JAKARTA - Kecanduan sabu bukan sekadar persoalan sulit menghentikan kebiasaan menggunakan narkoba. Sabu-sabu dapat membuat otak terbiasa menerima lonjakan hormon yang menimbulkan rasa senang secara instan.
Kecanduan sabu juga membuat pengguna mengalami perubahan fisik dan perilaku. Mereka dapat menjadi sulit fokus, lebih suka menyendiri, mudah emosional, hingga mengalami gangguan kecemasan dan depresi ketika tidak lagi mengonsumsi narkoba.
Fenomena kecanduan sabu menjadi persoalan serius karena narkoba tidak hanya berdampak kepada pengguna. Penyalahgunaan narkoba juga dapat menghancurkan hubungan keluarga dan masa depan seseorang. Lantas, mengapa sabu bisa membuat penggunanya begitu sulit berhenti?
Sabu Membuat Otak Kebanjiran Hormon Bahagia
Sabu-sabu merupakan salah satu jenis narkoba yang dikenal dapat memberikan efek meningkatkan energi. Pengguna bisa merasa sangat bersemangat, percaya diri, dan mengalami rasa senang secara cepat.
Efek tersebut dapat terasa sejak penggunaan pertama. Napas menjadi lebih cepat, tubuh gemetar, serta jantung berdebar. Pengguna juga dapat merasakan semangat yang menggebu-gebu.
Sensasi tersebut berkaitan dengan hormon yang menimbulkan rasa senang, rileks, dan nyaman. Dalam kondisi normal, hormon tersebut dapat muncul melalui berbagai aktivitas sehari-hari.
Namun, sabu membuat otak mengalami kondisi seperti kebanjiran hormon tersebut. Sensasi bahagia yang muncul secara instan akhirnya menjadi sesuatu yang ingin kembali dirasakan oleh pengguna.
Masalah muncul ketika efeknya mereda. Otak yang sudah terbiasa menerima lonjakan tersebut dapat kesulitan kembali ke kondisi normal. Pengguna kemudian bisa merasakan kecemasan berlebihan, kesedihan, bahkan depresi.
Kondisi itu membuat kehidupan terasa hambar dan tidak memuaskan. Akhirnya, pengguna terdorong kembali memakai sabu untuk mendapatkan sensasi menyenangkan yang sebelumnya dirasakan.
Penggunaan Berulang Membuat Ketergantungan
Semakin sering sabu digunakan, otak semakin terbiasa menjadikan narkoba sebagai sumber kebahagiaan. Ketergantungan pun dapat terbentuk.
Dalam kondisi yang semakin parah, pengguna membutuhkan lebih banyak sabu untuk mendapatkan efek yang sama. Tubuh dan otak perlahan menjadi kebal terhadap efek sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat kecanduan sabu menjadi semakin sulit dihentikan. Penggunaan narkoba yang terus berulang bahkan dapat membawa risiko serius bagi keselamatan pengguna.
Tanda kecanduan juga dapat terlihat dari perubahan perilaku. Pengguna bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi, lebih sering menyendiri, dan mudah tersulut emosi.
Ketika mencoba berhenti, persoalan tidak otomatis selesai. Pengguna yang sudah mengalami ketergantungan berat dapat merasakan berbagai gejala, seperti pusing dan menurunnya kemampuan berpikir.
Selain itu, kecemasan berlebihan, depresi, hingga halusinasi juga dapat muncul. Kondisi tersebut membuat proses berhenti menggunakan sabu menjadi tantangan besar.
Rehabilitasi Membantu Pecandu Berhenti
Meski sulit, kecanduan sabu bukan berarti tidak dapat dihentikan. Dukungan dan bantuan yang tepat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Baca Juga: Refleksi Kemerdekaan RI Ke-81
Salah satu contoh dalam transkrip menunjukkan seorang pemuda yang sempat ditangkap polisi karena menggunakan sabu. Setelah masuk pusat rehabilitasi, ia mendapatkan pendampingan dan konseling hingga akhirnya mampu berhenti.
Di Indonesia, pecandu yang melaporkan dirinya dapat memperoleh rehabilitasi secara gratis. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan masalah narkoba tidak hanya berkaitan dengan hukuman, tetapi juga pemulihan pengguna.
Berbeda dengan pecandu, pengedar narkoba menghadapi konsekuensi hukum. Dalam transkrip juga disebutkan adanya kasus seseorang yang membangun pabrik sabu dari dalam penjara.
Narkoba Berkaitan dengan Banyak Persoalan
Masalah narkoba tidak berdiri sendiri. Persoalan tersebut berkaitan dengan berbagai faktor lain, termasuk kemiskinan dan pendidikan.
Penanganan narkoba karena itu membutuhkan perhatian yang lebih luas. Persoalannya bukan hanya mengenai jumlah kasus atau orang yang menggunakan narkoba.
Di balik penyalahgunaan narkoba, terdapat keluarga yang kehilangan anggota keluarga, anak yang kehilangan orang tua, serta orang tua yang kehilangan anak.
Karena itu, upaya mencegah kecanduan narkoba membutuhkan kepedulian bersama. Edukasi, dukungan keluarga, rehabilitasi, dan lingkungan yang peduli menjadi bagian penting untuk membantu seseorang keluar dari ketergantungan.
Editor : Maylanni Diana Fitri