JAKARTA - Sakau akibat narkoba atau drug withdrawal syndrome merupakan kondisi serius yang dapat dialami seseorang setelah menghentikan atau mengurangi penggunaan zat adiktif. Gejalanya bisa berupa gemetar, keringat berlebihan, kecemasan, mual, muntah, hingga kejang.
Sakau akibat narkoba terjadi karena tubuh dan otak sudah terbiasa dengan keberadaan zat tertentu. Ketika konsumsi dihentikan secara tiba-tiba, sistem tubuh harus kembali menyesuaikan diri tanpa pengaruh zat tersebut.
Dokter spesialis kedokteran jiwa RS UI, Dr. Jubilate Edward Irwanto Tambun, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan kuatnya ketergantungan zat adiktif terhadap tubuh dan pikiran. Gejala sakau dapat mengganggu aktivitas sosial, pekerjaan, hingga kehidupan sehari-hari.
Mengapa Sakau Bisa Terjadi?
Sakau akibat narkoba muncul setelah seseorang mengalami ketergantungan fisik dan psikologis karena penggunaan zat secara berulang dan berkepanjangan.
Baca Juga: Wali Murid Soroti Rasa dan Kualitas Makanan dalam Pelaksanaan MBG
Zat adiktif seperti opioid, kokain, dan alkohol dapat memengaruhi sistem kimia otak. Zat tersebut turut memengaruhi neurotransmiter yang berhubungan dengan suasana hati, rasa nyeri, serta berbagai sensasi dalam tubuh.
Ketika penggunaan narkoba dihentikan atau dikurangi, keseimbangan yang sebelumnya terbentuk ikut berubah. Otak dan tubuh kemudian bereaksi karena harus beradaptasi kembali dengan kondisi tanpa zat adiktif.
Reaksi tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala yang dikenal sebagai sakau atau withdrawal syndrome. Tingkat keparahannya berbeda-beda pada setiap orang.
Jenis zat yang digunakan, tingkat ketergantungan, durasi penggunaan, frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan seseorang dapat memengaruhi gejala yang muncul.
Gejala Sakau Bisa Beragam
Secara umum, sakau dapat menyebabkan tremor atau tubuh gemetar. Gejala lain yang dapat muncul antara lain keringat berlebihan, kecemasan, depresi, mual, muntah, diare, nyeri otot, dan sulit tidur.
Baca Juga: Harga Kambing Lampung Timur Terbaru di Pasar Simpang Sriwono, Ada Jantan Rp550 Ribu
Pada kondisi tertentu, seseorang juga dapat mengalami kejang hingga halusinasi. Gejala berat tersebut membutuhkan perhatian medis karena dapat membahayakan keselamatan penderita.
Sakau tidak hanya menimbulkan gangguan fisik. Kondisi psikologis juga dapat terganggu. Kecemasan, depresi, kegelisahan, dan keinginan kuat untuk kembali menggunakan narkoba dapat muncul selama proses penghentian.
Sakau Memiliki Beberapa Tahapan
Proses withdrawal umumnya berlangsung melalui beberapa fase. Pada fase awal, gejala dapat mulai muncul beberapa jam setelah penggunaan zat dihentikan.
Penderita dapat merasa cemas, gelisah, dan mengalami keringat berlebihan. Fase awal tersebut dapat berlangsung selama beberapa jam hingga sekitar satu hari, tergantung kondisi individu dan jenis zat yang digunakan.
Berikutnya adalah fase puncak. Pada tahap ini, gejala fisik dan emosional dapat mencapai intensitas tertinggi. Nyeri, muntah, kejang, dan gangguan detak jantung dapat terjadi pada kondisi tertentu.
Fase puncak dapat berlangsung selama beberapa hari. Setelah itu, penderita memasuki fase pemulihan ketika gejala mulai mereda.
Namun, proses tersebut belum tentu langsung selesai. Kelelahan, depresi, dan keinginan kuat untuk kembali menggunakan narkoba masih dapat dirasakan. Kondisi ini bahkan dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Penanganan Membutuhkan Pengawasan Medis
Diagnosis drug withdrawal syndrome dilakukan melalui pemeriksaan medis secara menyeluruh. Dokter akan menanyakan riwayat penggunaan zat, termasuk jenis narkoba, lama penggunaan, frekuensi konsumsi, dan kapan terakhir digunakan.
Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk melihat tanda-tanda sakau. Beberapa di antaranya tekanan darah tinggi, detak jantung tidak normal, pupil melebar, atau gejala neurologis.
Dokter juga dapat menggunakan pemeriksaan darah atau urine untuk mendeteksi zat tertentu dan mengetahui kondisi organ yang mungkin terdampak. Pemeriksaan psikologis dilakukan untuk menilai tingkat ketergantungan serta kondisi seperti kecemasan dan depresi.
Dalam kasus tertentu, tenaga medis dapat menggunakan skala penilaian khusus, seperti Clinical Opioid Withdrawal Scale untuk opioid atau skala alcohol withdrawal untuk menilai gejala akibat alkohol.
Penanganan sakau membutuhkan pendekatan terstruktur. Detoksifikasi medis dapat menjadi langkah awal dengan pengawasan tenaga kesehatan untuk mengendalikan gejala berat.
Terapi obat juga dapat diberikan sesuai kondisi pasien. Selain itu, dukungan psikologis seperti terapi perilaku kognitif atau CBT membantu pasien mengenali pola pikir dan situasi yang dapat memicu keinginan menggunakan narkoba.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga memiliki peran penting. Lingkungan yang sehat dapat membantu mencegah kekambuhan dan memberikan motivasi selama proses pemulihan.
Jika seseorang mengalami gejala sakau atau memiliki ketergantungan zat adiktif, bantuan profesional perlu segera dicari. Penanganan medis, dukungan psikologis, keluarga, dan lingkungan dapat membantu meningkatkan peluang pemulihan.
Editor : Maylanni Diana Fitri