Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mitos Puasa Bikin Lemas Terbongkar! Dokter Ungkap Fakta Medis Puasa Ramadan Justru Bikin Tubuh Lebih Sehat

Izahra Nurrafidah • Jumat, 6 Maret 2026 | 18:35 WIB

Mitos Puasa Bikin Lemas Terbongkar! Dokter Ungkap Fakta Medis Puasa Ramadan Justru Bikin Tubuh Lebih Sehat
Mitos Puasa Bikin Lemas Terbongkar! Dokter Ungkap Fakta Medis Puasa Ramadan Justru Bikin Tubuh Lebih Sehat

TULUNGAGUNG - Mitos puasa bikin lemas masih sering dipercaya masyarakat menjelang Ramadan. Banyak orang menganggap berpuasa menyebabkan tubuh mudah lelah, mengantuk, hingga sulit beraktivitas. Padahal, secara medis anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Dokter Agus Rahmadi menjelaskan, mitos puasa bikin lemas sebenarnya muncul karena tubuh belum terbiasa berpuasa. Jika dilakukan dengan benar dan tubuh sudah beradaptasi, puasa justru dapat membantu tubuh bekerja lebih optimal.

Menurutnya, secara fisiologis tubuh manusia memiliki mekanisme khusus untuk menjaga energi saat seseorang tidak makan dalam waktu tertentu.

Puasa dan Peran Hormon Glukagon

Dr Agus menjelaskan, saat seseorang berpuasa, tubuh akan mengalami penurunan kadar glukosa darah yang memicu rasa lapar. Dalam kondisi ini, tubuh secara alami akan mengaktifkan hormon bernama glukagon.

“Hormon glukagon diproduksi oleh pankreas dan berfungsi memecah cadangan energi di dalam tubuh, yaitu glikogen, menjadi glukosa,” jelasnya.

Proses tersebut membuat tubuh tetap memiliki sumber energi meskipun tidak mengonsumsi makanan selama beberapa jam.

Namun, masalahnya banyak orang jarang mengalami kondisi lapar karena pola makan yang terlalu sering. Akibatnya, hormon glukagon jarang aktif dan tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi saat mulai berpuasa.

“Inilah yang membuat sebagian orang merasa lemas di awal puasa. Bukan karena puasanya, tapi karena tubuh belum terbiasa,” ujarnya.

Ia menyarankan agar tubuh dilatih dengan puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidh. Dengan begitu, mekanisme pembakaran cadangan energi akan lebih cepat aktif saat Ramadan.

Kenapa Orang Puasa Bisa Mengantuk?

Selain mitos puasa bikin lemas, banyak orang juga menganggap puasa menyebabkan kantuk berlebihan. Namun menurut Dr Agus, kondisi tersebut justru sering terjadi setelah seseorang makan dalam jumlah banyak.

“Coba pikirkan, orang yang lebih mudah mengantuk itu yang lapar atau yang kenyang?” katanya.

Ia menjelaskan bahwa setelah makan besar, kadar gula darah meningkat tajam dan tubuh akan mengeluarkan hormon insulin untuk menurunkannya. Proses ini dapat memicu rasa kantuk.

Sebaliknya, saat lapar tubuh cenderung lebih waspada karena membutuhkan energi untuk mencari makanan.

Karena itu, rasa kantuk saat puasa biasanya terjadi akibat pola makan yang tidak tepat, terutama saat berbuka puasa.

Puasa Justru Baik untuk Lambung

Banyak orang juga takut berpuasa karena khawatir asam lambung meningkat. Padahal, menurut Dr Agus, puasa justru dapat membantu proses perbaikan sel dalam tubuh.

Dalam kondisi berpuasa, tubuh menjalankan proses yang disebut autofagi, yaitu mekanisme alami untuk membersihkan dan memperbaiki sel yang rusak.

“Termasuk sel-sel pada dinding lambung juga mengalami perbaikan. Jadi sebenarnya puasa bagus untuk kesehatan lambung,” jelasnya.

Namun masalah sering muncul karena kebiasaan berbuka yang kurang tepat. Banyak orang langsung makan dalam jumlah besar setelah azan magrib.

Kondisi ini dapat membuat lambung mengalami peregangan berlebihan sehingga memicu gangguan pencernaan.

Cara Berbuka Puasa yang Dianjurkan

Dr Agus menyarankan agar berbuka puasa dilakukan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu beradaptasi.

Langkah pertama adalah mengonsumsi kurma untuk menggantikan glukosa yang hilang selama berpuasa.

“Kurma mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh sehingga dapat segera mengurangi rasa lapar,” katanya.

Setelah makan kurma dan minum air putih, sebaiknya umat Muslim langsung menunaikan salat magrib sebelum mengonsumsi makanan lainnya.

Hal ini memberikan waktu bagi lambung untuk menyesuaikan diri sebelum menerima makanan lebih banyak.

Ia juga mengingatkan agar tidak langsung mengonsumsi makanan berat atau terlalu pedas saat berbuka karena dapat memicu gangguan lambung.

Rekomendasi Makanan Sahur

Selain berbuka, pola makan saat sahur juga sangat menentukan kondisi tubuh selama berpuasa.

Menurut Dr Agus, banyak orang keliru menjadikan sahur sebagai ajang makan sebanyak-banyaknya. Padahal yang paling penting adalah menjaga asupan cairan tubuh.

“Manusia sebenarnya lebih tahan lapar dibandingkan haus. Jadi yang paling penting saat sahur adalah cukup minum,” ujarnya.

Ia menyarankan makanan tinggi serat seperti sayur dan buah karena dapat membantu menahan cairan lebih lama di dalam tubuh.

Buah apel, misalnya, mengandung pektin yang mampu mengikat air sehingga membantu tubuh tidak cepat merasa haus.

Selain itu, makanan yang terlalu berminyak atau bersantan sebaiknya dibatasi karena dapat membuat tubuh lebih cepat dehidrasi.

Puasa Tidak Menyebabkan Bau Mulut

Satu lagi mitos yang sering muncul adalah bau mulut saat berpuasa. Dr Agus menegaskan, bau mulut sebenarnya tidak disebabkan oleh puasa.

“Bau mulut biasanya muncul karena bakteri, misalnya akibat gigi berlubang, sariawan, atau gangguan lambung,” jelasnya.

Karena itu, menjaga kebersihan mulut tetap menjadi hal penting selama Ramadan.

Secara keseluruhan, puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan bagi tubuh jika dijalankan dengan pola makan yang benar.

“Puasa seharusnya membuat tubuh lebih sehat, bukan malah lemas,” pungkasnya.

Editor : Izahra Nurrafidah
#cara berbuka puasa benar #mitos puasa #puasa bikin lemas #Makanan Sahur Sehat