JAKARTA - Kondisi penumpukan lemak di dalam aliran darah atau hiperkolesterolemia menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena dapat memicu komplikasi fatal. Memahami gejala hiperkolesterolemia serta faktor pemicunya sangat penting agar penanganan medis dapat dilakukan secara dini.
Penjelasan lengkap mengenai kondisi medis ini dipaparkan langsung oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Dewi Widyastuti. Peningkatan kadar kolesterol darah ini dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang kelompok usia.
Mengenali berbagai gejala hiperkolesterolemia menjadi acuan utama untuk mengantisipasi kerusakan pembuluh darah. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai keluhan fisik yang muncul serta rutin melakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala.
Pengertian Hiperkolesterolemia dan Jenis Lipoprotein dalam Darah
Secara medis, hiperkolesterolemia didefinisikan sebagai suatu keadaan atau kondisi terjadinya peningkatan kadar kolesterol di dalam darah. Kolesterol itu sendiri sebenarnya merupakan bentuk lemak darah yang berikatan dengan unsur protein atau dikenal sebagai lipoprotein.
Dalam pemeriksaan medis, terdapat empat jenis komponen profile kolesterol yang diperiksa secara bersamaan. Komponen tersebut meliputi Low-Density Lipoprotein (LDL), High-Density Lipoprotein (HDL), trigliserida, serta total kolesterol.
Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan profil kolesterol darah yang akurat, pasien diwajibkan menjalani puasa terlebih dahulu. Kondisi dipuasakan tersebut dilakukan dalam kurun waktu 8 hingga 12 jam sebelum pengambilan sampel darah.
Baca Juga: Era Bonsai Depok Simpan Ribuan Koleksi, Anting Putri 26 Tahun Dibuka Rp150 Juta
Gejala Fisik Hiperkolesterolemia dan Fenomena Asimtomatik
Seseorang yang mengalami hiperkolesterolemia dapat merasakan beberapa keluhan fisik spesifik pada tubuhnya. Gejala yang umum dirasakan antara lain pusing yang hebat, leher terasa kencang-kencang, timbul rasa mual, serta badan terasa tidak enak.
Selain keluhan fisik tersebut, beberapa pasien juga mengeluhkan mengalami kesulitan tidur saat kadar kolesterolnya meningkat. Namun, munculnya keluhan tersebut sering kali tidak terjadi secara bersamaan pada setiap penderita.
Dalam dunia medis, kondisi penderita dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu simptomatik (bergejala) dan asimtomatik (tanpa gejala). Pasien kategori asimtomatik tidak merasakan keluhan apa pun setelah mengonsumsi makanan tinggi kolesterol, baik beberapa jam, hari, maupun minggu setelahnya.
Oleh karena itu, parameter waktu munculnya keluhan tidak dapat dijadikan patokan mutlak bagi seseorang. Pemeriksaan darah tetap menjadi satu-satunya cara objektif untuk mengetahui kepastian kadar kolesterol di dalam tubuh.
Makanan Penyebab Kolesterol Tinggi dari Seafood hingga Otak Sapi
Penelusuran penyebab hiperkolesterolemia sering kali berkaitan erat dengan jenis makanan yang dikonsumsi harian. Terdapat beberapa kelompok bahan makanan yang memiliki kandungan kolesterol sangat tinggi dan patut diwaspadai.
Kelompok makanan laut atau seafood menjadi salah satu pemicu utama, seperti kerang, udang, cumi-cumi, serta kepiting. Meski demikian, bahan makanan jenis ikan dan daging masih diperbolehkan untuk dikonsumsi dalam batas porsi wajar.
Bahan makanan lain yang mengandung kolesterol tinggi adalah daging bebek beserta telurnya, serta daging burung puyuh beserta telurnya. Makanan olahan bersantan serta jeroan seperti usus dan babat juga menyumbang kadar kolesterol yang tinggi.
Di antara seluruh jenis produk makanan tersebut, otak sapi memegang predikat sebagai bahan makanan dengan kandungan kolesterol tertinggi. Mengonsumsi otak sapi secara berlebihan dapat memicu lonjakan kolesterol secara drastis di dalam darah.
Baca Juga: Arta Bonsai Batu Simpan Cemara 100 Tahun Seharga Rp750 Juta, Dirintis Keluarga Sejak 1979
Peran Faktor Genetik dan Gaya Hidup terhadap Kolesterol
Penyebab seseorang mengidap hiperkolesterolemia dapat dibedakan menjadi faktor keturunan atau genetik serta faktor gaya hidup (lifestyle). Pemahaman terhadap kedua pemicu ini sangat menentukan langkah penanganan medis yang akan diambil.
