Pengalaman tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana persiapan tes CPNS perlu dilakukan jauh hari sebelum pendaftaran dibuka. Mulai dari kelengkapan dokumen administrasi hingga strategi belajar menghadapi ujian.
Menurutnya, banyak pelamar gagal bukan karena kemampuan akademik, tetapi karena kurang teliti dalam menyiapkan dokumen persyaratan.
Persiapan Administrasi Harus Dilakukan Sejak Awal
Tahapan pertama dalam seleksi CPNS adalah verifikasi administrasi. Meski terlihat sederhana, banyak peserta justru gagal di tahap ini karena dokumen tidak lengkap atau tidak sesuai persyaratan.
Beberapa dokumen penting yang biasanya dibutuhkan bagi pelamar tenaga kesehatan, khususnya bidan, antara lain ijazah, transkrip nilai, dan Surat Tanda Registrasi (STR). Selain itu, beberapa instansi juga mensyaratkan sertifikat tambahan seperti APN atau TOEFL.
“Persiapan tes CPNS sebaiknya dimulai dari administrasi. Banyak yang baru mengurus dokumen menjelang pendaftaran sehingga akhirnya tidak sempat selesai,” ujarnya.
Ia menyarankan agar legalisir ijazah, transkrip, hingga pengurusan STR dilakukan jauh hari. Hal ini penting untuk menghindari antrean panjang di kampus atau lembaga terkait yang sering terjadi menjelang seleksi CPNS.
Selain itu, calon peserta juga perlu mempertimbangkan secara matang dalam memilih formasi jabatan. Tidak sedikit pelamar yang memilih lokasi jauh dengan harapan pesaing lebih sedikit. Namun faktanya, strategi tersebut tidak selalu berhasil.
Dalam pengalamannya, ia justru memilih puskesmas yang tidak terlalu populer. Meski demikian, jumlah pendaftar mencapai lebih dari 500 orang, sementara yang diterima hanya tujuh orang.
Strategi Belajar SKD: Konsisten dan Variatif
Setelah lolos seleksi administrasi, peserta akan menghadapi Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Pada tahap ini terdapat tiga materi utama, yaitu Tes Intelegensi Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP).
Ia menegaskan bahwa persiapan tes CPNS untuk SKD tidak bisa dilakukan secara instan. Belajar secara konsisten dalam jangka waktu panjang dinilai lebih efektif dibanding belajar mendadak menjelang ujian.
“Saya mulai belajar sekitar satu tahun sebelum tes. Menjelang ujian hanya tinggal review materi saja,” katanya.
Sumber belajar yang digunakan pun cukup beragam. Selain buku dan aplikasi latihan soal, ia mengaku banyak memanfaatkan video pembelajaran di YouTube.
Menurutnya, banyak kreator yang membagikan metode penyelesaian soal TIU, mulai dari pola deret angka hingga teknik menjawab soal logika dengan cepat.
Belajar dengan metode berbeda juga penting untuk menghindari kejenuhan. Ia menyarankan peserta tidak fokus pada satu jenis materi dalam waktu lama, tetapi bergantian antara TIU, TWK, dan TKP.
Untuk materi TKP sendiri, ia menilai kunci utamanya adalah memahami sikap yang paling bijak dalam berbagai situasi kerja.
Tips Menghadapi Ujian SKD
Pada hari pelaksanaan tes, peserta dianjurkan datang lebih awal ke lokasi ujian. Hal ini penting untuk menghindari keterlambatan sekaligus memberi waktu menenangkan diri sebelum tes dimulai.
Proses ujian SKD dilakukan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT). Peserta akan diawasi ketat, bahkan terdapat kamera CCTV di ruang ujian.
Karena itu, peserta tidak disarankan mencoba melakukan kecurangan.
“Fokus saja pada kemampuan sendiri. Ikuti instruksi petugas dan kerjakan soal sebaik mungkin,” jelasnya.
Dalam mengerjakan soal, ia memilih memulai dari TIU terlebih dahulu karena relatif lebih cepat dikerjakan dibanding TWK dan TKP yang membutuhkan analisis lebih panjang.
Tantangan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB)
Setelah lolos SKD, peserta akan menghadapi Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Untuk formasi bidan D4, soal yang diberikan cenderung bersifat analitis dan berbasis kasus nyata di lapangan.
Ia mencontohkan salah satu soal yang berkaitan dengan pembagian ruang steril di ruang operasi. Peserta diminta menganalisis gambar dan menentukan area steril, semi steril, hingga non steril.
Selain itu, terdapat pula soal mengenai peran bidan dalam situasi tertentu, seperti tugas jaga malam atau penanganan kondisi darurat.
Hal ini berbeda dengan soal untuk lulusan D3 yang cenderung lebih teoritis.
“Untuk D4 lebih banyak analisis dan implementasi di lapangan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak terlalu bergantung pada bocoran soal atau file recall (FR) yang beredar di internet.
Menurutnya, FR hanya memberikan gambaran umum, bukan soal yang sama persis.
Karena itu, pemahaman konsep dasar tetap menjadi kunci utama dalam persiapan tes CPNS.
Editor : Izahra Nurrafidah