Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kasus Suspek Campak di Tulungagung Capai 44, Dinkes Gencarkan Imunisasi Kejar untuk Cegah Penyebaran

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 1 April 2026 | 09:32 WIB
Hingga pertengahan Maret atau minggu ke-10 terdapat 44 suspek campak yang terdeteksi di sejumlah wilayah di Tulungagung.(freepik.com)
Hingga pertengahan Maret atau minggu ke-10 terdapat 44 suspek campak yang terdeteksi di sejumlah wilayah di Tulungagung.(freepik.com)

RADAR TULUNGAGUNG Temuan kasus suspek campak di Tulungagung masih menjadi perhatian pada awal 2026.

Dinas kesehatan (dinkes) setempat mencatat hingga pertengahan Maret atau minggu ke-10 terdapat 44 suspek campak yang terdeteksi di sejumlah wilayah.

Kepala Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, menjelaskan bahwa gejala campak merujuk pada definisi operasional, yakni demam disertai ruam kemerahan yang diikuti batuk, pilek, serta mata merah.

"Gejala tersebut menjadi dasar penetapan kasus suspek di lapangan," ujarnya.

Baca Juga: Kasus Suspek Campak di Tulungagung Naik 3 Kali Lipat Awal 2026, Dinkes Temukan 38 Kasus dan Gencarkan Imunisasi Kejar

Dari total suspek yang ditemukan, sebagian besar telah ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium.

Sebanyak 38 spesimen telah diambil, terdiri dari 43 serum darah dan satu spesimen urine yang dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.

Hingga laporan ini disusun, baru hasil dari spesimen urine yang telah keluar dan menunjukkan hasil positif campak.

Sementara itu, hasil pemeriksaan serum darah masih dalam proses. 

Baca Juga: Kasus Campak Indonesia Nomor Dua Terbesar di Dunia, Ini Gejala, Komplikasi, dan Pentingnya Imunisasi Campak 3 Kali

Untuk penegakan diagnosis, spesimen utama yang digunakan adalah serum darah. Sedangkan urine hanya sebagai pemeriksaan penunjang untuk mengetahui genotipe virus, jelasnya.

Jika melihat tren tiga tahun terakhir, jumlah temuan kasus campak di Tulungagung cenderung fluktuatif.

Pada 2023 ditemukan 109 kasus, terdiri dari 9 positif campak dan 2 rubela. Kemudian, pada 2024 turun menjadi 80 kasus dengan 1 positif campak dan 6 rubella. Sementara pada 2025 tercatat 74 kasus dengan 5 positif campak dan 3 rubella.

Desi -sapaan akrabnya- melanjutkan, seiring meningkatnya temuan kasus campak secara nasional pada 2026, pemerintah pusat melalui rekomendasi WHO mendorong pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di sejumlah wilayah.

Baca Juga: KLB Campak Mengancam! Indonesia Terancam Gagal Eliminasi Campak 2026, Vaksinasi Jadi Kunci Selamatkan Anak Bangsa

Di Jawa Timur, ORI difokuskan di Jember dan Pamekasan.

Untuk daerah lain, termasuk Tulungagung, pemerintah mengarahkan pelaksanaan program Catch Up Campaign atau imunisasi kejar campak yang digelar serentak selama Maret hingga April 2026,” ungkapnya.

Wanita ramah ini menyebut, program ini menyasar anak usia di bawah 5 tahun yang belum mendapatkan imunisasi campak lengkap sebanyak dua dosis.

Dinkes berharap upaya tersebut mampu meningkatkan kekebalan kelompok sekaligus menekan potensi penyebaran kasus.

"Kami mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk memastikan anaknya mendapatkan imunisasi lengkap. Ini menjadi langkah penting dalam pencegahan campak," tandas Desi. (sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#kasus suspek campak #campak #kesehatan #dinkes tulungagung