Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kasus Campak Indonesia Nomor Dua Terbesar di Dunia, Ini Gejala, Komplikasi, dan Pentingnya Imunisasi Campak 3 Kali

Vidya Sajar Fitri • Rabu, 4 Maret 2026 | 11:27 WIB

Kasus campak Indonesia nomor dua terbesar di dunia. Kenali gejala, komplikasi, dan pentingnya imunisasi campak 3 kali.(freepik.com)
Kasus campak Indonesia nomor dua terbesar di dunia. Kenali gejala, komplikasi, dan pentingnya imunisasi campak 3 kali.(freepik.com)

RADAR TULUNGAGUNG - Kasus campak Indonesia kembali menjadi sorotan. Indonesia disebut sebagai negara dengan jumlah kasus campak nomor dua terbesar di dunia.

Kondisi ini memicu kekhawatiran, mengingat campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi dan berisiko menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.

Kasus campak Indonesia meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19.

Meski cakupan imunisasi kini mulai membaik, lonjakan kasus tetap terjadi karena distribusi imunisasi belum merata di seluruh wilayah.

Campak dikenal sebagai penyakit dengan angka reproduksi (reproductive number) sangat tinggi, yakni antara 15 hingga 18.

Artinya, satu orang yang terinfeksi bisa menularkan virus kepada 15 sampai 18 orang lainnya. Angka ini tergolong sangat tinggi dibanding banyak penyakit menular lainnya.

Gejala Campak: Demam Tinggi hingga Ruam Menyebar

Gejala campak biasanya diawali demam tinggi lebih dari 38 derajat Celsius. Setelah itu muncul bercak putih keabuan di bagian dalam pipi yang dikenal sebagai bercak Koplik, meskipun tidak semua penderita mengalaminya.

Selanjutnya timbul ruam kemerahan yang awalnya muncul dari belakang telinga, lalu menyebar ke wajah dan seluruh tubuh.

Ruam tersebut dapat berubah menjadi kehitaman setelah 7 hingga 30 hari dan tampak seperti koreng.

Meski campak bisa sembuh sendiri karena disebabkan oleh virus, bukan berarti penyakit ini aman. Yang paling berbahaya adalah komplikasinya.

Komplikasi Berbahaya pada Balita dan Lansia

Komplikasi campak paling sering terjadi pada anak usia di bawah lima tahun dan orang dewasa di atas 20 tahun, terutama yang memiliki daya tahan tubuh rendah.

Pada anak dengan malnutrisi atau kekurangan vitamin A, risiko komplikasi lebih tinggi. Sementara pada orang dewasa dengan gangguan imun seperti penderita HIV, dampaknya bisa lebih berat.

Komplikasi campak bisa menyerang berbagai organ. Pada saluran pencernaan, dapat menyebabkan diare berat.

Pada sistem pernapasan, dapat memicu pneumonia. Sedangkan pada sistem saraf pusat, bisa menyebabkan kejang hingga ensefalitis atau radang otak. Komplikasi inilah yang kerap menjadi penyebab kematian.

Angka kematian campak memang tidak terlalu tinggi secara persentase. Namun karena penularannya sangat cepat, jumlah kasus yang besar tetap berpotensi meningkatkan angka kematian secara signifikan.

Penyebab Lonjakan Kasus Campak Indonesia

Lonjakan kasus campak Indonesia tidak lepas dari turunnya cakupan imunisasi pada 2020 hingga 2022 saat pandemi COVID-19. Banyak layanan kesehatan terganggu, sehingga imunisasi rutin anak tidak berjalan optimal.

Meski pada 2023 dan 2024 cakupan imunisasi sudah kembali meningkat hingga di atas 92 persen, masalahnya adalah ketimpangan antarwilayah. Masih ada daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas dan cakupan imunisasi rendah.

Selain cakupan, kualitas vaksin juga menjadi faktor penting. Vaksin yang efektif memiliki efikasi lebih dari 85 persen dalam mencegah campak. Artinya, dari 100 orang yang divaksin, sekitar 85 orang akan terlindungi. Sisanya mungkin tetap terinfeksi, tetapi biasanya dalam kondisi ringan dan tanpa komplikasi berat.

Imunisasi Campak Harus Tiga Kali

Untuk membentuk kekebalan optimal, imunisasi campak diberikan tiga kali. Pertama saat anak berusia 9 bulan, kedua pada usia 18 bulan, dan ketiga saat kelas 1 SD melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Karena tingkat penularannya sangat tinggi, cakupan imunisasi campak harus mencapai lebih dari 95 persen agar terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Jika tidak, virus akan mudah menyebar, terutama di wilayah tropis dengan suhu dan kelembaban yang mendukung sirkulasi virus.

Selain vaksinasi, pencegahan juga bisa dilakukan dengan menjaga daya tahan tubuh, memastikan asupan gizi cukup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala.

Meski campak bisa sembuh sendiri, risiko komplikasi berat tidak boleh diremehkan. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki tantangan lebih kompleks dibanding negara lain.

Karena itu, pemerataan imunisasi dan kewaspadaan orang tua menjadi kunci untuk menekan kasus campak Indonesia agar tidak terus meningkat.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#kasus campak Indonesia #imunisasi campak #vaksin campak #gejala campak #komplikasi campak