JAKARTA - Penurunan fungsi organ tubuh secara alami mulai terjadi dan memicu risiko penyakit metabolik saat seseorang memasuki tips sehat usia 40 tahun. Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes, dr. Wismandari Wisnu, memaparkan strategi menjaga kebugaran tubuh serta mencegah serangan penyakit kronis pada usia senja.
Penerapan panduan tips sehat usia 40 tahun menjadi langkah krusial agar masyarakat tetap bugar dan terhindar dari komplikasi kesehatan. Penurunan kondisi fisik pada usia di atas 40 tahun sering kali memicu berbagai keluhan hingga menyebabkan seseorang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Mengenali perubahan tubuh serta menjalankan tips sehat usia 40 tahun sangat penting dilakukan guna mempertahankan kualitas hidup secara optimal. Berikut ulasan lengkap mengenai perubahan fisik, daftar penyakit rentan, hingga rekomendasi olahraga dari dr. Wismandari Wisnu.
Baca Juga: Rekomendasi 15 Wisata Malang dan Batu yang Wajib Dikunjungi, dari Pantai hingga Kampung Heritage
Perubahan Fisik dan Penurunan Fungsi Indra pada Usia 40 Tahun
Perubahan kondisi tubuh sebenarnya sudah mulai terjadi sejak seseorang menginjak usia 30 tahun. Namun, tanda-tanda penurunan fungsi organ tubuh tersebut akan terlihat jauh lebih jelas saat memasuki usia 40 tahun.
Penurunan fungsi yang paling nyata terjadi pada sistem indra manusia, meliputi indra penglihatan, indra pengecap, serta indra penciuman. Selain fungsi indra, tubuh manusia juga akan mengalami penyusutan fisik secara bertahap seiring bertambahnya usia.
Penyusutan tubuh ini terlihat sangat jelas pada kaum wanita dibandingkan pria akibat terjadinya osteoporosis yang lebih nyata. Penurunan daya tahan tubuh atau sistem imun juga akan sangat terlihat saat seseorang memasuki usia 40 tahun ke atas.
Tanda fisik luar yang mudah diamati antara lain munculnya uban pada rambut serta timbulnya kerutan pada kulit wajah. Selain itu, bagian kelopak mata atas akan semakin turun sehingga mata terkesan terlihat lebih sipit seiring bertambahnya usia.
Deretan Penyakit Metabolik dan Sendi yang Rentan Menyergap
Memasuki rentang usia 40 hingga 50 tahun ke atas, berbagai jenis penyakit kronis mulai mengintai kesehatan tubuh. Kelompok penyakit yang paling sering muncul adalah gangguan metabolik seperti diabetes melitus, hipertensi atau tekanan darah tinggi, serta kolesterol tinggi.
Selain penyakit metabolik, gangguan pada sistem persendian dan otot juga sangat sering dialami oleh kelompok usia ini. Beberapa di antaranya adalah osteoporosis atau tulang keropos, serta pengapuran sendi atau osteoartritis.
Pada kelompok usia di atas 60 tahun, penyakit seperti parkinson juga berpotensi tinggi untuk muncul menyerang sistem saraf. Sementara itu, kaum pria rentan mengalami gangguan organ prostat seiring bertambahnya usia.
Penyakit yang paling perlu diwaspadai adalah gangguan kesehatan jantung, seperti risiko serangan jantung hingga kondisi gagal jantung. Pengawasan kesehatan berkala menjadi kunci utama untuk mengantisipasi bahaya penyakit-penyakit tersebut.
Baca Juga: Harga Bonsai Bisa Naik 200 Persen Usai Menang Kontes, Pak Agung Ungkap Strategi dari Bahan Murah
Makanan yang Wajib Dihindari dan Dianjurkan untuk Dijaga
Prinsip nutrisi menegaskan bahwa apa yang dikonsumsi saat muda akan memberikan dampak langsung ketika memasuki usia 40 tahun. Terdapat beberapa kelompok makanan yang sangat disarankan untuk dihindari guna mencegah lonjakan gula dan kalori.
