JAKARTA - Penyakit diabetes merupakan salah satu jenis gangguan kesehatan kronis yang paling banyak dijumpai masyarakat dalam pemeriksaan medis harian. Praktisi kesehatan dr. Saddam Ismail mengungkapkan bahwa pola makan yang tidak sehat serta gaya hidup pasif menjadi pemicu utama maraknya kasus penyakit diabetes.
Secara medis, gejala dini diabetes pada wanita pada dasarnya memiliki beberapa kesamaan dengan indikator umum yang dialami oleh kaum pria. Kondisi tersebut meliputi gampang merasa lapar, gampang haus, sering kencing terutama di malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab, pandangan buram, luka sulit sembuh, serta tubuh terasa lemas.
Meski demikian, terdapat beberapa gejala dini diabetes pada wanita yang bersifat khas dan cenderung khusus dialami oleh kaum hawa. Mengenali tanda-tanda khusus ini secara awal sangat penting agar proses pengobatan medis dapat dilakukan sedini mungkin.
Baca Juga: Arta Bonsai Batu Simpan Cemara 100 Tahun Seharga Rp750 Juta, Dirintis Keluarga Sejak 1979
Perubahan Siklus Menstruasi dan Ketidakseimbangan Hormon
Gejala khusus pertama yang kerap dialami penderita wanita adalah munculnya masalah atau perubahan pada siklus menstruasi harian. Peningkatan kadar gula darah yang tinggi dapat memicu ketidakseimbangan sistem hormonal di dalam tubuh wanita.
Merujuk pada data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), siklus menstruasi yang menjadi lebih panjang bisa menjadi indikator awal diabetes. Ketidakseimbangan hormon ini juga membuat wanita sering kali merasa sulit mengendalikan nafsu makan.
Saat masa menstruasi berlangsung, timbul kecenderungan untuk mengonsumsi makanan porsi besar serta makanan bergula tinggi. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis ini pada akhirnya menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi secara terus-menerus.
Disfungsi Seksual dan Gangguan Sirkulasi Darah
Tingginya kadar gula darah dapat memicu komplikasi berupa neuropati diabetik atau gangguan fungsi pada sistem saraf tubuh. Selain itu, kadar gula darah yang tinggi membuat konsistensi darah menjadi lebih kental sehingga sirkulasi darah terganggu.
Gangguan sirkulasi darah yang tidak lancar ini turut berdampak langsung pada organ reproduksi atau vagina penderita. Dampaknya, respon wanita terhadap pencapaian orgasme menjadi berkurang secara signifikan saat berhubungan suami istri.
Kondisi tersebut juga memicu rasa nyeri saat berhubungan seksual akibat produksi cairan lubrikasi alami vagina yang terganggu dan mengering. Penurunan hasrat atau gairah seksual pada wanita kerap menjadi dampak lanjutan dari komplikasi ini.
Risiko Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
Kondisi medis berikutnya yang berkaitan erat dengan risiko diabetes pada wanita adalah Sindrom Ovarium Polikistik atau Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). PCOS merupakan kondisi pembentukan kista-kista kecil pada indung telur akibat sel telur yang tidak matang sempurna.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa penderita PCOS mengalami ketidakseimbangan hormon, khususnya peningkatan kadar hormon androgen. Kondisi ketidakseimbangan hormonal tersebut berpotensi besar memicu timbulnya resistensi insulin dalam tubuh.
Resistensi insulin akibat PCOS ini menjadi awal mula munculnya gejala prediabetes pada kaum wanita. Kondisi prediabetes yang tidak tertangani dengan baik akan meningkatkan risiko wanita mengidap diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Infeksi Jamur Vagina dan Lingkungan Subur Glukosa
Wanita yang mengidap gula darah tinggi memiliki risiko sangat tinggi terkena serangan infeksi jamur pada area vagina. Kadar gula darah yang tinggi menyebabkan cairan urin yang dikeluarkan saat buang air kecil mengandung glukosa.
Kandungan glukosa berlebih pada urin tersebut menciptakan lingkungan yang sangat subur bagi perkembangan jamur secara cepat. Saat tidak terkendali, kondisi ini berkembang menjadi candidiasis vaginalis atau infeksi jamur pada vagina.
Infeksi jamur vagina menimbulkan beberapa gejala klinis seperti rasa gatal, rasa nyeri, serta munculnya kemerahan di sekitar area vagina. Penderita juga merasakan nyeri saat berhubungan seksual serta mengeluarkan cairan kental berwarna putih dari vagina.
Infeksi Jamur Mulut atau Candidiasis Oral
Tingginya kadar glukosa dalam aliran darah yang dikombinasikan dengan kebersihan area mulut yang buruk dapat memicu infeksi jamur mulut. Kondisi infeksi jamur pada rongga mulut ini dikenal secara medis sebagai candidiasis oral.
Jamur berkembang biak dengan cepat memanfaatkan tingginya kadar gula yang ada di dalam jaringan tubuh penderita. Infeksi ini menimbulkan ketidaknyamanan saat penderita sedang mengonsumsi makanan atau minum.
Gejala klinis yang muncul ditandai dengan ditemukannya bercak-bercak putih pada dinding pipi bagian dalam, gusi, serta permukaan lidah. Bercak putih akibat jamur ini juga dapat menyebar hingga ke area amandel serta saluran kerongkongan.
Rentan Mengalami Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Kandungan gula di dalam cairan urin akibat kadar gula darah tinggi juga mempermudah bakteri dari luar untuk berkembang biak. Bakteri tersebut dapat masuk melalui saluran kemih dan menginfeksi organ kandung kemih penderita.
Kondisi infeksi bakteri pada saluran kemih ini menyebabkan wanita rentan mengalami Infeksi Saluran Kemih (ISK). Berbagai rasa sakit pada organ intim akan mengganggu kenyamanan penderita saat buang air kecil.
Gejala yang dirasakan penderita antara lain rasa sakit atau panas saat kencing, kencing terasa tidak tuntas atau anyang-anyangan. Selain itu, cairan urin penderita ISK dapat berubah warna menjadi keruh atau bahkan bercampur dengan darah.
Peningkatan Gula Darah Saat Hamil atau Diabetes Gestasional
Kondisi gula darah yang mendadak tinggi saat menjalani masa kehamilan dikenal dengan istilah medis diabetes gestasional. Kondisi ini umumnya mulai terdeteksi saat kehamilan memasuki usia trimester kedua atau trimester ketiga hingga proses persalinan selesai.
Diabetes gestasional sering kali tidak menimbulkan gejala klinis yang berarti sehingga penderita baru mengetahuinya saat menjalani pemeriksaan rutin. Pengawasan medis berkala menjadi kunci utama untuk memantau kadar gula darah ibu hamil.
Riwayat mengidap diabetes gestasional selama masa kehamilan akan meningkatkan risiko wanita terkena diabetes tipe 2 di masa depan. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemeriksaan berkala sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi kesehatan yang lebih berat.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : Saddam Ismail