Pada orang dengan faktor genetik, kadar kolesterol dalam darahnya bisa tetap tinggi baik saat mengonsumsi maupun tidak mengonsumsi makanan tinggi kolesterol. Kondisi kolesterol tinggi pada tipe genetik ini tidak dipengaruhi oleh asupan makanan harian penderita.
Sementara itu, pada pasien tanpa faktor keturunan, peningkatan kolesterol murni dipicu oleh faktor gaya hidup yang buruk. Bagi kelompok ini, langkah modifikasi gaya hidup memegang peranan yang sangat penting untuk menormalkan kembali kondisi tubuh.
Panduan Pengobatan dan Imbauan Membatasi Olahan Kacang-kacangan
Pengelolaan dan pengobatan hiperkolesterolemia dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni pengaturan pola makan dan pemberian obat-obatan. Pasien diwajibkan mengurangi atau menghindari konsumsi makanan bersantan, seafood, daging bebek, telur puyuh, serta jeroan.
Pemberian jenis obat-obatan medis sangat bergantung pada gambaran profil kolesterol pasien berdasarkan hasil tes laboratorium. Untuk pasien dengan dominasi peningkatan total kolesterol, dokter dapat memberikan alternatif obat golongan statin atau niasin.
Sementara itu, bagi pasien yang mengalami peningkatan kadar trigliserida, pembatasan asupan makanan golongan kacang-kacangan sangat disarankan. Produk kacang-kacangan seperti buncis, kacang kapri, hingga cokelat yang mengandung kacang almond dapat memicu kenaikan trigliserida.
Mengurangi konsumsi seluruh produk kacang-kacangan menjadi langkah preventif yang sangat efektif untuk menekan kadar trigliserida. Mengutamakan pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati komplikasi yang ditimbulkan di kemudian hari.
Komplikasi Penyakit Kronis dan Kriteria Sindrom Metabolik
Tingginya kadar kolesterol di dalam darah yang dibiarkan tanpa penanganan medis dapat memicu timbulnya komplikasi penyakit mematikan. Beberapa kejadian medis berbahaya yang berkaitan erat dengan kolesterol tinggi adalah serangan stroke serta penyakit jantung koroner.
Selain itu, hiperkolesterolemia juga memiliki keterkaitan erat dengan penyakit diabetes melitus. Kondisi kolesterol tinggi ini menjadi salah satu kriteria utama dalam penegakan diagnosis sindrom metabolik pada seseorang.
Sindrom metabolik merupakan kumpulan gangguan kesehatan yang ditandai oleh beberapa kriteria medis spesifik. Kriteria tersebut meliputi adanya penyakit diabetes, kadar kolesterol tinggi, risiko hipertensi, serta kondisi obesitas sentral.
Obesitas sentral diukur berdasarkan lingkar perut seseorang, yaitu lebih dari 90 sentimeter pada pria dan lebih dari 80 sentimeter pada wanita. Keberadaan kombinasi faktor-faktor ini meningkatkan risiko komplikasi pembuluh darah secara drastis.
Batas Normal Profil Kolesterol dan Pentingnya Konsultasi Medis
Prevalensi hiperkolesterolemia tidak memiliki patokan mutlak berdasarkan usia, karena anak muda pun dapat mengidapnya akibat gaya hidup buruk maupun faktor keturunan dari kedua orang tua. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap nilai ambang batas (cut off point) profil kolesterol sangat diperlukan.
Kadar total kolesterol dikatakan tinggi apabila hasil pemeriksaan menunjukkan angka di atas 200 mg/dL. Untuk trigliserida, nilai ambang batas tinggi berada pada angka lebih dari 130 hingga 150 mg/dL.
Sementara itu, bagi individu dengan faktor risiko penyakit jantung, kadar LDL ketat dikatakan tinggi apabila melebihi angka 100 mg/dL. Sebaliknya, kadar HDL atau kolesterol baik justru semakin bagus jika nilainya semakin tinggi, dengan rentang nilai normal berada di atas 40 hingga 60 mg/dL.
Masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan langkah pencegahan sebelum timbulnya komplikasi yang merugikan tubuh. Konsultasi medis berkala dengan dokter spesialis penyakit dalam sangat dianjurkan untuk menjaga profil darah tetap berada pada batas aman.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : Kata Dokter