Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Apakah Jalan Kaki 10.000 Langkah Menjamin Kita Pasti Sehat? Ini Penjelasan Medis dan Strategi Bakar Lemak yang Tepat!

Natasha Eka Safrina • Rabu, 15 Juli 2026 | 20:25 WIB
Apakah target jalan kaki 10000 langkah menjamin kesehatan? Intip penjelasan zona pembakaran lemak tubuh dan bahaya efek over-training bagi otot.(Pinterest)
Apakah target jalan kaki 10000 langkah menjamin kesehatan? Intip penjelasan zona pembakaran lemak tubuh dan bahaya efek over-training bagi otot.(Pinterest)

 

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Aktivitas berjalan kaki kini telah menjadi parameter global dalam menilai tingkat kebugaran fisik masyarakat modern. Banyak orang meyakini bahwa dengan memenuhi target harian tertentu, kesehatan tubuh secara otomatis akan terjamin sepenuhnya.

Namun, muncul pertanyaan mendasar di kalangan pegiat gaya hidup sehat mengenai apakah target tersebut benar-benar memberikan garansi kesehatan mutlak. Secara umum, pemenuhan target tersebut sebenarnya berfungsi sebagai indikator utama untuk membuktikan bahwa seseorang aktif bergerak secara fisik.

Dalam skala makro, rata-rata jumlah langkah harian bahkan sering dijadikan cerminan kualitas kesehatan dari masyarakat di suatu negara. Berdasarkan data pemantauan global, penduduk Indonesia disinyalir memiliki tingkat kebiasaan melangkah yang sangat minim, bahkan kerap berada di bawah angka 5.000 langkah per hari.

Peran Indikator Gerak dan Kombinasi Latihan Otot

Rendahnya angka keaktifan bergerak masyarakat memicu kampanye masif untuk mengingatkan publik agar minimal mencapai target harian tersebut demi memutus kebiasaan malas bergerak. Meskipun indikator ini sangat baik untuk kesehatan kardiovaskular, tubuh manusia sejatinya membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh dari sekadar melangkah.

Baca Juga: Manfaat Olahraga Lari Bagi Kesehatan Menurut Dokter Mustofa: Solusi Penyakit Dalam hingga Kunci Jantung Sehat!

Solusi kebugaran yang ideal tidak hanya berfokus pada upaya melatih kekuatan otot jantung, melainkan wajib diimbangi dengan upaya melatih kekuatan otot rangka. Oleh karena itu, para ahli sangat menyarankan adanya kombinasi yang seimbang antara olahraga kardio dan pengencangan jaringan otot melalui latihan beban untuk otot (resistance training).

Jika seseorang tidak sempat meluangkan waktu khusus untuk berolahraga, aktivitas melangkah di sepanjang hari tetap memiliki kontribusi besar bagi metabolisme tubuh. Dalam dunia kebugaran, pembakaran energi melalui aktivitas harian non-olahraga ini dikenal dengan istilah NEAT atau non-exercise activity thermogenesis.

Sebaliknya, jika pembakaran kalori didapatkan dari sesi olahraga terstruktur, proses tersebut dinamakan EAT atau exercise activity thermogenesis. Kedua mekanisme ini sangat krusial dalam membantu tubuh mengelola timbunan kalori, asalkan tetap dikombinasikan dengan pengaturan pola makan yang disiplin.

Baca Juga: Manfaat Rutin Lari Bagi Tubuh Setiap Hari: Rahasia Tubuh Segar, Otak Cerdas, hingga Sukses Bakar Lemak!

Strategi Berjalan vs Berlari Berdasarkan Profil Fisik

Mengenai perbandingan efektivitas antara metode berjalan kaki atau berlari cepat, dunia medis menyepakati prinsip bahwa tidak ada satu program yang cocok untuk semua orang (there is no such thing as one size fits all). Setiap rancangan aktivitas fisik harus disesuaikan secara personal berdasarkan kondisi spesifik masing-masing individu (tailor-made).

