RADAR TULUNGAGUNG – Peringatan Hari Perawat Nasional 2026 menjadi momentum refleksi bagi kalangan tenaga keperawatan untuk memperkuat profesionalisme di tengah tantangan pelayanan kesehatan yang terus berkembang.
Di usia ke-52 tahun, profesi perawat dinilai memiliki peran strategis tidak hanya dalam layanan kesehatan, tetapi juga dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Tulungagung, Kukuh Heru Subagyo mengatakan, peringatan HUT PPNI tahun ini mengusung tema “Perawat Profesional sebagai Modal Ekonomi Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat”.
Tema tersebut menegaskan bahwa perawat merupakan salah satu aset penting dalam pembangunan kesehatan nasional.
Menurutnya, selama lebih dari lima dekade PPNI menjadi wadah perjuangan bagi perawat untuk memperkuat profesionalisme, memperjuangkan martabat profesi, sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
“Profesi perawat tidak hanya pelaksana layanan kesehatan, tetapi juga bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mendukung produktivitas nasional,” ujarnya.
Dia menambahkan, dinamika sistem kesehatan saat ini menuntut perawat untuk terus beradaptasi dengan berbagai perubahan.
Mulai dari transformasi digital layanan kesehatan, peningkatan kompetensi global, hingga ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi terhadap mutu pelayanan.
Dalam praktiknya, perawat memiliki peran luas yang tidak terbatas pada fasilitas pelayanan kesehatan. Mereka juga terlibat aktif dalam pelayanan komunitas, program promotif dan preventif, hingga penanganan kondisi kegawatdaruratan di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil.
Di Tulungagung sendiri, jumlah anggota PPNI tercatat mencapai sekitar 3.180 orang yang tersebar di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
Kukuh menilai peringatan HUT PPNI ke-52 harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni.Perawat harus memperbarui komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Profesionalisme perawat harus terus diperkuat melalui pendidikan berkelanjutan, etika profesi, kolaborasi lintas sektor, serta kepemimpinan yang visioner,” katanya.
Di sisi lain, profesi perawat juga menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah tuntutan kesesuaian kompetensi dengan perkembangan pelayanan kesehatan, termasuk dalam penanganan kegawatdaruratan, penyakit prioritas, dan layanan berbasis komunitas.
Selain itu, beban kerja perawat juga semakin kompleks.
Tidak hanya memberikan asuhan keperawatan, mereka juga harus menjalankan administrasi layanan, pencatatan digital, serta berbagai program kesehatan masyarakat.
Tantangan lain yang turut dihadapi adalah transformasi digital pelayanan kesehatan.
Perawat dituntut mampu beradaptasi dengan sistem informasi kesehatan, rekam medis elektronik, serta berbagai bentuk digitalisasi layanan. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri