (Measles Rubella), khususnya di daerah dengan cakupan rendah. Program tambahan akan menyasar anak PAUD dan TK di wilayah KLB.
Imunisasi campak diberikan dua kali, yakni pada usia 9 bulan dan 18 bulan, serta ulangan di kelas 1 SD melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Ketiga, tata laksana kasus termasuk isolasi penderita untuk memutus rantai penularan. Anak yang terinfeksi disarankan tidak masuk sekolah sampai sembuh.
Keempat, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk etika batuk, penggunaan masker saat sakit, dan cuci tangan pakai sabun.
Dewasa Juga Bisa Terinfeksi
Meski paling banyak menyerang balita, campak juga dapat menginfeksi usia dewasa. Sekitar 7 persen kasus terjadi pada kelompok usia di atas 15 tahun.
Risiko pada orang dewasa umumnya lebih ringan dibanding balita, tetapi tetap bergantung pada status imunisasi dan daya tahan tubuh.
Kemenkes menekankan pentingnya partisipasi orang tua memastikan imunisasi anak lengkap. Pemerintah juga menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi profesi, hingga fasilitas kesehatan swasta untuk meningkatkan cakupan hingga minimal 95 persen.
“Pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati. Sampai saat ini belum ada antivirus khusus untuk campak. Perlindungan terbaik adalah imunisasi lengkap,” tegas dr. Mulya.
Dengan tren kenaikan di awal 2026, kewaspadaan terhadap kasus campak Indonesia menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor dan dukungan media mampu menangkal hoaks serta mendorong kesadaran imunisasi demi melindungi generasi muda.***
Editor : Vidya Sajar Fitri