Radar Tulungagung – Menentukan hari pelaksanaan khitan atau sunatan masih menjadi tradisi yang dipertahankan oleh sebagian masyarakat Jawa. Selain mempertimbangkan kesiapan keluarga dan kondisi kesehatan anak, tidak sedikit orang tua yang memilih waktu sunatan berdasarkan perhitungan Primbon Jawa.
Dalam tradisi tersebut, hari kelahiran anak dipercaya menjadi acuan utama untuk menentukan waktu khitan yang dianggap membawa kelancaran. Jika memungkinkan, pelaksanaan dilakukan tepat pada hari dan pasaran yang sama dengan weton kelahiran anak.
Apabila jadwal tersebut sulit dipenuhi, pelaksanaan pada hari kelahiran tanpa harus sama pasarannya tetap dianggap sebagai alternatif yang baik menurut perhitungan Primbon.
Weton Menjadi Acuan Utama
Menurut Primbon Jawa, anak yang lahir pada hari Minggu dianjurkan menjalani khitan pada Minggu sesuai wetonnya. Jika tidak memungkinkan, hari Minggu tetap menjadi pilihan terbaik. Selain itu, Senin, Rabu, Kamis, dan Sabtu juga dinilai baik.
Bagi anak yang lahir pada hari Senin, waktu yang paling dianjurkan adalah Senin sesuai pasaran kelahirannya. Alternatif lainnya ialah Selasa, Kamis, Jumat, dan Minggu.
Sementara anak yang lahir pada hari Selasa dipercaya baik menjalani khitan pada Selasa, kemudian Rabu, Jumat, Sabtu, atau Senin.
Untuk anak yang lahir pada hari Rabu, pelaksanaan sunatan disarankan pada Rabu sesuai weton. Hari Kamis, Sabtu, Minggu, dan Selasa juga dianggap membawa pengaruh baik.
Hari Kamis hingga Sabtu
Anak yang lahir pada Kamis dianjurkan dikhitan pada Kamis atau hari kelahirannya. Selain itu, Jumat, Minggu, Senin, dan Rabu juga termasuk hari yang dinilai baik.
Bagi anak yang lahir pada Jumat, waktu yang paling dianjurkan ialah Jumat sesuai weton. Alternatif lainnya adalah Minggu, Senin, Selasa, dan Kamis.
Sedangkan anak yang lahir pada Sabtu dipercaya paling baik menjalani khitan pada Sabtu dengan pasaran kelahirannya. Hari Minggu, Selasa, Rabu, dan Jumat juga disebut sebagai pilihan yang baik menurut Primbon Jawa.
Makna di Balik Tradisi
Masyarakat Jawa sejak dahulu meyakini bahwa pemilihan hari yang tepat bukan sekadar tradisi, tetapi juga merupakan doa dan harapan agar anak memperoleh keselamatan, kesehatan, serta kehidupan yang baik setelah menjalani khitan.
Selain itu, tradisi ini juga diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Meski demikian, perhitungan hari baik dalam Primbon tidak bersifat mengikat. Keputusan tetap berada di tangan masing-masing keluarga sesuai keyakinan dan kondisi yang dihadapi.
Di samping mempertimbangkan hari pelaksanaan, orang tua juga dianjurkan memastikan kondisi fisik anak dalam keadaan sehat, memilih tenaga medis yang kompeten, serta mempersiapkan proses pemulihan setelah khitan agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan nyaman.
Dengan perpaduan antara persiapan yang matang, doa, serta pelaksanaan yang sesuai dengan kondisi keluarga, prosesi sunatan diharapkan berjalan lancar dan menjadi momen penting bagi tumbuh kembang anak.
Editor : M. Helmi Nurhisam