RADAR TULUNGAGUNG – Kasus suspek campak di Tulungagung meningkat signifikan pada awal 2026.
Dinas kesehatan setempat mencatat temuan kasus naik hingga tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Jika pada Februari 2025 ditemukan 12 kasus suspek campak, pada Februari 2026, jumlahnya melonjak menjadi 38 kasus.
Kepala Bidang P2P Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan menjelaskan, periode awal tahun 2026 ini ada peningkatan temuan kasus suspek campak dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tahun 2025 ada 12 kasus, sementara Februari 2026 kemarin menemukan 38 kasus.
"Ada kenaikan jumlah kasus campak dibanding awal 2025 lalu," katanya.
Menurutnya, tren kenaikan tersebut tidak hanya terjadi di Tulungagung. Sejumlah daerah lain di Indonesia juga mengalami kondisi serupa.
Bahkan, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah provinsi melakukan pemantauan khusus di 22 provinsi, termasuk Jawa Timur.
Dari hasil koordinasi tersebut, sejumlah langkah pencegahan direkomendasikan.
Salah satunya adalah outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi serentak ketika ditemukan kasus campak di suatu wilayah.
“ORI ini dilakukan tanpa melihat status imunisasi. Jika ada kasus, maka anak-anak di wilayah itu bisa langsung mendapat vaksin,” jelasnya.
Sementara untuk Tulungagung, langkah yang dilakukan adalah catch up campaign campak, yakni imunisasi kejar bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap.
Program tersebut menyasar anak usia di bawah lima tahun (balita) yang belum menerima dua dosis vaksin campak.
“Mayoritas kasus yang kami temukan juga terjadi pada anak-anak, terutama balita,” terangnya.
Secara epidemiologis, kenaikan kasus diduga berkaitan dengan kekebalan individu maupun kekebalan lingkungan yang belum optimal.
Dari hasil penelusuran, sebagian anak yang terdata sebagai suspek campak diketahui belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Meski demikian, kondisi pasien saat ini dilaporkan sudah membaik.
“Alhamdulillah secara umum kondisi anak-anak tersebut sudah membaik. Ini lebih sebagai bentuk kewaspadaan karena tren kasus sempat meningkat pada minggu kedua hingga minggu keempat Februari,” ujarnya.
Dia menambahkan, campak sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. Risiko komplikasi juga dapat ditekan jika penanganan dilakukan sejak awal.
Karena itu, orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, mata merah, atau ruam kemerahan pada kulit.
“Jika muncul gejala tersebut, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat agar bisa ditangani sejak dini dan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat,” katanya.
Dinas kesehatan juga mengimbau masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi keliru terkait vaksin yang beredar di media sosial.
“Imunisasi adalah salah satu upaya paling efektif untuk mencegah penyakit seperti campak. Masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menerima informasi dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum tentu benar,” pungkasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri