RADAR TULUNGAGUNG – Tingginya kasus penyakit, khususnya di kalangan perempuan di Tulungagung, menjadi perhatian DPRD Jawa Timur.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Jairi Irawan, menilai persoalan tersebut berkaitan dengan belum optimalnya peran puskesmas dalam edukasi dan deteksi dini.
Berdasarkan komunikasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Jairi menyebut sejumlah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan dideteksi sejak awal justru masih ditemukan dalam jumlah cukup tinggi.
“Banyak juga penyakit, terutama pada ibu-ibu. Padahal itu sebenarnya bisa dicegah dan ditangani sejak dini di tingkat puskesmas,” ujarnya.
Dia mencontohkan, pemeriksaan kesehatan seperti IVA untuk deteksi dini kanker serviks sejatinya menjadi kewenangan layanan tingkat pertama.
Namun dalam praktiknya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri masih rendah.
Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari dua faktor, yakni minimnya edukasi kesehatan serta pengalaman pelayanan yang belum sepenuhnya membuat masyarakat nyaman.
“Kalau masyarakat datang ke puskesmas dengan rasa takut, akhirnya mereka cenderung menunda pemeriksaan. Saat diketahui, penyakitnya sudah dalam kondisi lebih parah,” jelasnya.
Selain itu, dia juga menyoroti tren meningkatnya penyakit akibat pola hidup tidak sehat yang kini mulai menyerang usia lebih muda.
Hal ini dinilai sebagai dampak kurangnya informasi terkait gaya hidup sehat di masyarakat.
“Pola hidup ini penting, tapi masyarakat belum mendapatkan informasi yang cukup tentang apa yang layak dikonsumsi setiap hari,” katanya.
Jairi menilai selama ini sistem kesehatan masih cenderung berfokus pada pengobatan, bukan pencegahan.
Akibatnya, beban pembiayaan kesehatan terus meningkat, sementara kasus penyakit tidak kunjung menurun.
Karena itu, dia mendorong adanya pembenahan di tingkat layanan dasar, khususnya puskesmas, agar lebih aktif melakukan edukasi dan pendekatan ke masyarakat.
“Puskesmas harus benar-benar menjadi garda terdepan. Bukan hanya mengobati, tapi memastikan masyarakat paham dan mau menjaga kesehatannya,” tegasnya.
Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara puskesmas, dinas kesehatan, dan pemangku kebijakan untuk memperkuat upaya promotif dan preventif di daerah.
“Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi agar persoalan kesehatan di Tulungagung bisa ditekan,” pungkasnya.(sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri