Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Apa Itu GERD? Dokter Ungkap Gejala Asam Lambung Naik yang Sering Disangka Serangan Jantung

Divka Vance Yandriana • Jumat, 6 Maret 2026 | 18:00 WIB

GERD atau asam lambung naik bisa memicu nyeri dada hingga sesak napas. Dokter jelaskan gejala, penyebab, dan cara mencegahnya.
GERD atau asam lambung naik bisa memicu nyeri dada hingga sesak napas. Dokter jelaskan gejala, penyebab, dan cara mencegahnya.

JAKARTA - GERD atau asam lambung naik sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, kondisi ini dapat menimbulkan gejala yang cukup mengganggu bahkan sering disalahartikan sebagai penyakit jantung.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Melisa, menjelaskan bahwa GERD atau asam lambung naik merupakan kondisi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, mengalir kembali ke kerongkongan atau esofagus. Aliran balik tersebut menyebabkan iritasi pada dinding kerongkongan sehingga memicu berbagai keluhan pada penderitanya.

Menurut dr. Melisa, banyak pasien yang datang ke fasilitas kesehatan karena mengalami GERD atau asam lambung naik dengan keluhan yang cukup beragam, mulai dari rasa terbakar di dada hingga gangguan tidur pada malam hari.

Baca Juga: Cara Menjaga Keseimbangan Kolesterol Secara Alami: Zaitun, Bawang Putih, hingga Jahe Disebut Bisa Bantu Atasi Kolesterol Tinggi

Gejala GERD yang Sering Dialami Penderita

Salah satu gejala paling umum dari GERD adalah heartburn, yaitu sensasi terbakar di area dada. Sensasi ini biasanya muncul setelah makan atau saat penderita berbaring.

“Keluhan yang paling sering dirasakan pasien adalah rasa panas atau terbakar di dada,” jelas dr. Melisa.

Selain itu, penderita juga kerap mengalami sesak napas terutama pada malam hari. Kondisi tersebut sering menyebabkan gangguan tidur sehingga kualitas istirahat menjadi menurun.

Tidak sedikit pula pasien yang mengeluhkan nyeri dada. Gejala ini sering membuat penderita khawatir karena menyerupai gejala penyakit jantung.

Baca Juga: Kenapa Malioboro Jogja Selalu Ramai ? Ini 5 Alasan Utama dari Wisata Malam, Kuliner hingga Fasilitas Gratis

“Banyak pasien bertanya apakah nyeri dada yang dirasakan berasal dari jantung. Dalam beberapa kasus, keluhan tersebut memang harus diperiksa lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya,” tambahnya.

Dalam dunia medis, nyeri dada akibat GERD sering disebut sebagai non-cardiac chest pain atau nyeri dada yang tidak berasal dari jantung.

Keluhan Tenggorokan Hingga Batuk Kronis

Selain keluhan pada dada, penderita GERD juga dapat mengalami gangguan pada tenggorokan. Beberapa pasien mengaku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.

Tidak jarang pula muncul keluhan suara serak yang berlangsung cukup lama. Bahkan pada beberapa kasus, asam lambung yang naik dapat memicu batuk kronis.

Hal ini terjadi karena sifat asam lambung yang erosif sehingga dapat mengiritasi saluran pernapasan bagian atas ketika mencapai kerongkongan.

Baca Juga: Partai Buruh Desak THR Bebas Pajak, Pemerintah Buka Suara soal Skema PPh 21 untuk ASN dan Swasta

Akibatnya, penderita bisa mengalami batuk yang disertai dahak atau rasa tidak nyaman di tenggorokan.

Siapa yang Berisiko Mengalami GERD?

Menurut dr. Melisa, ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami GERD. Salah satunya adalah orang dengan berat badan berlebih atau obesitas.

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada lambung sehingga memicu naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Selain itu, penderita diabetes juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami GERD. Hal ini berkaitan dengan kondisi yang disebut keterlambatan pengosongan lambung.

Dalam kondisi normal, makanan yang masuk ke lambung biasanya akan diproses dan berpindah ke usus dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam setelah makan.

Namun pada beberapa orang, proses tersebut dapat berlangsung lebih lama. Akibatnya, makanan dan asam lambung tertahan di lambung sehingga tekanan meningkat dan memicu refluks.

Cara Mencegah GERD dengan Pola Hidup Sehat

Untuk mencegah GERD atau asam lambung naik, dr. Melisa menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat. Salah satu langkah yang disarankan adalah rutin berolahraga.

Selain itu, mengelola stres juga sangat penting karena kondisi psikologis dapat memengaruhi kesehatan sistem pencernaan.

Pola makan juga perlu diperhatikan. Penderita dianjurkan menghindari makanan berlemak tinggi seperti gorengan atau makanan bersantan.

Minuman manis, minuman beralkohol, serta minuman bersoda juga sebaiknya dibatasi karena dapat memicu naiknya asam lambung.

Makanan yang terlalu pedas atau asam juga disarankan untuk dihindari, termasuk makanan yang banyak mengandung tepung terigu.

Hindari Makan Dekat Jam Tidur

Kebiasaan makan menjelang waktu tidur juga dapat memperburuk gejala GERD. Oleh karena itu, penderita dianjurkan untuk tidak makan besar setidaknya tiga jam sebelum tidur.

Sebagai contoh, jika seseorang tidur pada pukul 22.00, maka makan malam sebaiknya dilakukan sebelum pukul 19.00.

Selain itu, posisi tidur juga dapat memengaruhi gejala GERD. Menggunakan bantal yang sedikit lebih tinggi dan tidur miring ke sisi kiri dapat membantu mengurangi risiko refluks asam lambung pada malam hari.

Apabila keluhan GERD terus berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari, dr. Melisa menyarankan agar penderita segera berkonsultasi dengan dokter.

Dengan penanganan yang tepat, gejala GERD atau asam lambung naik dapat dikendalikan sehingga penderita tetap dapat menjalani aktivitas dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Editor : Divka Vance Yandriana
#obat herbal #Obat Alami #asam lambung