RADAR TULUNGAGUNG – Hipertensi dan diabetes melitus masih menjadi ancaman penyakit tidak menular (PTM) di Tulungagung.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mengingatkan masyarakat tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan kesehatan.
“Masyarakat perlu lebih peduli dengan kondisi kesehatannya melalui pemeriksaan rutin dan pola hidup sehat,” ujar Kabid P2P Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Hasil skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Tulungagung menunjukkan cakupan pemeriksaan warga masih rendah.
“Sampai sekarang realisasi pemeriksaan baru sekitar 17–18 persen dari total penduduk, sedangkan target nasional mencapai 46 persen,” kata Aris.
Meski belum mencakup seluruh penduduk, hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan menunjukkan faktor risiko PTM cukup tinggi.
“Hasil skrining yang sudah dilakukan menunjukkan masih tingginya faktor risiko penyakit tidak menular di masyarakat,” ungkapnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah tekanan darah. Dari 124.137 warga berusia lebih dari 18 tahun yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 74 persen tercatat memiliki tekanan darah normal.
“Namun, 11,3 persen masuk kategori prehipertensi dan sekitar 8 persen sudah mengalami peningkatan tekanan darah mulai hipertensi derajat satu hingga derajat tiga,” jelas Aris.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena hipertensi kerap datang tanpa gejala yang jelas. Bahkan sering disebut silent killer karena dapat berkembang tanpa keluhan.
"Berisiko memicu stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga gangguan penglihatan.,” terangnya.
Tak hanya tekanan darah, kondisi berat badan warga juga menjadi sorotan. Dari 123.837 orang yang menjalani pemeriksaan indeks massa tubuh (IMT), hanya 39,19 persen yang berada pada kategori gizi normal.
“Sebanyak 28 persen mengalami overweight, 29 persen obesitas, sedangkan 3,3 persen masuk kategori gizi kurang,” paparnya.
Masalah tersebut diperkuat hasil pemeriksaan lingkar perut. Dari 124.805 warga yang diperiksa, sekitar 34 persen mengalami obesitas sentral.
“Obesitas sentral merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik,” kata Aris.
Sementara itu, pemeriksaan gula darah juga menemukan adanya warga dengan indikasi gangguan kadar gula.
“Dari 133.797 warga yang masuk data skrining, sebanyak 69.484 orang atau 51,9 persen telah menjalani pemeriksaan gula darah,” jelasnya.
Dari warga yang diperiksa tersebut, mayoritas masih berada pada kadar gula normal.
“Sebanyak 91 persen memiliki kadar gula dsarah normal, 5,9 persen berada pada fase prediabetes, sedangkan sisanya masuk kategori hiperglikemia,” ungkap Aris.
Dinkes mengingatkan angka tersebut belum bisa dijadikan gambaran mutlak kondisi seluruh masyarakat Tulungagung karena cakupan skrining masih terbatas. “Angka ini tidak bisa langsung disimpulkan sebagai gambaran seluruh masyarakat, tetapi menjadi sinyal penting untuk meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya.
Menurut Aris, persoalan utama bukan sekadar mengejar angka pemeriksaan, melainkan memastikan faktor risiko yang ditemukan segera dikendalikan.
“Yang harus dilihat bukan semata-mata besarnya angka, tetapi bagaimana kita mengelola faktor risiko agar tubuh tetap sehat dan angka harapan hidup meningkat,” ujarnya.
Karena itu, dinkes menyiapkan dua langkah utama. Warga yang sudah terdeteksi memiliki faktor risiko didorong segera mendapatkan penanganan dan tidak putus berobat.
“Mereka yang sudah memiliki faktor risiko harus mendapatkan penanganan dan pengobatan agar tidak berkembang menjadi komplikasi,” katanya.
Langkah berikutnya adalah memperkuat upaya promotif dan preventif. Edukasi mengenai pola hidup sehat, faktor risiko, serta pentingnya deteksi dini terus didorong melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
“Pencegahan harus diperkuat agar masyarakat memahami risiko hipertensi dan diabetes sejak awal,” jelasnya.
Aris menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci. Jangan sampai fasilitas kesehatan baru didatangi ketika penyakit sudah menimbulkan keluhan.
“Harapan kami, masyarakat datang ke fasilitas kesehatan bukan saat sudah sakit, tetapi sebelum sakit,” pungkasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri