JAKARTA - Narkoba tidak hanya menimbulkan ketergantungan, tetapi juga dapat memicu gangguan mental. Zat adiktif yang masuk ke otak dapat mengganggu fungsi kognitif, emosi, hingga sistem penghargaan yang berperan dalam munculnya rasa senang.
Dampak narkoba terhadap kesehatan mental dapat berkembang secara bertahap. Pengguna bisa mengalami gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat, perubahan emosi, kecemasan, hingga gangguan tidur.
Dokter spesialis kedokteran jiwa di Rumah Sakit Hermina menjelaskan, narkoba dapat memengaruhi otak melalui beberapa mekanisme. Salah satunya karena sifat neurotoksik dari zat narkoba yang masuk ke dalam sistem saraf pusat.
Narkoba Bisa Mengganggu Fungsi Otak
Ketika dikonsumsi, zat narkoba masuk ke dalam tubuh dan kemudian mencapai otak. Kandungan tertentu di dalam narkoba dapat memberikan efek neurotoksik yang berpotensi mengganggu fungsi otak.
Baca Juga: Harga Kambing Trenggalek Terbaru 10 Agustus 2026, Betina Mulai Rp550 Ribu, Jantan Rp3,25 Juta
Gangguan tersebut dapat memengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Beberapa fungsi yang dapat terdampak antara lain kemampuan berpikir, daya ingat, konsentrasi, dan pengaturan emosi.
Perubahan pada fungsi otak tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Pengguna dapat mengalami kesulitan mempertahankan fokus atau mengendalikan respons emosional.
Selain memberikan dampak langsung pada otak, narkoba juga dapat mengganggu sistem reward atau sistem penghargaan di dalam otak.
Sistem tersebut berperan dalam memberikan rasa puas, bahagia, dan senang. Salah satu zat kimia yang terlibat dalam mekanisme tersebut adalah neurotransmiter dopamin.
Sistem Reward Otak Dibajak Narkoba
Narkoba dapat membuat dopamin dilepaskan secara cepat dan dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat pengguna merasakan kebahagiaan dan kepuasan secara instan.
Baca Juga: Harga Domba Tulungagung 10 Agustus 2026: Indukan hingga Pejantan, Mulai Rp850 Ribu
Masalahnya, efek tersebut juga dapat turun dengan cepat. Ketika efek narkoba menghilang, pengguna dapat merasakan kondisi yang tidak menyenangkan.
Pengalaman tersebut dapat mendorong seseorang untuk kembali menggunakan narkoba. Penggunaan berulang kemudian dapat memunculkan craving, yakni keinginan kuat untuk mendapatkan atau menggunakan zat tersebut kembali.
Pada tahap berikutnya, seseorang dapat mengalami kecanduan. Pikiran pengguna mulai banyak berpusat pada narkoba, mulai dari mencari zat tersebut hingga berusaha mempertahankan efek yang dirasakan.
Kondisi ini dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Dalam jangka panjang, gangguan mental dapat muncul atau menjadi semakin berat.
Depresi Bisa Muncul pada Pengguna Narkoba
Salah satu gangguan mental yang dapat berkaitan dengan penggunaan narkoba adalah depresi. Kondisi tersebut ditandai dengan suasana perasaan yang menurun.
Seseorang dapat merasa sedih, kehilangan semangat, tidak bergairah, dan lebih mudah mengalami kelelahan. Gejala yang muncul dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa semakin berat.
Gangguan kecemasan juga dapat terjadi. Pengguna narkoba dapat mengalami pikiran negatif yang berlebihan, baik terhadap orang lain, lingkungan sekitar, maupun dirinya sendiri.
Pada orang yang sebelumnya sudah memiliki kecenderungan cemas, penggunaan narkoba justru dapat memperburuk kondisi. Narkoba yang awalnya dianggap dapat memberikan rasa tenang malah dapat meningkatkan kecemasan.
Pengguna kemudian dapat merasa takut atau gelisah tanpa alasan yang jelas. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu hubungan sosial dan aktivitas sehari-hari.
Ide Paranoid dan Gangguan Tidur
Dampak narkoba terhadap kesehatan mental juga dapat berupa munculnya ide-ide paranoid. Pengguna dapat memiliki rasa takut berlebihan terhadap lingkungan di sekitarnya.
Misalnya, muncul kekhawatiran akan dikucilkan, dijebak, atau dinilai negatif oleh orang lain. Pikiran tersebut dapat membuat pengguna semakin sulit merasa aman.
Selain kecemasan dan paranoia, gangguan tidur juga dapat muncul. Sebagian pengguna mungkin mengonsumsi narkoba dengan harapan dapat membantu mereka tidur atau merasa lebih tenang.
Namun, penggunaan dalam jangka panjang justru dapat mengganggu pola tidur. Ketergantungan yang semakin berat dapat membuat seseorang mengalami kesulitan tidur.
Gangguan tidur kemudian dapat memperburuk kondisi mental. Kurangnya tidur dapat membuat seseorang semakin sulit mengendalikan emosi dan menjalani aktivitas secara normal.
Karena itu, penggunaan narkoba bukan solusi untuk mengatasi masalah tidur, kecemasan, atau tekanan psikologis. Justru, penggunaan zat adiktif dapat memperburuk masalah yang sebelumnya sudah ada.
Dampak narkoba terhadap otak dan kesehatan mental juga menunjukkan bahwa kecanduan bukan sekadar persoalan kebiasaan. Perubahan pada sistem otak dapat membuat seseorang semakin sulit mengendalikan keinginan menggunakan narkoba.
Penanganan karena itu membutuhkan bantuan profesional. Evaluasi kondisi fisik dan mental diperlukan untuk menentukan langkah pemulihan yang sesuai, terutama ketika sudah muncul gejala depresi, kecemasan, paranoia, atau gangguan tidur.
Editor : Maylanni Diana Fitri