KPAD Tulungagung Ungkap 6 dari 10 Remaja Diduga Sudah Berhubungan Seks, Kasus HIV Usia 15-19 Tahun Jadi Sorotan

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 09:44 WIB
Dinkes Tulungagung mencatat sejak 2006 hingga 2026 terdapat 630 orang berusia 15-24 tahun yang terdiagnosis HIV.(ILUSTRASI AI)
Dinkes Tulungagung mencatat sejak 2006 hingga 2026 terdapat 630 orang berusia 15-24 tahun yang terdiagnosis HIV.(ILUSTRASI AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena perilaku seksual remaja di Tulungagung menjadi perhatian serius.

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Tulungagung mengungkapkan, sekitar 6 dari 10 remaja di daerah ini diduga telah melakukan hubungan seksual.

Kondisi tersebut beriringan dengan tingginya temuan kasus HIV pada kelompok usia muda.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mencatat, sejak 2006 hingga 2026 terdapat 630 orang berusia 15-24 tahun yang terdiagnosis HIV.

Bahkan, pada 2026 terjadi pergeseran usia penderita baru, di mana kelompok 15-19 tahun menjadi kelompok dengan temuan kasus terbanyak.

Mayoritas masih berada pada usia sekolah.

Sekretaris I KPAD Tulungagung Ifada Nur Rohmaniah mengatakan, tren tersebut menjadi sinyal bahwa edukasi kesehatan reproduksi dan seksualitas bagi remaja masih belum optimal.

Baca Juga: Dinkes Tulungagung Bekali Siswa Bahaya HIV/AIDS dan Cegah Bullying di MPLS

Yang menjadi perhatian sekarang justru usia 15 sampai 19 tahun. Itu sudah usia sekolah. Ini yang harus menjadi perhatian bersama," ujarnya.

Ifada menegaskan, data yang dipublikasikan KPAD bukan berasal dari pendataan internal lembaganya.

Seluruh data merupakan hasil pencatatan dinkes melalui layanan kesehatan di puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Temuan kasus HIV tersebut merupakan sinergitas tiga pilar KPAD, dinkes (layanan kesehatan), hingga LSM yang concern terhadap kasus HIV.

"KPAD hanya mempublikasikan sebagai lembaga daerah yang memiliki peran koordinasi, monitoring, evaluasi, serta penyusunan kebijakan terkait HIV/AIDS. Data berasal dari dinkes melalui layanan kesehatan dan sinergi dengan teman-teman yang concern pada isu HIV/AIDS," jelasnya.

Menurut dia, meningkatnya angka temuan juga dipengaruhi semakin aktifnya proses skrining dan penemuan kasus yang dilakukan tiga pilar penanggulangan HIV, yakni KPAD, dinkes beserta jejaring layanan kesehatan, serta LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS.

Baca Juga: Kejar Eliminasi HIV/AIDS 2030, Dinkes Tulungagung Minta Masyarakat Hentikan Stigma terhadap ODHIV

"Kenapa kasusnya terlihat banyak? Karena kita aktif menemukan. Jadi bukan semata-mata kasusnya baru muncul, tetapi sistem penemuannya juga semakin aktif," katanya.

KPAD juga mengimbau remaja yang telah aktif secara seksual agar tidak takut berkonsultasi kepada KPAD. Layanan konseling di KPAD maupun fasilitas kesehatan dapat diakses tanpa dipungut biaya.

"Silakan datang untuk konsultasi. Gratis. Tujuannya agar mereka memahami cara menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah penularan HIV maupun IMS," katanya.

Ifada berharap masyarakat tidak sekadar terkejut dengan tingginya angka kasus yang dipublikasikan.

Menurutnya, data tersebut harus menjadi alarm bagi orang tua, sekolah, dan lingkungan untuk memperkuat edukasi kepada remaja.

"Kasus ini dipublikasikan bukan untuk membuat gaduh, tetapi agar semua pihak mengambil sikap. Ajak anak berdiskusi, dampingi mereka, dan beri edukasi," pungkasnya. (sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
kpad tulungagung hubungan seksual hiv/aids remaja