Makanan pertama yang harus dihindari adalah makanan tinggi gula seperti cake atau kue-kue manis. Minuman bersoda serta minuman kemasan kaleng yang mengandung gula tinggi juga masuk dalam daftar asupan yang wajib dibatasi.
Makanan kedua yang harus dijauhi adalah makanan tinggi lemak, seperti menu cepat saji atau junk food dan fast food. Kelompok ketiga adalah makanan tinggi kalori yang berasal dari karbohidrat sederhana, contohnya nasi putih dan mi instan.
Sebaliknya, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat yang berasal dari aneka jenis sayuran dan buah-buahan. Selain serat, asupan karbohidrat kompleks seperti nasi beras merah sangat disarankan untuk dikonsumsi harian.
Mengonsumsi karbohidrat kompleks beras merah membuat tubuh merasa lebih cepat kenyang dan rasa kenyang tersebut bertahan lebih lama. Pola makan ini jauh lebih sehat dibandingkan mengonsumsi karbohidrat sederhana seperti nasi putih.
Panduan Olahraga Sesuai Kondisi Kesehatan dan Risiko Obesitas
Aktivitas olahraga menjadi kegiatan wajib agar tubuh tetap fit dan bugar di tengah penurunan proses metabolisme. Berbagai jenis olahraga pada dasarnya dibolehkan untuk usia 40 tahun ke atas, seperti yoga, pilates, senam aerobik, lari, jalan cepat, serta bersepeda statis maupun sepeda konvensional.
Kendati demikian, pemilihan jenis olahraga wajib disesuaikan dengan kondisi medis yang baru muncul pada usia 40 tahun. Penderita yang mengalami masalah obesitas dilarang melakukan olahraga lari karena dapat membebani persendian.
Penderita obesitas masih diperbolehkan melakukan olahraga jalan cepat, yoga, pilates, serta berenang secara aman. Bagi penderita penyakit jantung, intensitas olahraga harus disesuaikan dengan berat ringannya kondisi organ jantung penderita.
Orang yang pernah mengalami serangan jantung dilarang melakukan olahraga berat seperti tenis atau badminton. Namun, jika serangan jantung sudah lama berlalu dan kondisi jantung sudah stabil, olahraga tersebut boleh kembali dilakukan.
Adapun bagi penderita pengapuran di area lutut, pantangan olahraganya mirip dengan penderita obesitas. Penderita pengapuran lutut dilarang melakukan olahraga lari, namun masih diperbolehkan berolahraga sepeda serta jalan cepat.
Baca Juga: Era Bonsai Depok Simpan Ribuan Koleksi, Anting Putri 26 Tahun Dibuka Rp150 Juta
Tiga Pilar Pola Hidup Sehat Memasuki Usia 40 Tahun
dr. Wismandari Wisnu membagikan tiga pilar utama pola hidup sehat yang harus diterapkan secara konsisten pada usia 40 tahun. Pilar pertama adalah melakukan olahraga secara rutin dengan total durasi 150 menit dalam satu minggu.
Olahraga rutin tersebut dapat dibagi menjadi 30 hingga 45 menit setiap kali berolahraga, sebanyak 3 sampai 5 kali seminggu. Pilar kedua adalah menerapkan diet seimbang dengan mulai mengurangi asupan kalori harian secara disiplin.
Pengurangan kalori sejak muda hingga usia 40 tahun memberikan efek sangat bermakna dalam mencegah timbulnya penyakit metabolik. Langkah ini terbukti efektif menjaga kestabilan berat badan dan metabolisme organ dalam.
Pilar ketiga yang tidak kalah penting adalah melakukan check up kesehatan secara rutin dan berkala. Pemeriksaan kesehatan rutin bermanfaat untuk mendeteksi dini keberadaan penyakit sehingga proses penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : Hidup Sehat tvOne