Bagi masyarakat yang memiliki kondisi berat badan berlebih atau overweight, aktivitas berlari bukanlah opsi yang bijak karena berisiko membebani persendian kaki secara berlebihan. Pada kondisi fisik seperti ini, berjalan kaki menjadi pilihan strategi yang jauh lebih aman dan direkomendasikan.

Sebaliknya, jika seseorang memiliki berat badan yang ideal, intensitas latihan fisik tersebut dapat ditingkatkan secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi. Tolok ukur utama yang digunakan untuk mengontrol intensitas olahraga kardio adalah menghitung detak jantung maksimal per menit.

Rumus dasar medis untuk menghitung batas tertinggi denyut nadi ini adalah angka 220 dikurangi dengan usia terupdate dari pengendara tubuh. Batasan angka ini nantinya akan menentukan jenis sumber energi apa yang akan dibakar oleh tubuh selama beraktivitas.

Mekanisme Zona Pembakaran Lemak Tubuh

Apabila target utama dari aktivitas olahraga adalah sekadar menghancurkan kandungan gula dalam darah, intensitas gerak cukup dijaga agar denyut nadi berada di bawah kisaran 60 persen dari detak maksimal. Namun, jika ingin memasuki zona pembakaran lemak tubuh secara optimal (fat burning zone), denyut nadi harus dipacu hingga mencapai kisaran 60 sampai 80 persen dari detak maksimal.

Proses pemanfaatan lemak ini baru akan terjadi secara efektif ketika kehadiran hormon insulin di dalam aliran darah sudah mulai menurun atau habis. Setelah melewati ambang batas tersebut, molekul gula dalam darah akan terbakar sepenuhnya.

Sebagai kelanjutannya, tubuh secara otomatis akan mencari sumber daya energi alternatif untuk menopang pergerakan fisik yang sedang berlangsung. Pada fase inilah tubuh mulai mencairkan tabungan energi jangka panjang yang tersimpan dalam bentuk molekul trigliserida.

Oleh sebab itu, jalan kaki dengan kecepatan konstan merupakan strategi yang sangat efektif untuk memangkas jaringan lemak tanpa membebani tubuh secara radikal. Berlari cepat juga memberikan hasil yang baik, asalkan intensitasnya terkontrol dengan matang.

Bahaya Berlatih Berlebihan dan Pemulihan Fisik

Pengendara tubuh wajib berhati-hati agar intensitas olahraga berat tidak sampai melampaui batas 80 persen dari denyut nadi maksimal. Jika olahraga dipaksakan melebihi batas tersebut dalam durasi yang terlampau lama, tubuh akan memicu proses biokimia negatif yang disebut glukoneogenesis.

Proses ini merupakan mekanisme pembentukan glukosa baru di mana tubuh terpaksa memecah protein yang ada pada jaringan otot untuk diubah menjadi energi. Kondisi ini merugikan karena justru menyusutkan massa otot rangka yang sudah dibangun.

Latihan yang dipaksakan melampaui batas kemampuan biologis ini juga memicu efek over-training yang kerap berpasangan dengan fase pemulihan yang buruk (under-recovering). Tubuh yang mengalami kelelahan kronis dan kurang istirahat justru akan mengalami penurunan performa kesehatan secara umum.

Namun di sisi lain, masyarakat juga dilarang keras untuk terjebak dalam gaya hidup santai tanpa gerak (sedentary lifestyle). Kurangnya aktivitas fisik ditambah dengan pola makan yang tidak terkontrol merupakan pemicu utama terjadinya penumpukan lemak berbahaya di dalam tubuh.

Kesimpulannya, target melangkah harian merupakan pengingat yang sangat baik untuk menjaga tubuh agar tetap aktif bergerak sepanjang hari. Namun, jaminan kesehatan sejati hanya bisa diraih jika aktivitas tersebut dipadukan dengan olahraga terstruktur, latihan beban, hidrasi harian yang cukup, serta pengaturan jadwal makan yang sesuai kebutuhan.

Editor : Natasha Eka Safrina
manfaat jalan kaki 10000 langkah manfaat jalan kaki 10000 langkah setiap hari bagi kesehatan jantung dan pembakaran lemak pembakaran lemak tubuh non-exercise activity thermogenesis menghitung detak jantung maksimal