TULUNGAGUNG – Bahaya sengatan listrik sering dianggap sepele oleh banyak orang. Padahal, sengatan listrik dalam durasi singkat sekalipun bisa berdampak serius bagi tubuh manusia, bahkan berujung kematian jika tidak ditangani dengan benar.
Dalam sebuah diskusi edukatif, dokter sekaligus kreator konten kesehatan dr. Tirta menjelaskan bahwa sengatan listrik dapat menyebabkan kematian melalui dua mekanisme utama, yaitu luka bakar berat dan gangguan pada sistem kelistrikan jantung.
Menurutnya, listrik merupakan energi yang menghasilkan panas. Ketika seseorang tersengat listrik, energi tersebut dapat menyebabkan luka bakar yang sangat parah pada jaringan tubuh.
“Yang pertama, sengatan listrik bisa menyebabkan luka bakar serius. Jika sumber listriknya kuat, luka bakarnya bisa melepuh dan sangat parah,” jelas dr. Tirta.
Selain luka bakar, sengatan listrik juga berbahaya karena dapat mengganggu sistem kelistrikan alami di dalam tubuh manusia.
Sengatan Listrik Bisa Mengganggu Irama Jantung
Tubuh manusia memiliki sistem kelistrikan alami, terutama pada jantung yang berfungsi mengatur detak dan ritme jantung. Jika aliran listrik eksternal masuk ke tubuh, sistem tersebut bisa terganggu.
“Jantung kita punya aliran listrik sendiri. Kalau terkena sengatan listrik terlalu lama, bisa terjadi gangguan irama jantung atau bahkan henti jantung,” kata dr. Tirta.
Gangguan irama jantung atau aritmia dapat membuat jantung berhenti berdetak secara normal. Dalam kondisi tertentu, hal ini bisa menyebabkan kematian mendadak.
Karena itu, sengatan listrik sekecil apa pun tidak boleh dianggap remeh. Bahkan paparan listrik dalam waktu sangat singkat tetap dapat memengaruhi sistem tubuh.
Mana yang Lebih Berbahaya: Arus atau Tegangan?
Dalam penjelasan yang melibatkan ahli kelistrikan dari ABB, dijelaskan bahwa secara umum bahaya listrik ditentukan oleh energi yang dihasilkan.
Energi listrik dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu tegangan, arus, dan waktu paparan.
Di rumah tangga, tegangan listrik biasanya stabil pada sekitar 220 volt. Namun yang paling berbahaya bagi manusia justru adalah arus listrik.
“Jika voltasenya tetap, maka yang paling berbahaya adalah arusnya. Semakin besar arus yang mengalir ke tubuh, semakin tinggi risiko cedera atau kematian,” jelas perwakilan ABB.
Karena itu, sistem keamanan listrik di rumah seperti MCB (Miniature Circuit Breaker) atau alat proteksi arus sangat penting untuk mencegah kelebihan arus yang bisa memicu korsleting maupun sengatan listrik.
Pertolongan Pertama Saat Terjadi Sengatan Listrik
Banyak orang melakukan kesalahan fatal saat menolong korban sengatan listrik. Salah satu kesalahan paling umum adalah langsung menyentuh korban dengan tangan kosong.
Padahal, tubuh manusia juga merupakan konduktor listrik.
“Jangan langsung pegang korban. Matikan dulu sumber listriknya,” tegas dr. Tirta.
Setelah sumber listrik dimatikan, korban dapat dipindahkan dengan bantuan benda yang bersifat isolator, seperti kain kering, sarung tangan, atau alas kaki berbahan karet.
Jika korban mengalami luka bakar atau tidak sadar, segera bawa ke instalasi gawat darurat (IGD). Sengatan listrik sering kali menyebabkan luka bakar derajat dua atau tiga serta gangguan pada aktivitas listrik jantung dan otak.
Tangan Basah Lebih Mudah Tersengat Listrik
Salah satu kondisi yang meningkatkan risiko sengatan listrik adalah tangan yang basah. Air merupakan konduktor yang mempercepat aliran listrik.
Karena itu, menyentuh colokan listrik dengan tangan basah sangat berbahaya.
Selain itu, dalam beberapa kasus, korban sengatan listrik tidak dapat melepaskan tangannya dari sumber listrik. Hal ini terjadi karena kontraksi otot yang dipicu oleh aliran listrik.
Banyak Kasus Terjadi Saat Perbaikan Rumah
Dr. Tirta juga mengingatkan bahwa banyak kasus sengatan listrik terjadi saat orang memperbaiki instalasi rumah, seperti mengganti lampu atau memperbaiki plafon.
Ia bahkan mengungkap adanya kasus kematian akibat sengatan listrik saat seseorang memperbaiki bagian atap rumah tanpa mengetahui adanya kabel terbuka.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk tidak ragu memanggil teknisi profesional jika tidak memahami sistem kelistrikan.
“Jangan menyepelekan hal kecil. Banyak kecelakaan listrik terjadi karena orang merasa bisa memperbaiki sendiri,” ujarnya.
Selain itu, instalasi listrik rumah juga perlu diperiksa secara berkala, terutama jika usia rumah sudah lebih dari 10 tahun.
Edukasi Keselamatan Masih Minim
Menurut dr. Tirta, edukasi mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan listrik masih sangat minim di masyarakat.
Padahal, pemahaman dasar mengenai keselamatan listrik dan pertolongan darurat seharusnya sudah diajarkan sejak dini.
“Keselamatan kerja dan pertolongan pertama itu penting. Jangan sampai kita baru belajar ketika sudah terjadi kecelakaan,” katanya.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar selalu berhati-hati saat berurusan dengan listrik, karena risiko yang ditimbulkan bisa sangat fatal.
Editor : Izahra Nurrafidah