TULUNGAGUNG, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Kondisi kesehatan mental mahasiswa menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesejahteraan psikologis. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rahmat Hidayat, mengungkap sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi mental mahasiswa, mulai dari tekanan akademik, pengalaman traumatis, hingga persoalan keluarga.
Dalam sebuah diskusi mengenai kesehatan mental mahasiswa, Dr. Rahmat menjelaskan bahwa isu mental health tidak hanya berkaitan dengan gangguan psikologis, tetapi juga mencakup kemampuan seseorang untuk mengembangkan potensi diri, menemukan kebermaknaan hidup, dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Menurutnya, kesehatan mental perlu dipahami secara menyeluruh, tidak hanya melihat sisi permasalahan, tetapi juga berbagai potensi positif yang dimiliki generasi muda.
Kesehatan Mental Tidak Hanya Tentang Gangguan Psikologis
Dr. Rahmat menjelaskan bahwa selama ini pembahasan mengenai kesehatan mental sering kali lebih banyak menyoroti aspek negatif, seperti depresi, kecemasan, perilaku agresif, hingga kasus melukai diri.
Namun, kesehatan mental sebenarnya memiliki spektrum yang lebih luas. Kondisi tersebut juga mencakup kemampuan individu dalam mengelola stres, bekerja secara produktif, membangun hubungan sosial, serta mengembangkan kemampuan diri.
Ia menilai generasi muda saat ini juga memiliki banyak sisi positif, seperti kreativitas tinggi, inovasi, dan kemampuan menciptakan berbagai terobosan yang berdampak bagi masyarakat.
Karena itu, masyarakat perlu melihat fenomena kesehatan mental secara berimbang, bukan hanya dari sisi masalah yang muncul, tetapi juga berbagai capaian positif mahasiswa dan pemuda Indonesia.
Masalah Mental Mahasiswa Dipengaruhi Banyak Faktor
Dalam konteks mahasiswa UGM yang berjumlah sekitar 65 ribu orang, Dr. Rahmat menyebut bahwa dalam kondisi normal selalu ada sebagian mahasiswa yang mengalami persoalan kesehatan mental.
Ia mengutip data kesehatan yang menunjukkan bahwa sebagian populasi memiliki risiko mengalami masalah kesehatan mental berat maupun gangguan psikologis umum.
Berdasarkan penjaringan yang dilakukan UGM, ditemukan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kerentanan mahasiswa terhadap masalah mental. Salah satunya adalah pengalaman traumatis.
Menurutnya, sekitar 45 persen mahasiswa yang terdata pernah mengalami setidaknya satu pengalaman traumatis dalam kehidupannya.
Pengalaman tersebut beragam, mulai dari kejadian umum seperti kecelakaan hingga pengalaman berat seperti kekerasan dalam keluarga, kekerasan fisik, ancaman seksual, maupun perundungan.
Trauma masa lalu dapat memengaruhi respons seseorang ketika menghadapi tekanan baru. Misalnya, seseorang yang pernah mengalami kekerasan dapat memiliki rasa takut berlebihan ketika mendapatkan teguran atau menghadapi situasi tertentu di lingkungan kampus.
Baca Juga: Perbedaan DTSEN dan DTKS, Ini Penjelasan Lengkap Data Acuan Penyaluran PKH dan BPNT
Pandemi Covid-19 Berpengaruh pada Relasi Sosial Mahasiswa
Dr. Rahmat juga menyoroti dampak pandemi Covid-19 terhadap kondisi psikologis mahasiswa.
Menurutnya, masa pandemi yang membuat banyak pelajar menjalani pendidikan secara terisolasi di rumah selama hampir dua tahun memberikan pengaruh terhadap perkembangan sosial sebagian mahasiswa.
Masa sekolah menengah merupakan periode penting dalam pembentukan identitas, kemampuan bersosialisasi, dan membangun relasi. Ketika proses tersebut terganggu akibat pandemi, sebagian mahasiswa mengalami tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru.
Selain itu, peningkatan penggunaan teknologi dan gadget selama pandemi juga mengubah pola komunikasi generasi muda.
Interaksi yang sebelumnya dilakukan secara langsung banyak bergeser menjadi komunikasi melalui layar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan membaca ekspresi, memahami emosi, serta membangun hubungan sosial lintas generasi.
Keluarga Menjadi Faktor Penting Kesehatan Mental
Menurut Dr. Rahmat, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kondisi mental seseorang.
Keluarga dapat menjadi tempat pertama yang memberikan dukungan psikologis, tetapi dalam beberapa kasus juga dapat menjadi sumber tekanan.
Ia mencontohkan adanya tuntutan orang tua yang terlalu tinggi kepada anak, terutama ketika anak berhasil masuk perguruan tinggi ternama seperti UGM.
Beberapa orang tua terkadang mendorong anak mencapai cita-cita yang dahulu belum berhasil mereka raih. Akibatnya, pilihan pendidikan atau karier anak tidak selalu sesuai dengan minat dan kemampuan pribadi.
Kondisi tersebut dapat menjadi tekanan psikologis apabila komunikasi antara anak dan keluarga tidak berjalan dengan baik.
Mahasiswa Vokasi Dinilai Memiliki Keuntungan
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Rahmat juga memberikan pandangan mengenai kondisi mahasiswa sekolah vokasi.
Menurutnya, mahasiswa vokasi memiliki keuntungan karena proses pembelajaran lebih banyak melibatkan praktik, kerja tim, dan pengalaman yang mendekati dunia kerja.
Hal tersebut dapat meningkatkan efikasi diri atau keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi tantangan.
Mahasiswa vokasi dinilai memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, kerja sama, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Meski demikian, setiap mahasiswa tetap memiliki tantangan psikologis masing-masing sehingga dukungan kesehatan mental tetap diperlukan.
UGM sendiri telah menyediakan layanan dukungan psikologis melalui unit layanan kesehatan mental, fakultas, hingga layanan konsultasi psikologi dan psikiatri.
Mahasiswa maupun civitas akademika diimbau tidak ragu mencari bantuan ketika mengalami tekanan psikologis. Menurut Dr. Rahmat, meminta dukungan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental sejak dini.
Baca Juga: Cara Daftar DTSEN Online dan Offline, Ini Syarat agar Berpeluang Dapat Pemutihan Tunggakan BPJS
Editor : Cholifatun Nisak