JAKARTA - Penyakit diabetes tipe 2 dapat mengintai dan dialami oleh semua orang tanpa mengenal batasan usia. Penderita wajib mewaspadai gejala diabetes tipe 2 agar pencegahan serta penanganan medis dapat dilakukan secara sedini mungkin.
Kondisi kronis ini terjadi saat tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup sehingga memicu gejala diabetes tipe 2. Penumpukan tersebut mengakibatkan peningkatan kadar gula darah melebihi batas normal yang ditetapkan.
Mengenali gejala diabetes tipe 2 menjadi kunci utama untuk mendeteksi gangguan kesehatan ini sejak awal. Terdapat 11 tanda serta indikator gula darah yang wajib dipahami oleh masyarakat umum.
Ketidakmampuan Sel Menyerap Glukosa dan Frekuensi Buang Air Kecil
Tanda pertama yang paling sering muncul pada penderita diabetes tipe 2 adalah frekuensi buang air kecil yang meningkat pesat. Kondisi ini dipicu oleh ketidakmampuan sel-sel di dalam tubuh untuk menyerap glukosa secara efektif.
Akibat penumpukan tersebut, organ ginjal bekerja ekstra untuk membuang kelebihan glukosa melalui saluran kemih atau urin. Proses pembuangan berlebih inilah yang menyebabkan seseorang menjadi sangat sering buang air kecil.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, seseorang dikategorikan sering buang air kecil jika mengeluarkan urin dalam jumlah jauh melebihi batas biasanya. Penderita bahkan bisa mengeluarkan urin hingga sebanyak 5 liter dalam kurun waktu sehari.
Rasa Haus Berlebihan dan Penurunan Berat Badan Secara Drastis
Dampak langsung dari tingginya frekuensi buang air kecil adalah hilangnya cairan tubuh secara berlebihan dari kondisi normal. Hal ini menyebabkan penderita diabetes tipe 2 menjadi sangat mudah merasa haus sepanjang hari.
Selain rasa haus, penurunan berat badan secara drastis dan cepat juga menjadi pertanda penting yang patut dicurigai. Kadar gula darah yang terlampau tinggi menyebabkan pembakaran energi tubuh menjadi tidak optimal.
Dalam rentang waktu singkat antara 2 hingga 3 bulan, seseorang bisa kehilangan berat badan mencapai 4 sampai 8 kilogram. Penurunan bobot tubuh ini terjadi tanpa adanya perencanaan diet khusus dari penderita.
Kelaparan Akibat Kekurangan Energi dan Masalah Gatal pada Kulit
Rasa lapar yang terus-menerus muncul menjadi gejala berikutnya akibat kadar glukosa darah berada di tingkat tinggi secara tidak normal. Glukosa tidak mampu masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk diolah menjadi cadangan energi harian.
Kondisi tersebut membuat tubuh terus mengalami kekurangan energi sehingga mengirimkan sinyal rasa lapar secara berulang. Penderita akan merasa terus haus dan ingin makan meski sudah mengonsumsi makanan.
Di samping itu, kadar glukosa darah yang tinggi juga dapat memicu berbagai masalah pada jaringan kulit. Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan penderita adalah rasa gatal pada area kulit tertentu.
Penumpukan gula darah ini mengganggu sirkulasi darah serta memicu infeksi jaringan kulit pada tubuh penderita. Gangguan sirkulasi ini jika dibiarkan akan memperburuk kondisi kesehatan kulit secara keseluruhan.
Lambatnya Penyembuhan Luka dan Risiko Infeksi Bakteri serta Jamur
Gejala penyembuhan luka yang sangat lambat menjadi masalah klasik yang sering dialami oleh para penderita diabetes. Gejala ini timbul akibat adanya gangguan pada sirkulasi darah kulit serta kerusakan jaringan saraf.
Luka terbuka yang sering disebut sebagai luka diabetik merupakan masalah umum yang paling sering ditemui pada area kaki. Luka kecil dapat berkembang menjadi parah karena proses regenerasi jaringan tubuh terhambat.
Selain luka yang sulit sembuh, penderita diabetes tipe 2 juga sangat rentan mengalami serangan infeksi. Hal ini terjadi karena mikroorganisme seperti bakteri dan jamur dapat tumbuh sangat subur di lingkungan tubuh yang kaya gula.
Infeksi jamur dan bakteri ini umumnya berkembang pesat pada beberapa area sensitif tubuh penderita. Area yang sering terinfeksi meliputi area vagina, mulut, tenggorokan, serta permukaan jaringan kulit.
Kelelahan Tubuh, Penglihatan Kabur, dan Sensasi Kesemutan
Penderita diabetes tipe 2 kerap kali merasakan kondisi tubuh yang mudah merasa lelah saat menjalani aktivitas sehari-hari. Rasa lelah yang berkepanjangan ini terjadi lantaran tubuh mengalami kekurangan asupan glukosa yang berguna sebagai bahan bakar sel.
Tingginya kadar gula di dalam tubuh juga berdampak langsung pada organ penglihatan penderita. Kadar gula berlebih dapat memicu masalah pembiasan pada mata sehingga menyebabkan pandangan mata menjadi kabur atau samar.
Gejala fisik lainnya yang kerap dialami adalah munculnya rasa kesemutan pada anggota tubuh tertentu. Sensasi kesemutan ini menandakan bahwa sistem saraf telah mengalami kerusakan akibat komplikasi dari tingginya kadar gula darah.
Kerusakan sistem saraf atau neuropati ini terjadi secara bertahap seiring dengan lamanya kadar gula darah tidak terkontrol. Penanganan sejak dini sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan saraf yang lebih parah.
Indikator Kadar Gula Darah dan Kategori Prediabetes
Gula darah yang melonjak tinggi melebihi batas normal merupakan gejala paling khas dari penderita diabetes tipe 2. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar gula darah secara teratur sangat penting dilakukan untuk pemantauan rutin.
Salah satu metode pengujian yang paling umum diterapkan di fasilitas kesehatan adalah tes gula darah puasa. Hasil dari tes ini akan menentukan status kesehatan metabolisme glukosa di dalam tubuh seseorang.
Berdasarkan standar medis, batas normal kadar gula darah puasa seseorang adalah berada di angka 99 mg/dL. Hasil pemeriksaan ini menunjukkan bahwa sistem pengolahan gula darah dalam tubuh berfungsi dengan baik.
Sementara itu, jika hasil tes menunjukkan angka di rentang 100 hingga 125 mg/dL, seseorang dikategorikan mengalami prediabetes. Kondisi prediabetes ini merupakan sinyal bahaya yang perlu diwaspadai sebelum berkembang penuh menjadi diabetes tipe 2.
Pemeriksaan gula darah secara berkala dan penanganan pola hidup sehat menjadi langkah krusial untuk mencegah komplikasi. Selalu jaga kesehatan tubuh agar terhindar dari risiko penyakit kronis ini.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : kompas.com